SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari
Bojonegoro — Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PU SDA) Kabupaten Bojonegoro, memberikan klarifikasi atas ambruknya pelindung sungai di Kali Lebak, turut Desa Lebaksari, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Kepala Dinas PU SDA, Heri Widodo melalui Kepala Bidang (Kabid) Sumber Daya Air (SDA), Iwan Kristian mengatakan, bahwa pekerjaan pelindung tebing Kali Lebak telah selesai 100 persen dan tidak ada masalah. Pekerjaan ini rampung pada akhir Desember 2024 lalu.
“Kemudian pada awal Januari 2025 ada banjir yang cukup besar karena hujan deras ketika itu, banjir saat ini di Bengawan Solo itu kan naiknya cepat, turunnya juga cepat, mengakibatkan beberapa titik sliding (geser),” kata Iwan Kristian kepada Suarabanyuurip.com, Sabtu (08/02/2025) malam.
Terkait kondisi itu, pihaknya telah berupaya melakukan pengendalian. Namun setelah itu, banjir besar kembali terjadi hingga sebanyak tiga kali kejadian.
Pada pengendalian kali ke dua, ia melakukan eksekusi supaya tidak terjadi slide lagi. Ini dapat terlihat dari bekas bronjong yang hilang karena telah diambil, guna mencegah longsor berulang.
Dijelaskan, pada bagian atas titik ambrolnya pelindung, merupakan lahan persawahan yang berada dalam kondisi jenuh air. Ketika Bengawan Solo surut tiba-tiba, pada pelindung tebing terisi air dari bagian atas yang mendorong bangunan.
“Akhirnya terjadi sliding lagi, sudah kita benahi, kita sudah berusaha saat itu, dan kami juga sudah siapkan Excavator, ada 2 unit di situ untuk mengatasi, karena ada masa pemeliharaan selama 1 tahun, jadi masih aman,” jelasnya.
Disinggung perihal pengendalian ke depan, Iwan Kris, begitu ia disapa, telah berusaha mengontak tim perencanaan, pengawas, dan juga tenaga ahli dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.
“Ini supaya di beberapa sektor kecil pelindung tebing itu tidak longsor kembali,” imbuhnya.
“Hari ini juga sudah diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan insyaallah bisa diterima, karena bukti pekerjaan mulai 0 sampai 100 persen sudah ada, terus terjadi banjir itu,” lanjut Iwan Kris.
Berkenaan langkah-langkah yang telah diambil, selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Iwan mengaku telah membuat justifikasi teknis. Selain itu pihaknya pun melakukan komunikasi dengan pihak pabrikan tiang pancang. Sehingga untuk melakukan pemancangan kembali, dukungannya sudah ada, termasuk alat berat.
“Begitu juga hammer untuk tiang pancang, dukungannya sudah lengkap, jadi sudah tinggal eksekusi. Tinggal nunggu izin dari warga, karena mereka nunggu panen, lagipula masih musim penghujan,” bebernya.
Tak hanya itu, Iwan menyebut telah ada surat pernyataan dari rekanan atau kontraktor. Surat kesanggupan perbaikan ini diketahui oleh semua pihak, meliputi pengawas, PPK, dan Pengguna Anggaran (PA/Kadin PU SDA). Ini bukti adanya tanggung jawab dari rekanan.
Meskipun batasan pemeliharaan berlaku hingga satu tahun, tetapi pihaknya meminta agar rekanan dapat selesai dalam waktu 150 hari dalam pelaksanaan perbaikan pelindung tebing sungai. Maka jika nantinya ada sliding (longsor) lagi pihaknya memastikan ada pasti perbaikan. Tetapi tetap memperhatikan situasi kondisi yang memungkinkan pelaksanaan.
Maksud bangunan itu sendiri didirikan, kata Iwan, agar dapat melindungi tebing supaya aman dari korosi. Sehingga tanah warga aman tidak tergerus. Khusus hal ini, ia sempat menyinggung adanya penambangan pasir, dari wilayah Tuban yang melakukan aktifitas yang turut berpengaruh.
“Jadi kami sudah berusaha melakukan eksekusi, tetapi kondisi tanah belum bisa digunakan untuk menahan alat berat, karena kami sewa lahan sawah warga, la dulu kan pernah kami sewa untuk bantaran alat berat,” tandasnya.
Diwartakan sebelumnya, tembok pelindung tebing sungai di Kali Lebak Bojonegoro ambles sepanjang ratusan meter. Pembangunan proyek berlokasi turut Desa Lebaksari dan Desa Tanggungan, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur itu menelan biaya Rp40 miliar.
Saksi mata di Desa Lebaksari, inisial NA menyebutkan, tembok pelindung tebing sungai itu ambles diduga akibat fluktuasi debit air sungai. Ini terjadi pada akhir Desember 2024 atau sekitar dua bulan lalu. Satuan kerja proyek ini ialah Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PUSDA) Kabupaten Bojonegoro.
“Sebagian sawah warga juga ikut terbawa ambles,” ungkapnya.
Tak hanya di Lebaksari, warga di Desa Tanggungan, inisial FR menyebutkan, amblesnya tembok penahan tebing terjadi pula di Desa Tanggungan. Bahkan di desanya ini kondisinya lebih parah jika dibandingkan dengan kondisi di Desa Lebaksari.
“Mulai ambles sepanjang 200 meter di Desa Tanggungan, sedangkan di Desa Lebaksari sepanjang 70 meter,” bebernya.(fin)





