SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari
Bojonegoro — Banjir luapan Sungai Gandong berangsur surut. Meski begitu, kejadian ini menyisakan cerita di Desa Bonorejo, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Yakni tentang satu unit mobil sedan yang terseret banjir dan menyangkut di pepohonan pisang.
Nasib baik rupanya masih berpihak ke pasangan suami istri Sukijan dan Sarniti, warga Desa Bonorejo, Kecamatan Gayam. Sebab mobil sedan jenis Toyota Camry tahun perakitan 2006 milik mereka dapat diselamatkan.
Sebelumnya, sedan premium ini sempat tenggelam dan terseret banjir bandang dari garasi sejauh belasan meter lalu terjebak di pepohonan pisang. Nyaris saja mobil ini masuk ke dalam sungai yang tinggal beberapa meter jaraknya.
“Kalau nggak ada pohon pisang, mungkin sudah hanyut ke dalam sungai,” tutur istri Sukijan, Sarniti kepada Suarabanyuurip.com ditemui di sekitar lokasi Sungai Gnadong yang sudah surut, Sabtu (17/5/2025).
Awalnya, ia mengetahui adanya banjir ketika bangun pukul 04.00 pagi WIB. Saat itu ia mendengar suara gemuruh. Karena heran ia melihat ke luar, ternyata garasi mobilnya telah lenyap terseret arus banjir.

Begitu pula mobil sedan warna hitam yang semula di dalam garasi, terseret ke arah barat hingga ke tepian sungai. Mengetahui hal ini, ia lalu berinisiatif menghubungi Kepala Desa (Kades) Bonorejo, Rachmad Aksan.
“Maksud saya supaya mobil saya bisa dibawa naik, Pak Kades bilang Tim SAR saat itu belum berani bertindak, arus banjirnya sangat deras, sehingga terlalu berisiko,” ungkapnya.
Setelah banjir surut, baru kemudian ia beralih pilihan mencari mobil derek. Mobil ini akhirnya dapat diamankan pada Sabtu siang sekitar pukul 12.00 WIB. Mobil itu atas nama suaminya, Sukijan.
“Tapi suami saya memang dikenal dengan nama panggilan Pak Mat, maksudnya bapaknya Mat, anak saya,” tambahnya membenarkan, jika beredar pemilik mobil adalah Pak Mat dari Desa Bonorejo.
Setelah berhasil diderek, sedan yang masih terlihat mewah ini langsung dibersihkan oleh empunya mobil, Sukijan. Namun untuk mengecek kondisi mesin mobil, Sukijan mengaku masih harus menunggu mobilnya betul-betul dalam keadaan kering.
“Paling tidak ini menunggu sebulan, karena saya kawatir kelistrikannya kena air jadi tidak berani menyalakan, nanti setelah kering baru dibongkar untuk ngecek,” ucap Sukijan.

Terpisah Kades Bonorejo, Rachmad Aksan membenarkan, terjadi luapan Kali Gandong yang menuju ke Bengawan Solo. Kali atau sungai itu menghubungkan Desa Bonorejo, Mojodelik, Kecamatan Gayam hingga Desa Ngrejeng, Desa Pelem, Kecamatan Purwosari, dan Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem.
Hujan yang sangat lebat sejak petang hingga malam, dan turun hujan mulai dini hari menyebabkan banjir bandang demikian besar. Sepanjang yang ia ketahui dari kisah para orang-orang tua, ini adalah banjir terbesar yang kemudian muncul kembali sejak 60 tahun lalu.
“Saya kelahiran 1964, kata para sesepuh desa, banjir seperti ini terjadi terakhir kali pada 1965, saya masih berumur satu tahun, belum ngerti, tapi ceritanya begitu,” bebernya.
Dampaknya, tak hanya mobil warganya yang tenggelam dan terseret banjir. Namun juga terjadi kerusakan infrastruktur. Yakni ambrolnya jembatan yang menghubungkan Desa Bonorejo, Kecamatan Gayam dengan Desa Pojok, Kecamatan Purwosari.
“Warga kami seluruhnya terdampak ambrolnya jembatan Bonorejo-Pojok. Terutama para pelajar, kasihan mereka harus menempuh jarak lebih jauh, karena memutar sejauh sekira 7 Kilometer untuk bisa sampai ke sekolah mereka di Kecamatan Purwosari, jadi jembatan ini penting sekali,” terang kades tiga periode ini.
Sementara Camat Gayam, Palupi Ratih Dewanti mengaku, telah meninjau ke seluruh penjuru wilayah kecamatan yang diampunya. Yaitu di Desa Beged, Bonorejo, dan Mojodelik. Termasuk di lokasi Toyota Camry tenggelam saat itu.
“Banjirnya memang deras sekali, dan mungkin ini banjir yang terbesar sepanjang sejarah sejak terakhir tahun 1960 pernah terjadi, karena ini banjir bandang dari atas ya, kami sudah koordinasikan semua dengan BPBD,” tegasnya.(fin)





