Pemkab Bojonegoro Kembangkan Drum Komposter, Solusi Kelola Sampah Rumah Tangga

Kelola sampah
Petugas TPA Banjarsari, Yono menunjukkan cara kerja drum komposter sebagai solusi sampah rumah tangga.(ist/kominfo)

SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari

Bojonegoro — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Jawa Timur, melalui Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di Desa Banjarsari, Kecamatan Trucuk, mengembangkan drum komposter sebagai solusi pengolahan sampah organik skala rumah tangga. Inovasi ini dinilai sederhana, efektif, serta mampu menekan volume sampah yang masuk ke TPA.

‎Salah satu pengelola TPA Banjarsari, Yono menjelaskan, bahwa pembuatan drum komposter saat ini masih menyasar kebutuhan sekolah untuk kegiatan praktikum.

‎”Program ini juga dilatarbelakangi tingginya persentase sampah organik rumah tangga yang sebenarnya dapat diolah sebelum sampai ke TPA,” kata Yono dalam keterangan tertulis diterima Suarabanyuurip.com, Jumat (10/4/2026).

‎Data volume sampah di daerah penghasil minyak dan gas bumi (Migas) ini menunjukkan terjadinya peningkatan. Pada 2025, jumlah sampah yang terkelola mencapai 47.380,36 ton per tahun, naik dari 45.997,80 ton pada 2024.

‎Melalui drum komposter, masyarakat diedukasi bahwa sampah dapur atau sisa makanan memiliki nilai manfaat. Sampah organik tersebut dapat diolah menjadi pupuk cair maupun kompos padat sehingga tidak lagi menimbulkan bau atau penumpukan.

‎Drum komposter dirancang sederhana dan dapat dibuat secara mandiri di rumah. Alat ini menggunakan drum plastik bekas yang dimodifikasi dengan sistem aerasi berupa lubang udara serta dilengkapi keran di bagian bawah untuk memanen pupuk organik cair.

‎Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Luluk Alifah menambahkan, penggunaan drum komposter dinilai cocok bagi masyarakat perkotaan atau permukiman padat yang tidak memiliki lahan luas. Inovasi ini juga berpotensi mengurangi emisi gas metana dari tumpukan sampah organik di TPA.

‎Terlebih, pemanfaatan komposter tersebut menghasilkan pupuk yang dapat digunakan untuk tanaman hias maupun sayuran di pekarangan rumah. Untuk pupuk cair, pengguna cukup membuka keran yang tersedia di bagian bawah drum.

‎Drum komposter menjadi salah satu langkah strategis dalam pengurangan sampah. Jika diterapkan secara konsisten di tingkat rukun tetangga (RT), beban sampah di TPA Banjarsari diperkirakan akan berkurang signifikan.

‎Meski begitu, sosialisasi dan pendampingan masih difokuskan pada lingkungan sekolah. Pengunjung TPA Banjarsari juga dapat belajar langsung cara merakit drum komposter. Ke depan, program ini diharapkan berkembang menjadi gerakan masif di masyarakat.

‎”Upaya ini sejalan dengan komitmen Pemkab Bojonegoro dalam mewujudkan lingkungan bersih dan sehat serta mendukung target nasional pengurangan sampah,” tandas Luluk Alifah.(fin/adv)

Pos terkait