SuaraBanyuurip.com – Purwoko, warga Desa Bareng, Kecamatan Sekar, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, terlihat sumringah. Alat instalasi pemanenan air hujan (IPAH) di rumahnya sudah berfungsi maksimal.
Alat IPAH itu telah membuat Purwoko merasa tenang menyambut musim kemarau. Dia tidak lagi kebingungan mencukupi air bersih.
Purwoko telah merasakan manfaat alat IPAH di rumahnya untuk memanen air hujan guna mencukupi kebutuhan air bersih sehari-hari Selain itu bisa menginjeksi air ke dalam tanah.
“Apalagi saat musim kemarau, warga di sini sulit mendapatkan air bersih. Semoga ke depannya bisa membantu para warga,” ujarnya, Senin (17/6/2024).
Purwoko merupakan salah satu warga Desa Bareng yang mendapat bantuan alat IPAH dari Universitas Bojonegoro, BUMD Bojonegoro PT Asri Dharma Sejahtera (ADS). Bantuan yang diberikan aberupa toren berkapasitas 1.200 liter sekaligus pipa filtrasinya.
Ada 45 alat IPAH yang sudah didistribusikan untuk warga di lima kecamatan pada Mei 2025. Yakni Kecamatan Tambakrejo 20 titik lokasi, Ngraho tiga titik lokasi, Margomulyo tiga titik lokasi, Gondang 10 titik lokasi, serta Sekar sembilan titik lokasi.
“Semua alat IPAH berfungsi dengan baik, dan sudah dimaanfaatkan warga untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Ketua LPPM Unigoro, Laily Agustina R saat melaksanakan monitoring dan evaluasi (monev) bersama PT. ADS,, Dinas PU Cipta Karya dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro di Balai Desa Bareng, Kecamatan Sekar, Selasa (17/6/25).
Laily menyampaikan warga penerima bantuan alat IPAH telah diberikan sosialisasi. Terutama tentang cara penggunaan dan maintenance alat tersebut.
“Sehingga masyarakat juga mengetahui bagaimana cara pemanfaatan air hujan serta kualitas air hujan yang dipanen. Tentunya kami ingin memastikan kualitas IPAH sesuai dengan kualifikasi yang diharapkan,” paparnya.
Air hujan yang dipanen dan difiltrasi dapat dimanfaatkan warga untuk mandi dan mencuci. Bahkan ada sebagian masyarakat yang mengonsumsi. Menurut Laily, air hujan dapat dikonsumsi apabila telah diuji kandungannya dan diolah lebih lanjut.
“Kami telah mengambil sampel air yang difiltrasi dari IPAH, lalu diuji di laboratorium. Hasilnya, kalau didasarkan pada parameter air untuk hygine sanitasi berdasarkan Permenkes Nomor 2 Tahun 2023 telah memenuhi baku mutu. Bakteri coliform-nya masih ada, tapi kadarnya masih bisa dikontrol. Kalau masyarakat mau memanfaatkan untuk air minum atau konsumsi, harus dimasak dulu agar aman. Bakteri coliform akan mati di suhu 60 derajat celsius, sifatnya harmless (tidak berbahaya, Red),” jelas dosen ilmu lingkungan Unigoro.
Monev dan sosiliasasi IPAH akan berlanjut setiap pekan di empat kecamatan lainnya. Bupati dan Wakil Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono – Nurul Azizah, menginisiasi gerakan panen air hujan. Sebagai bentuk mitigasi bencana kekeringan.(red)





