SuaraBanyuurip.com – Serangan hama tikus di lahan pertanian sekitar lapangan minyak Banyu Urip, Blok Cepu di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, masih merajalela. Para petani diberikan bantuan obat-obatan dan penyuluhan tentang cara-cara untuk mengendalikan serangan hama tikus.
“Hari ini kami memberikan sosialisasi dan bantuan obat petrokum untuk petani Desa Begadon, Kecamatan Gayam. Sebelumnya kami juga melakukan kegiatan yang sama di Desa Brabowan. Total bantuan obat untuk dua desa itu 4 kilogram,” kata Koordinator Penyuluh (Korluh) Pertanian Kecamatan Gayam, Satrio Utomo, Selasa (5/8/2025).
Utomo menjelaskan, dalam sosialisasi tersebut petani diberikan beberapa cara efektif untuk mengendalikan serangan hama tikus. Yakni melalui pengomposan (pengasapan) di sarang tikus.
“Karena sekarang ini mulai musim tanam, lahan pertanian banyak yang tergenang air, tentu sarang tikus berpindah dari lahan pertanian ke jalan tani, jalan utama, dan pepohonan sekitar permukiman. Maka sasaran pengomposan di area itu,” tuturnya.
Selain pengomposan, pengendalian hama tikus bisa dilakukan petani dengan cara pengumpanan. Namun, Utomo menyarankan agar petani menggunakan obat tetes yang tidak membuat tikus langsung mati. Tujuannya agar tikus bisa tetap bisa menjadi mangsa burung hantu dengan aman.
“Kalau umpannya dikasih obat yang langsung membuat tikus mati bisa berbahaya bagi keselamatan burung hantu. Burungnya bisa ikut keracunan. Jadi harus pakai obat yang tikusnya itu matinya lama,” jelasnya.

Cara lainnya yang bisa dilakukan petani untuk mengendalikan hama tikus dengan gropyok. Petani secara bersama-sama melakukan perburuan tikus di areal persawahan dan sarangnya.
“Untuk mengendalikan serangan hama tikus ini harus dilakukan petani secara terus menerus. Ini agar tikus tidak terus berkembang biak,” tegas Utomo.
Utomo menyatakan telah mengimbau kepada petani di wilayah Kecamatan Gayam agar tidak menggunakan jebakan listrik untuk mengendalikan serang hama tikus. Sebah bisa berbahaya bagi keselamatan petani dan warga lainnya.
“Jebakan listrik itu risiko sangat besar. Lebih baik menggunakan cara tadi,” sarannya dihadapan puluhan petani Desa Begadon.
Menurut Utomo, serangan hama tikus merata terjadi di wilayah pertanian di Kabupaten Bojonegoro. Serangan hewan rakus ini mulai terjadi sejak dua tahun lalu.
“Kalau dilihat, hama tikus ini migrasi dari daerah lain,” pungkasnya.
Ketua Kelompok Tani Desa Begadon, Rokim mengucapkan terima kasih atas bantuan obat-obatan dan penyuluhan yang diberikan petugas penyuluh lapangan (PPL) yang mendampingi petani mengendalikan serangan hama tikus.
“Semoga melalui cara ini bisa memutus rantai pengembangbiakan tikus,” ujarnya.
Rokim mengaku, serangan hama tikus telah membuat petani rugi. Hasil produksi pertanian menurun drastis.
“Tiga kali tanam, hasilnya jeblok. Biasanya satu hektar bisa sampai 8 ton, kemarin cuma dapat 4 sampai 5 ton karena diserang tikus,” pungkasnya sembari menegaskan petani Begadon tidak ada yang menggunakan jebakan listrik untuk mengendalikan serangan hama tikus.(red)





