SuaraBanyuurip.com – Joko Kuncoro
Bojonegoro – Asosiasi untuk Demokrasi dan Kesejahteraan Sosial (Ademos) Indonesia menggelar desiminasi dan serah terima program desa tangguh bencana (destana) inklusif di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Tercatat ada dua desa yakni Desa Sukoharjo dan Desa Kayen Kabupaten Pacitan yang menjadi contoh Destana inklusif.
Ketua Ademos, A Shodiqurrosyad mengatakan, pada tahun 2024 ini Ademos telah melaksanakan program memperkuat desa dalam membangun ketangguhan bencana yang inklusif di Kabupaten Pacitan, di dua desa yang akan menjadi pemodelan destana inklusif.
“Peran forum pengurangan risiko bencana desa (FPRB Desa) penting untuk peningkatan kapasitas pengelolaan risiko bencana, pelatihan fasilitator destana inklusi,” katanya kepada Suarabanyuurip.com melalui surat elektronik, Jumat (20/12/2024).
Dia mengatakan, melalui program ini, Ademos juga telah memberikan pendampingan kepada FPRB Desa untuk mendorong Pemerintah Desa membuat kebijakan kebencanaan.
“Hasilnya pada bulan Oktober 2024, kedua desa telah mengesahkan Peraturan Desa tentang Pengurangan Risiko Bencana yang Inklusif,” kata Asryad.
Program and Policy Officer SIAP SIAGA Jawa Timur, Mambaus Su’ud, mengatakan, bahwa upaya yang dilakukan Ademos ini merupakan bagian dari penguatan kesiapsiagaan bencana melalui permodelan destana inklusif. Dari program ini dapat direplikasi oleh desa yang lain secara mandiri melalui pengganggaran desa.
“Upaya yang dilakukan Ademos dapat menjadi modal yang baik bagi desa. Kami juga telah mengukur tingkat keberhasilan program yang dilakukan melalui penilaian ketangguhan desa (PKD) pada minggu kedua Desember 2024,” katanya.
Hasilnya skor akhir destana inklusif Desa Kayen dan Sukoharjo, masing-masing secara berurutan 71,9 dan 75,8 atau berada pada level tangguh madya. Kondisi sebelum dilakukan intervensi program, skor PKD kedua desa adalah 29,7 untuk desa Kayen dan 24,5 untuk Desa Sukoharjo.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Pacitan, Khemal Pandu Pratikna mengatakan, Pacitan memiliki tingkat kerawanan bencana yang cukup tinggi. Sehingga untuk menghadapi kejadian bencana semua memiliki tanggung jawab untuk membangun ketangguhan masyarakat.
“Agar nantinya dapat mengurangi dampak bencana dan meningkatkan kapasitas dalam menghadapi berbagai tantangan kebencanaan yang ada,” katanya.(jk)





