Booth ExxonMobil Pamerkan Kelola Sampah Jadi Rupiah di IPA Convex 2025

Program pengelolaan sampah emcl
Kades Rengel, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, sedang memaparkan pengelolaan sampah didampingi PIC program dari EMCL, Joni Wicaksono (kiri) di Booth ExxonMobil Indonesia.(arifin jauhari)

SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari

Tangerang — Booth ExxonMobil Indonesia memamerkan program pengelolaan sampah yang menjadi salah satu cara meraup rupiah dalam gelaran Indonesian Petroleum Association (IPA) Convention dan Exhibition (Convex) 2025.

Perhelatan industri migas yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan guna membahas masa depan energi nasional di ICE BSD, Tangerang, Banten, mulai tanggal 20 hingga 22 Mei 2025 ini mengusung tema akbar “Delivering Growth with Energy Resilience in Lower Carbon Environment”

Dalam pameran ini, booth ExxonMobil Indonesia memamerkan banyak hal. Salah satunya program pengelolaan sampah dilaksanakan oleh Operator Ladang Minyak dan Gas Bumi (Migas) Banyu Urip, Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL).

Program dimaksud terlaksana di Desa Rengel, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, Jawa Timur sejak 2015. PIC dari EMCL atas program ini, Joni Wicaksono menghadirkan langsung Kepala Desa (Kades) Rengel, Mundir, guna memaparkan sejak awal program mengolah sampah, sampai kini menjadi salah satu sumber pendapatan asli desa (PADes).

Mulanya, Mundir mengaku, melihat sampah di desanya mencapai 25 meter kubik (m³) per hari. Terdiri dari sampah plastik dan kertas 10 m³ sampah organik 7 m³, dan sampah campuran antara lain kertas basah, kayu, dan limbah rumah tangga yang mencapai 8 m³.

Baca Juga :   PKK Kecamatan Sugihwaras Gelorakan Gerakan Pengelolaan Sampah dan Perilaku Hidup Bersih dari Rumah

Bertolak dari hal itu, ia menggagas Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) bernama Mandiri Sejahtera pada 2019. Bersama BUMDesa ini, ia lalu berinisiatif mengolah sampah tersebut.

“Agar pengelolaan sampah bisa menjadi penghasilan warga, kami mendirikan bank sampah,” tuturnya kepada para pengunjung booth ExxonMobil Indonesia, Selasa (20/5/2025).

Bank sampah itu lalu mulai berjalan per Rumah Tangga (RT) diawali dengan memilah sampah di lingkungan masing-masing. Semula, hanya memilah sampah yang langsung bisa terjual.

Tetapi di masa ke depan, bank sampah itu berkembang menjadi pengolahan sampah lainnya. Sampah rumah tangga yang menghasilkan berbagai olahan seperti maggot, pupuk kompos, eco enzyme, decompose, dan guano.

Pekerjaan pemilahan sampah dan edukasi bank sampah kepada masyarakat dilakukan oleh Satgas Purba Rahayu. Hasilnya kini berhasil terkelola per harinya, yakni sampah plastik 5 m³, sampah 2 m³, dan 6 m³ sampah organik.

Pada tahun 2023, EMCL mendirikan tempat pembuangan sampah (TPS) di Desa Rengel. Seiring dengan itu juga memberikan pendampingan tentang tata kelola pengolahan sampah berbasis keterlibatan masyarakat.

Program itu tidak hanya menangani masalah lingkungan, tetapi juga memberdayakan komunitas untuk mengelola sampah secara efektif.

Baca Juga :   Volume Sampah Meningkat, Potensi Berdampak Pencemaran Lingkungan ‎

Satgas Purba Rahayu selaku komunitas, mengumpulkan kurang lebih sebanyak 2 ton sampah plastik dan kertas setiap minggunya. Dari kagiatan ini, komunitas ini mampu menghasilkan pendapatan sekira Rp16 juta sebulan dari hasil penjualan sampah.

Setiap hari, 20 tempat sampah limbah dikumpulkan. Dan 30 persen dari sampah organik terolah menjadi kompos dan pakan maggot. Hal itu dapat mengurangi jumlah sampah dan menyediakan produk berguna bagi pertanian.

Selain dari penjualan sampah, mereka juga mengelola pembayaran sampah bulanan dari Rukun Tetangga (RT). Total pendapatannya mencapai Rp124 juta per bulan. Dari olah sampah plastik dan kertas mencapai pendapatan Rp6 juta lebih, ditambah olahan sampah didapatkan Rp12 jutaan.

“Total penghasilan pada 2024 sebanyak Rp143 juta. Setelah dikurangi pengeluaran untuk gaji dan operasional TPS Rp93 juta, kami masih punya saldo Rp49 juta,” beber Kades Mundir.

Fokus utama dari program itu, lanjut Mundir, sejatinya ialah perubahan perilaku masyarakat melalui pendidikan berkelanjutan mengenai prinsip Mengurangi, Menggunakan Kembali, dan Mendaur Ulang (3R).

“Tapi sekarang, program ini telah berkembang menjadi unit bisnis yang sukses,” tandasnya.(fin)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait