Suarabanyuurip.com – Arifin Jauhari
Bojonegoro — Pasangan Calon (Paslon) Bupati dan Wakil Bupati (Wabup) Nomor Urut 02, Setyo Wahono dan Nurul Azizah tampil memukau dan mengesankan dalam debat publik antar paslon yang difasilitasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Sabtu (13/11/2024) malam.
Terbukti pasangan Wahono-Nurul telak membabat habis setiap argumentasi maupun pertanyaan yang dilontarkan oleh Paslon 01 Teguh Haryono-Farida Hidayati. Ini terjadi dalam debat sejak sub tema pertama.
Dalam sub tema pertama tentang “Program yang Mengintegrasikan Pembangunan Infrastruktur Berkelanjutan dan Ramah Lingkungan”, Cawabup Farida menanggapi uraian Paslon 2.
Farida menyatakan bahwa Paslon 01 memiliki program akan melakukan tanam pohon keras melibatkan calon pengantin. Tak berhenti di sini, ia menyentil Paslon 02, akan menyetujui program dia, dengan kalimat terbata-bata dan nafas yang terkesan gugup terdengar keras dalam speaker.
Tanggapan Farida itu dilumat habis oleh Cawabup Paslon 02 Nurul Azizah. Ia telah mengutarakan sebelumnya, bahwa program Paslon 2 melibatkan seluruh masyarakat, untuk terwujudnya Ruang Terbuka Hijau (RTH).
“Saya kira Bu Farida tadi mengatakan, calon pengantin untuk menanam, kami tadi sudah menyebutkan, bahwa pelibatan peran serta masyarakat, sehingga (pelibatan) masyarakat itu (artinya) banyak,” ujar mantan Sekda Bojonegoro.
Maka, lanjut perempuan santun asal Desa Sumbertlaseh ini, nantinya akan ada tanam pohon untuk RTH terdiri dari RTH publik dan RTH bersifat privat. Selain penanaman pohon, Nurul Azizah juga menyinggung penambahan biopori untuk cadangan air dalam tanah.
Beralih pada sub tema membahas tentang pengelolaan sampah, Farida Hidayati memaparkan pengeloaan sampah lewat bank sampah dengan pelibatan ibu rumah tangga. Uraian ini ditanggapi oleh Nurul Azizah dengan percaya diri.
Sebab, Nurul Azizah pernah menjabat Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan atau DKP (kini Dinas Lingkungan Hidup) yang mencetuskan inovasi tentang pengelolaan sampah dan mendapat penghargaan bergengsi pada tahun 2016 silam. DKP mendapat penghargaan atas “Inovasi Kelola Sampah Menjadi Berkah”.
“Kebetulan tentang pengelolaan sampah, kami pernah mendapat penghargaan sinovic top 35 inovasi se-Indonesia, jadi tarkait pengelolaan sampah ini bukan hanya bank sampah, tetapi bagaimana sampah rumah tangga ini harus terjaga jangan sampai seluruh sampah masuk ke TPA,” terang Nurul Azizah membungkam pertanyaan Farida.
Nurul melanjutkan, harus ada pemilahan sampah sejak dari rumah tangga. Ini merupakan miniatur TPA (Tempat Pemrosesan Akhir). Sehingga sampah bisa bermanfaat menjadi kompos, dan bisa terjadi pendaurulangan sampah yang sistematis untuk produksi gas metan sebagai pengganti LPG.
“Serta pembuatan bahan bakar dari sampah plastik,” tegas Nurul.
Berikutnya pada sub tema tentang pemerintahan berbasis digital, Teguh Haryono memaparkan tentang pentingnya sosialiasi perihal sistem digital yang dibuat dengan sebaik-baiknya. Serta tetap diperlukan pengawasan, oleh karena itu perlu aduan masyarakat dan perampingan sistem.
Wahono menanggapi dengan mantab. Ia menyampaikan tentang penguatan infrastruktur digital, sehingga dipastikan masyarakat mendapat layanan internet memadai. Ke dua, pelatihan dan pengembangan SDM terkait dalam pengoperasian internet di lingkungan birokrasi, serta pelatihan bagi masyarakat agar bisa mengakses informasi. Serta inovasi, merupakan bagian terpenting dari program digitalisasi.
Sementara Nurul Azizah, menghantam pernyataan Teguh Haryono perihal pentingnya sosialisasi dalam digitalisasi, karena ada hal yang lebih penting dari itu.
“Kalau Mas Teguh tadi menyampaikan pentingnya sosialisasi dan pengawasan, padahal ada yang lebih penting, yakni update data yang masuk di dalam aplikasi, karena begitu tidak terupdate, maka data tidak bisa terakses, dan masyarakat tidak mengetahui perkembangan dan data secara valid,” ujar Nurul tanpa respon balik.
Kemudian debat publik berpindah pada subtema peningkatan kesejahteraan hidup melalui pengelolaan limbah dan air bersih. Wahono-Nurul tegas memiliki gagasan memperbaiki kualitas air dan menjaganya. Bahkan menawarkan inovasi baru tentang urusan air bersih yang sama sekali tidak dimiliki Teguh-Farida.
“Kami menciptakan inovasi dengan akan membangun fasilitas air siap minum di fasilitas umum dan sekolah, ini program lingkungan Paslon 02,” seru Nurul Azizah.
Tanggapan dari Teguh Haryono soal ini ialah menanyakan perihal PDAM yang belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat. Namun, lagi-lagi Teguh harus menelan jawaban bagus yang dilontarkan oleh Paslon 02.
Wahono menawarkan adanya pengelolaan air PDAM dari Bengawan Solo. Ini dikuati oleh Nurul Azizah bahwa Bendungan Gongseng dan Karangnongko adalah jawaban untuk pemenuhan air bersih, karena sampai sekarang ini PDAM Bojonegoro belum memenuhi target sambungan rumah (SR).
Masuk pada segmen debat terbuka Farida Hidayati berupaya membawa slogan utama era rezim lama yaitu “Ngelenyer”. Namun upaya Farida dipatahkan oleh Wahono hanya dalam beberapa detik.
“Menurut Paslon 2, bagaimana penilaian anda terkait Bojonegoro ngelenyer?” tanya Farida.
“Pemimpin siapapun hari ini yang ada di Bojonegoro mampu melakukan pembangunan jalan, karena apa, kita ketahui APBD Bojonegoro yang sangat tinggi, tapi pembangunan jalan belum berdampak pada pengurangan kemiskinan,” beber Wahono.
“Saya kira apa yang disampaikan Bu Farida, bahwa infrastruktur saat ini naik 72 persen, kenapa naik? karena dalam 5 tahun, anggaran untuk membangun infrastruktur adalah Rp10 triliun. Maka sudah sangat wajar, ketika ada duit maka ada program, karena infrastruktur ini terbangun karena ada uang,” tandas mantan camat teladan se Jawa Timur itu.(fin)





