SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari
Bojonegoro — Kenaikan harga terjadi pada sejumlah bahan pokok pangan di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Berkenaan hal tersebut, Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro (Kadisdagkop UM) Retno Wulandari mengaku melaksanakan inspeksi mendadak dan monitoring.
“Beberapa harga bahan pokok sesuai pendataan kami ada beberapa yang naik, yang paling tinggi kenaikannya adalah cabai,” kata Retno Wulandari kepada Suarabanyuurip.com, Kamis (06/03/2025).
Retno menyebut, harga cabai sempat tembus diharga antara Rp120 ribu sampai Rp130 ribu per Kilogram (Kg) pada 3 Maret 2025. Namun, pada hari berikutnya 4 Maret 2025, harga cabai sudah turun di harga Rp100 ribu-Rp110 ribu per Kg.
Untuk itu, demi menjaga ketersediaan bahan pokok dan bahan penting, Disdagkop UM dia katakan melakukan sidak dan monitoring. Sasarannya ialah pasar, gudang, dan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
“(sidak dan monitoring) Tetap akan terus dilakukan, Disdag juga akan menyelenggarakan operasi pasar murah di beberapa titik,” tandasnya.
Diwartakan sebelumnya, harga sejumlah bahan masakan di pasar tradisional Bojonegoro Kota mengalami kenaikan. Antara lain daging sapi, daging ayam, bawang merah, dan cabai. Namun terkait kenaikan harga tersebut, Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro (Kadisdagkop UM) Bojonegoro memilih bungkam terhadap media.
Kenaikan harga untuk beberapa bahan pokok pangan ini terjadi sejak sepekan sampai dengan bulan Ramadan per hari ini, Rabu (05/03/2025). Harga daging sapi murni misalnya, seminggu sebelumnya berada pada harga Rp112.500 per Kilogram (Kg) naik sebanyak 4 persen menjadi Rp117.000 per Kg.
Kemudian daging ayam broiler naik dari harga Rp33.500 per Kg naik 6 persen menjadi Rp35.500 atau naik sebesar Rp2.000 per Kg. Harga telur ayam ras juga naik, meski hanya 1 persen, dari sebelumnya Rp27.500 naik Rp500 menjadi Rp28.000 per kg.
Berikutnya, terdapat dua bahan pokok pangan naik tajam. Yakni cabai rawit dan bawang merah. Cabai rawit sepekan sebelumnya berada di kisaran Rp72.000 per kg kini mencapai di atas Rp100.000, atau naik lebih dari 38 persen.
Begitu pun harga cabai keriting naik dari seharga Rp41.000 menjadi Rp43.000-Rp45.000 per Kg. Tetapi, pada cabai jenis lain tidak mengalami kenaikan, bahkan sebagian ada yang harganya turun.
Salah satu pedagang, Suyati menduga naiknya dua komoditi bumbu dapur tersebut dipicu lantaran produktivitas petani menurun diawal bulan puasa, sehingga membuat pasokan ke pasar berkurang.
“Awal puasa seperti ini biasanya jarang ada yang mau petik cabai ke sawah, sehingga pasokannya berkurang barangnya terbatas makanya harganya naik,” kata Suyati kepada Suarabanyuurip.com, Rabu (05/03/2025).
Pedagang peracangan ini menyebut, selain cabai rawit, harga bawang merah super mengalami kenaikan paling tinggi. Yaitu naik 60 persen, dari sebelumnya Rp25.000 per Kg kini tembus Rp40.000 per Kg.
Akibat kenaikan harga tersebut, Yati, begitu ia disapa, mengaku omset penjualannya berkurang. Sebab jumlah pembeli pun berkurang.
“Karena harganya mahal, saya jadi gak berani belanja banyak,” ujarnya.(fin)





