Rektor Institut Attanwir : Format Debat Pilkada Bojonegoro Sudah Tepat

Debat pilkada bojonegoro.
Rektor Institut Attanwir Bojonegoro, Moch. Bakhtiar, M.Pd.

SuaraBanyuurip.com – d suko nugroho

Bojonegoro – Rektor Institut Attanwir Bojonegoro, Moch. Bakhtiar, M.Pd menilai format debat publik pilkada yang ditawarkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Bojonegoro sangat mendidik, karena menghilangkan stigma negatif memilih kucing dalam karung.

“Saya kira format yang dipakai ini sudah tepat, dan KPU mestinya menjalankan kesepakatan yang sudah disepakati bersama,” tegas Bakhtiar kepada suarabanyuurip.com, Kamis (24/10/2024).

Berdasarkan berita acara (BA) hasil rapat koordinasi No. 312/PL.02.04-BA/3522/2024 tanggal 24 September 2024, format debat publik telah disepakati dan ditandatangi bersama. Yaitu oleh Komisioner KPU Bojonegoro, Bawaslu, dan nara hubung (LO) masing-masing paslon.

Format debat publik pertama mepertemukan antar calon wakil bupati (Cawabup), Sabtu 19 Oktober 2024; debat publik kedua antar calon bupati (Cabup) dilaksanakan, Jumat 1 November 2024; dan debat Publik ketiga paslon dilaksanakan, Rabu 13 November 2024.

“Bojonegoro ini berbeda dengan kabupaten lain. Kabupaten Bojonegoro sangat kaya. Sehingga masyarakat harus tahu detail visi misi yang ditawarkan oleh calon,” tegas akademisi yang masuk menjadi Kandidat Doktor IAIN kediri ini.

Selain itu, masyarakat Bojonegoro harus tahu detail calon pemimpinnya, baik bupati maupun wakilnya. Karena itu, dirinya sangat setuju dengan format debat publik yang telah ditandatangani berbagai pihak yang berkepentingan.

Baca Juga :   Gus dan Kiai di Bojonegoro Sepakat Mendukung Setyo Wahono di Pilkada 2024

“Saya kira format debat tersebut sangat mengedukasi masyarakat. Dari situ masyarakat Bojonegoro bisa mengetahui apakah calon bupati dan wakilnya itu kapabel atau tidak,” tandasnya.

Menurut Bakhtiar, gagalnya debat publik pertama antarcawabup pada Sabtu 19 Oktober 2024 lalu itu, disebabkan tidak tegasnya KPU Bojonegoro dalam melaksanakan keputusan yang sudah disepakati bersama.

“KPU seharusnya tidak terpancing untuk menghentikan debat kemarin. Mereka mestinya tetap menjalankan kesepakatan yang sudah disepakati bersama. KPU kan punya petugas keamanan, dan kalau memang ada gugagatan kan ada mekanisme, tapi debat tetap harus berjalan,” jelasnya.

Bakhtiar menyarankan KPU Bojonegoro tetap melaksanakan debat sesi pertama antarcawabup. Sebab debat tersebut belum sempat terlaksana.

“KPU harus profesional. Jalankan kesepakatan debat yang sudah disepakati bersama sebelumnya,” pungkas Bakhtiar.

Ketua KPU Jawa Timur Aang Kunaifi sebelumnya menegaskan, format debat yang digunakan KPU Bojonegoro sudah sesuai aturan dan tidak menyalahi Peraturan KPU No 13 Tahun 2024.

Selain itu, lanjut Aang, format debat kemarin sudah disepakati masing-masing paslon dan dituangkan di Berita Acara (BA) KPU Bojonegoro Nomor 312/PL.02.04-BA/3522/2024 yang telah ditandatangani seluruh pihak pada 24 September lalu.

Baca Juga :   Hadiri Acara Temu Relawan, Wahono - Nurul Disambut Histeris Ribuan Pendukung 

“Sebetulnya di dalam PKPU tidak ada aturan debat secara spesifik. Namun, maksimal KPU memfasilitasi debat sebanyak tiga kali, yakni 19 Oktober, 1 November, 13 November atau sebelum pemungutan suara 27 November,” kata Aang.

Seperti diberitakan sebelumnya, debat publik pertama Pilkada Bojonegoro antarcawabup terpaksa dihentikan KPU. Penyebabnya, Cawabup 01 Farida Hidayati membuat kericuhan. Ia tidak mentaati aturan dan tata tertib debat.

Cawabup 01 Farida Hidayati memaksa mengajak pasangannya, Cabup Teguh Haryono naik ke podium saat waktu pembacaan visi misi. Padahal saat itu debat diperuntukkan untuk cawabup.

Pembawa acara sudah berulang kali meminta kepada Cabup 01 Teguh Hariono untuk turun dari panggung, namun tidak dihiraukan. KPU Bojonegoro akhirnya memutuskan menghentikan debat.(suko)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait