SuaraBanyuurip.com – Arifin Jauhari
Bojonegoro – Burung pipit atau biasa disebut emprit menjadi salah satu hama tahunan yang menjadi momok bagi petani setiap tanaman padi mulai berbuah. Hal itu seperti yang terjadi di area pertanian pinggiran hutan di wilayah Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Berbagai upaya telah dilakukan petani di sana. Diantaranya memasang umbul-umbul atau orang-orangan (weden-red) di sawah agar emprit takut tidak menyerang dan hinggap di padi yang berusia tiga sampai empat bulan. Namun, serangan ratusan burung emprit ini tetap tak bisa dibendung.
Terpaksa para petani harus menunggui tanaman padi mereka mulai pagi sampai menjelang petang. Untuk mengantisipasi agar tanaman pertaniannya tidak habis dimakan emprit.
“Ratusan emprit ini datangnya silih berganti dengan berkelompok dari pagi hingga sore. Lalu makan padi yang mulai mengeluarkan bulir buah. Jadi kalau dibiarkan, maka padi akan habis tak berisi atau gabuk,’’ kata Sri Wahyuni, salah satu petani Desa Butoh, Kecamatan Ngasem, kepada SuaraBanyuurip.com, Selasa (30/12/2025).

Senada diungkapkan Wati. Petani pinggiran hutan ini setiap hari hingga sore juga beraktivitas menunggui tanaman pertaniannya agar tidak habis diserang hama emprit. Dengan memukul jerigen plastik agar emprit tidak hinggap di padi dan menghisap sarinya.
“Pagi dan sore menjelang burung emprit tidur itu serangan paling banyak. Tapi mau bagaimana lagi ini sudah alam. Terpenting tetap melakukan upaya menunggui agar tidak diserang emprit,” pungkasnya.(fin)




