SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari
Bojonegoro — Ladang jagung milik M. Abdul Mukid yang berada di Dusun/Desa Katur, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mengalami serangan hama tikus cukup parah. Akibat serangan hewan pengerat tersebut, tanaman jagung terancam gagal panen bahkan di beberapa bagian dinyatakan rusak total.
Serangan tikus di desa sekitar Wilayah Kerja Pertambangan Minyak dan Gas Bumi (WKP Migas) Blok Cepu ini terjadi sebelum petani memasang pengaman berupa botol plastik. Hama tikus merusak batang dan tongkol jagung, sehingga pertumbuhan tanaman terganggu dan hasil panen tidak dapat diharapkan.
“Lintune niku mboten enten sing panen, gagal total petani jagung (lainnya itu tidak ada yang panen, gagal total peladang jagung, red.),” ungkap Kepala Dusun Katur, Andik Darmawan, kepada Suarabanyuurip.com, Sabtu (10/1/2026). Ia menjelaskan bahwa hampir tidak ada hasil panen yang bisa diselamatkan.
Diketahui, luas lahan jagung yang terdampak seluas kurang lebih 3.500 meter persegi, dengan usia tanaman sekitar 65 Hari Setelah Tanam (HST).
Untuk meminimalkan kerusakan lebih lanjut, salah satu peladang setempat, Abdul Mukid, kemudian berinisiatif memasang botol plastik di sekitar tanaman. Botol-botol tersebut digunakan sebagai pengaman sekaligus alat pengusir hama secara sederhana, memanfaatkan suara dan gerakan botol yang tertiup angin agar tikus enggan mendekat.
Upaya ini dilakukan sebagai langkah darurat, mengingat serangan tikus kerap terjadi dan sulit dikendalikan, terutama di area persawahan dan ladang yang dekat dengan semak atau lahan terbuka.
”Peladang berharap, dengan pemasangan pengaman sederhana tersebut, sisa tanaman jagung yang masih bertahan dapat terselamatkan dan tidak mengalami kerusakan lebih parah,” tutur Andik.
Kejadian serangan hama tikus tak hanya kali ini di Kecamatan Gayam. Sebelumnya peristiwa ini juga terjadi di desa yang sama, berdampak ke sekira 1 hektar ladang jagung, dan mendapat tanggapan dari Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro, Zaenal Fanani.
Zaenal Fanani berharap kelompok tani (poktan) setempat mengusulkan bantuan rodentisida ke DKPP melalui Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) sesuai wilayah kerja (WKPPL).
Selain itu, DKPP memberikan solusi lainnya yakni, agar poktan mengusulkan bantuan Rumah Burung Hantu (Rubuha) dan burungnya kepada DKPP.
Pria asal Blitar ini juga menyarankan agar poktan melakukan gerakan pengendalian hama secara serempak dengan melibatkan seluruh masyarakat, dengan koordinasi di bawah PPL.
Kendati, untuk asuransi pertanian komoditas jagung, Zaenal menyebut, belum ada skema bantuan pemerintah, karena adanya skema mandiri petani (skema komersial).
“Untuk komoditas padi PPL segera mengusulkan WKPP-nya, sebagai calon penerima AUTP (Asuransi Usaha Tani Padi, red.),” tandasnya.(fin)
Diserang Hama Tikus, Petani Sekitar Migas Blok Cepu Pasangi Botol Plastik




