SuaraBanyuurip.com – Mahasiswa KKN- TK Kelompok 21 Unigoro menyelenggarakan sekolah alam untuk siswa SDN 1 Klino, Kecamatan Sekar, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Sabtu (26/7/2025) pagi. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran dan kepedulian anak-anak menjaga alam dan lingkungan sejak dini.
Sekolah alam ini merupakan salah satu Program Kerja (proker) utama Mahasiswa KKN- TK Kelompok 21 Unigoro. Proker ini dilaksanakan berkolaborasi dengan komunitas Turun Tangan Bojonegoro. Jaga Alam sebagai sub proker.
Sebanyak 35 siswa SDN 1 Klino sejak pukul 07.00 Wib berkumpul di halaman sekolah untuk mengawali kegiatan senam pagi selama tiga puluh menit bersama para mahasiswa, komunitas dan para guru mereka.
Setelah itu, puluhan siswa langsung melanjutkan icebreaking yang dipandu langsung komunitas Turun Tangan Bojonegoro. Berbagai joke pun muncul membuat para siswa penuh ceria dan semangat.
Lima pemandu dari komunitas yang didampingi mahasiswa KKNTK kelompok 21 mengajak anak-anak siswa SD untuk memiliki kepedulian terhadap sampah. Materi sosialisasi pun dilakukan dengan santai dan langsung di lokasi agrowisata.
Mereka dikenalkan tentang alam lingkungan dan merawat tanaman. Kegiatan dikemas outbond education, yakni siswa diminta estafet sampah dan tebak gaya fauna berjalan selama 30 menit.

Laila, penanggungjawab proker Mahasiswa KKN- TK Kelompok 21 Unigoro mengatakan, para siswa ini diharapkan memiliki kepedulian terhadap lingkungannya sejak dini. Menjaga kebersihan lingkungannya, merawat pohon dan tanaman.
“Output-nya, para siswa diharapkan memiliki rasa tanggungjawab dan peduli sejak dini. Pentingnya dalam menjaga alam sekitar hingga merawatnya,” jelas Laila.
Sementara itu, Kak Aulia, salah satu pemandu dari anggota dari komunitas Turun Tangan Bojonegoro mengatakan, kegiatan ini sangat bagus, karena para siswa mendapatkan edukasi atau pembelajaran secara langsung di lapangan.
Menurut dia, Desa Klino memiliki potensi besar. Ekosistem desa ini mencakup pariwisata, pertanian, peternakan, UMKM hingga destinasi puncak Gunung Pandan.
“Dari kegiatan ini anak-anak akan tercipta generasi yang peduli. Tentu, menjadi anak-anak generasi sumberdaya kreatif untuk jangka panjang,” tutur Kak Aulia.(red)





