Belum Rasakan Dampak Positif, Berharap Lapangan Migas Giyanti Blok Cepu Segera Diaktifkan

Lapangan Migas Giyanti.
Lapangan Migas Giyanti di Desa Giyanti, Kecamatan Sambong, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.(sampurno)

SuaraBanyuurip.com – Ahmad Sampurno

Blora – Sejak beroperasinya industri hulu minyak dan gas bumi (Migas) Blok Cepu, warga Desa Giyanti, Kecamatan Sambong, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, ternyata belum pernah merasakan dampak positif dari keberadaan industri tersebut.

Padahal Desa Giyanti, terdapat lapangan eksplorasi Migas yang menjadi bagian dari Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) Blok Cepu. Luasannya mencapai sembilan hekatare, merupakan lahan milik warga yang dibebaskan oleh ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) pada 2006 lalu.

Hingga saat ini, lapangan tersebut belum ada aktivitas apapun. Warga Desa Giyanti, Rusdianto, berharap Lapangan Migas di desanya bisa segera diaktifkan.

“Harapannya segera dikerjakan sehingga warga bisa merasakan dampak positifnya,” kata Rusdianto kepada Suarabanyuurip.com, Rabu (16/07/2025).

Terutama, kata dia, bisa berdampak pada perekonomian dan kesejahteraan masyatakat. Baik melalui program corporate social responsibility (CSR) maupun program-program lainnya.

“Selama ini, di desa kami tidak pernah tersentuh program atau CSR dari EMCL,” ungkapnya.

Pria yang aktif di organisasi masyarakat (Ormas) ini menyayangkan, adanya program sosial atau CSR dari EMCL di Kabupaten Blora yang masih tertuju di luar Desa Giyanti.

“Padahal di sini jelas ada lapangan Migas,” ujarnya.

Sementara Wakil Ketua DPRD Blora, Siswanto, menyebutkan, berdasarkan data SKK Migas tahun 2021, Lapangan Gas Giyanti memiliki cadangan gas yang signifikan, mencapai 500 BCF (miliar kaki kubik).

Baca Juga :   Bentuk Tim Penanganan Sumur Tua

“Dengan potensi produksi maksimal hingga 100 MMSCFD (juta kaki kubik per hari),” ujarnya.

Menurut Siswanto, meskipun cadangan ini di bawah Jambaran Tiung Biru (JTB), namun potensi tersebut sangat besar dan strategis. Aktivasi Lapangan Gas Giyanti, kata dia, akan membawa dampak positif ganda, baik bagi kepentingan nasional maupun daerah.

Siswanto, mengaku, usulan aktivasi Lapangan Gas Giyanti telah disampaikan hingga ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia (RI).

“Secara nasional, produksi gas dari Giyanti dapat membantu menutupi defisit dan mengurangi impor gas,” ungkapnya.

Terpisah, External Engagement & Socioeconomic Manager EMCL, Tezhart Elvandiar, menyampaikan, Lapangan Giyanti belum memulai produksi seperti Lapangan Migas Banyu Urip dan Lapangan Kedungkeris.

Dijelaskan, bahwa terkait Program Pengembangan Masyarakat (PPM), EMCL terus berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Blora untuk prioritas program yang akan dilaksanakan.

“ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) terus berkoordinasi dengan SKK Migas dan Pemerintah Kabupaten setempat,” ujar Tezhart Elvandiar.

Untuk diketahui, sejak ditemukan, tak pernah ada tajak sumur di Lapangan Gas Giyanti. Berbeda dengan Lapangan Migas Banyu Urip, Blok Cepu. Di mana isi perut bumi di lapangan minyak yang bersentra di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, itu telah terkuras sebanyak 660 juta barel minyak.

Baca Juga :   Upacara Hari Pahlawan di PPSDM Migas Berlangsung Khidmat

Puncak produksi Blok Cepu terjadi pada tahun 2018 sebanyak 220 ribu bph, dimulai dari produksi perdana pada tahun 2008, dan mencapai 20 ribu barel per hari (bph) di 2009.

Lifting Blok Cepu kemudian mengalami penurunan pada 2020 menjadi 217.617 bph. Turun lagi pada 2021 menjadi 203.525 bph. Terus mengalami penurunan pada 2022, menjadi 170.711 bph.

Produksi minyak Blok Cepu terjun bebas hingga menyentuh angka 144 bph di 2024. Memasuki 2025, produksi Blok Cepu naik menjadi 150 ribu bph, ditambah keberhasilan proyek Banyu Urip Infill Clastic (BUIC) yang menambah produksi sebesar 30 ribu bph.

Blok Cepu yang dioperasikan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) dengan masa kontrak 2005–2035. Sahamnya dibagi untuk EMCL 45%, Pertamina 45%. Sementara 10 persennya dibagi kepada empat Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Jawa Tengah (Jateng) dan BUMD Jawa Timur (Jatim). Yakni BUMD Bojonegoro, BUMD Provinsi Jatim, BUMD Blora, dan BUMD Provinsi Jateng yang tergabung dalam Badan Kerja Sama (BKS) Blok Cepu.

Seluruh sumur produksi hanya ada di Bojonegoro Jawa Timur. Sementara, Kabupaten Blora meski terdapat Lapangan Migas Giyanti, tidak diakui sebagai daerah penghasil Migas Blok Cepu.(ams)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait