Suarabanyuurip.com – M. Alamsyah Syarifudin
Bojonegoro – Pemuda Bonorejo, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, masih banyak berharap bisa bekerja di proyek minyak Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu. Namun, setelah proyek konstruksi migas di desanya selesai, ketersediaan lapangan pekerjaan berkurang drastis dan menambah jumlah pengangguran.
Ketua Karang Taruna Desa Bonorejo, Hafit Cahyono Dwi Putra menyebut, jumlah pemuda yang menganggur mencapai 104 orang. Rerata mereka lulusan SMA/SMK.
“Bahkan ada lulusan sarjana masih belum mendapat pekerjaan,” kata Hafit kepada suarabanyuurip.com, Sabtu (24/5/2025).
Menurut dia, sebagian pemuda Bonorejo telah memiliki keterampilan, khususnya lulusan SMK. Namun disisi lain mereka masih perlu mendapatkan pelatihan dan sertifikasi untuk menambah keterampilan agar bisa bersaing di industri kerja.
“Masih banyaknya pemuda Bonoerjo yang menganggur ini karena minimnya ketersedian lapangan pekerjaan. Juga kurang adanya pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan industri untuk saat ini,” ungkap Hafit.
Pihaknya berharap ada ketersediaan lapangan pekerjaan bagi pemuda ring satu minyak Banyu Urip, agar bisa mengurangi pengangguran.
“Juga fasilitas mendapat pelatihan untuk menambah keterampilan atau skill para pemuda khususnya yang baru lulus SMA/SMK,” pungkas Hafit.

Kepala Desa Bonorejo, Rachmad Akhsan mengakui jika sebagian besar masyarakat Bonorejo, khususnya pemuda masih berharap bisa bekerja di proyek minyak Banyu Urip yang dikelola ExxonMobil Cepu Limited (EMCL).
Namun, kepala desa tiga periode ini, menyadari bahwa industri migas bukanlah proyek padat karya yang membutuhkan banyak tenaga kerja. Setelah proyek rekayasa, pengadaan dan konstruksi (engineering, procurement, and constructions/EPC) selesai dan lapangan minyak Banyu Urip mulai produksi, tenaga kerja yang dibutuhkan berkurang drastis.
“Tetapi ada juga perusahaan yang pernah mengerjakaan pekerjaan di sini masih memerlukan tenaga kerja dari sini. Tapi yang diperlukan pekerja lama, sehingga orang baru yang diperlukan sedikit. Kalau yang dibutuhkan oleh EMCL hanya 1 sampai 2 orang saja. Dan untuk tahun ini saja tidak ada,” beber Aksan.
Begitu juga kebutuhan tenaga kerja di proyek gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) sangat minim. Meskipun Desa Bonorejo masuk ring satu JTB, menurut Aksan, perusahaan yang masih melakukan kegiatan sekarang ini tinggal pekerjaan maintenance (pemeliharaan).
“Sehingga ini yang menyebabkan banyak masyarakat di desa sini yang menganggur,” ucapnya.
Sebagai desa ring satu lapangan Banyu Urip, lanjut Aksan, masih ada lahan yang cukup untuk bisa dimanfaatkan sebagai ladang pertanian. Namun luasannya berkurang banyak dari sebelumnya akibat terdampak proyek pengembangan penuh lapangan minyak. Sehingga masyarakat masih berharap kepada EMCL untuk menambah ketersediaan lapangan pekerjaan.
“Mungkin dulu saat konstruksi masih banyak membutuhkan tenaga kerja. Tetapi untuk saat ini sudah berkurang karena pekerjaan yang ada hanya maintenance. Dan itupun yang dibutuhkan hanya yang memiliki skill atau yang sudah memiliki pengalaman kerja lama,” jelasnya.
“Dampak dari semua ini ada pada pemuda yang baru lulus sekolah. Mereka hanya bisa berkompetensi di luar saja, itu pun kalau ada paling hanya di ambil 1 sampe 2 tenaga kerja saja,” lanjut Aksan.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, tambah Akasan, Pemerintah Desa Bonorejo sedang berupaya memajukan UMKM melalui pemberian pelatihan yang dilaksanakan sejak 2021 sampai sekarang. Sektor ini lebih dipilih karena pertanian dan peternakan sulit dikembangan akibat terbatasnya lahan.
“Harapannya pemuda bisa lebih kreatif mencari pekerjaan lain, karena rezeki tidak dari proyek di sini saja tetapi bisa dari mana saja,” pungkasnya.(lam)





