SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari
Bojonegoro — Organisasi Non Pemerintah, IDFoS Indonesia menggelar kegiatan diseminasi buku berjudul “Bersama Mengelola, Bersama Sejahtera” di Creative Room Pemkab Bojonegoro, Senin (18/5/2026).
Kegiatan ini menjadi ruang berbagi praktik baik pengelolaan sampah berbasis kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat melalui pendekatan Public-Private-Community Partnership (PPCP).
Kegiatan diseminasi menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya penulis buku Ahmad Muhajirin dan Rizal Zubaid Firdausi, editor buku Dr. H.A. Hakam Sholahuddin, MH, serta Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bojonegoro, Luluk Alifah.
Peserta kegiatan berasal dari berbagai unsur, mulai perguruan tinggi, organisasi masyarakat, media massa, pemerintah daerah hingga perusahaan swasta, termasuk dari Kelompok Usaha Olah Sampah Dalem Mandiri Sejahtera (Mpok Damira) yang menjadi pelaku utama dalam buku yang dibedah.
Mpok Damira yang ditulis dalam buku ini merupakan penerima manfaat Program Pengembangan Masyarakat (PPM) SKK Migas yang diberikan oleh operator ladang minyak Banyu Urip, Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) dengan mendapat pendampingan dari IDFoS Indonesia dalam hal pengelolaan sampah.
Sesuai akronimnya, Mpok Damira ada di Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Dalam diseminasi buku tersebut, Ngumpakdalem terpilih sebab daerah penyangga kota atau buffer zone.

Hasilnya, dibicarakan dalam buku secara gamblang, beserta kelebihan, kekurangan, dan tantangan ke depan. Menceritakan sejak 2015 hingga sekarang. Alurnya dibuat maju mundur sebab adanya perbandingan dari rentang 2015 hinggga 2026.
Direktur IDFoS Indonesia, Joko Hadi Purnomo mengatakan, diseminasi buku tersebut bertujuan mendorong penguatan tata kelola lingkungan berbasis kolaborasi di tengah meningkatnya persoalan sampah di Kabupaten Bojonegoro.
“Melalui buku ini kami ingin menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak bisa diselesaikan sendiri oleh pemerintah. Harus ada keterlibatan swasta dan masyarakat agar penanganannya lebih berkelanjutan,” ujar Joko Hadi Purnomo.
Dijelaskan, volume sampah di Bojonegoro kini mencapai sekitar 400-450 ton per hari. Kondisi itu dinilai sudah tidak bisa lagi ditangani dengan pola konvensional kumpul-angkut-buang semata.
Menurutnya, buku “Bersama Mengelola, Bersama Sejahtera” hadir sebagai instrumen untuk membagikan praktik baik pengelolaan sampah berbasis kemitraan PPCP yang mengharmonisasikan peran pemerintah, sektor swasta, dan komunitas dalam satu langkah nyata.
Sementara itu, Kepala DLH, Luluk Alifah membenarkan, bahwa ihwal penanganan sampah di Bojonegoro memerlukan keikutsertaan multipihak. Tidak bisa jika hanya ditangani oleh pemerintah secara parsial. Namun memerlukan pergerakan secara bersama-sama.
Luluk, sapaan akrabnya, juga mengkoreksi data timbulan sampah, terkini setelah dikaji telah mencapai volume sebanyak 568 ton per hari. Dengan begitu, masalah sampah ini tidak bisa diselesaikan oleh DLH sendirian. Dibutuhkan pergerakan banyak pihak dalam penanganannya.
”Kita harus bergerak bersama-sama, kita tidak bisa sendirian tanpa bantuan penjenengan (anda) semua,” tegas Luluk Alifah.
Dalam forum tersebut, para peserta selain berdiskusi juga melakukan tanya jawab mengenai model penanganan sampah mandiri yang dapat direplikasi di desa-desa lain di Bojonegoro.(fin)





