MBG Picu Harga Daging Ayam hingga Cabai di Bojonegoro Naik Tajam Jelang Ramadan

Harga daging ayam.
Salah satu penjual daging ayam di pasar tradisional Bojonegoro.

SuaraBanyuurip.com – Joko Kuncoro

Bojonegoro – Harga komoditas pangan seperti daging ayam potong hingga cabai rawit di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, melonjak tajam. Para pedagang hingga konsumen merasakan langsung dampak kenaikan harga sejumlah komoditas pangan tersebut.

Salah satu pedagang ayam potong di Pasar Tradisional Sumberrejo, Mak Siti menyampaikan, kenaikan harga daging ayam potong sudah terjadi sejak dua hari lalu. Penyebabnya stok terbatas dan pengiriman agen kepada pedagang sering telat.

“Ini terjadi rutin saat jelang bulan Ramadan. Alasan dari agen seperti itu, stok ayam terbatas sehingga harga naik,” jelasnya, Minggu (8/2/2026).

Dia mengatakan, program makan bergizi gratis (MBG) menjadi salah satu penyebab stok ayam terbatas. Sebab para agen lebih memilih menyuplai di SPPG dibandingkan untuk pedagang kecil di pasaran.

“Kalau MBG libur, stok ayam aman namun sebaliknya kami harus menunggu,” ungkapnya.

Dia mengemukakan, semula harga daging ayam potong di kisaran Rp 36 ribu per kilogram, kini melonjak tajam hingga Rp 42 kilogram. Kenaikan harga pada ayam potong berdampak langsung terhadap minat beli masyarakat.

Baca Juga :   Tradisi Nyekar Jelang Ramadan, Jadi Berkah Bagi Penjual Bunga Tabur

“Kami sebagai pedagang mengeluh, dan konsumen juga merasa keberatan dengan naiknya harga itu. Kami berharap harga segera normal,” ujarnya.

Pedagang lainnya, Ibu Ninik menjelaskan, harga cabai rawit juga meningkat dari semula Rp 40 per kilogram menjadi Rp 80 per kilogram. Naiknya cukup tajam.

“Kami tidak tahu kenapa harga cabai rawit ketika bulan keagamaan selalu mengalami kenaikan. Para konsumen mengeluh, karena harga kebutuhan pokok meningkat,” kata pedagang sembako di Pasar Sumberrejo itu.

Salah satu konsumen, Dinana mengaku kaget saat membeli daging ayam potong. Awalnya berniat membeli 3 kilogram daging ayam, namun saat transaksi harganya meningkat tajam.

“Biasanya hanya Rp 36 ribu per kilogram, menjadi Rp 42 ribu per kilogram. Terpaksa beli karena ayam sudah terlanjur dipotong-potong,” terangnya.(jk)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait