SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari
Bojonegoro — Operator lapangan unitisasi gas Jambaran-Tiung Biru (JTB), PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi Cepu (PEPC) Zona 12 menggelar sosialisasi operasi dan rapat koordinasi (Rakor) dengan multi pihak. Yakni para pemangku kepentingan pemerintahan dan mitra program dalam Program Biru Langit JTB.
Rakor dan sosialisasi dipusatkan di Ruang Rapat Lantai 2, Hotel Eastern, Jalan Veteran, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Kamis (11/9/2025). Agenda kolaboratif ini dilaksanakan guna mengoptimalkan Program Biru Langit JTB yang merupakan Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM).
Hadir dalam perhelatan, Perwakilan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (SKK Migas Jabanusa), Mutiara Puspa, serta Head of Communications Relations and CID Zona 12, Muliawaty beserta jajaran.
Pun para Perwakilan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Pendidikan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DMPD) Bojonegoro, Kepala Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Provinsi Jawa Timur wilayah Bojonegoro, Perhutani KPH Bojonegoro, Kepala SMPN 1 Ngasem, Kepala SMPN 2 Purwosari, Komite Imbal Jasa, NGO mitra dari IDFoS dan Ademos, Bank Sampah Mandiri Keluarga Harapan (BSMKH), serta sejumlah awak media.
“Acara ini kami laksanakan dalam rangka sosialisasi operasi kami terutama PPM oleh PEPC Zona 12, yaitu Program Biru Langit JTB,” kata Head of Communications Relations and CID Zona 12, Muliawaty.
Menurut Weni, begitu perempuan ramah ini karib disapa, agenda ini lebih ke arah untuk menjembatani mengenai operasi PEPC Zona 12. Dengan begitu segala hal yang pihaknya lakukan tersebut lebih dipahami oleh para mitra strategis terkait, untuk kemudian para pihak dapat mendukung kesuksesan Program Biru Langit JTB.
“Karena kami tahu, kami tidak mungkin berjalan sendirian, dengan bersama-sama pasti kita akan lebih kuat, lebih baik, dan kemanfaatannnya akan dirasakan bersama,” ungkapnya.
Sementara Perwakilan SKK Migas Jabanusa, Mutiara Puspa Kusumiati, mengucapkan terima kasih atas kehadiran para pihak dalam kalender ini. Sebab sebagaimana telah diketahui, segala program yang direncanakan dari JTB tidak akan berjalan dengan baik dan maksimal apabila kurang koordinasi dengan pihak yang terkait.
“Besar harapan kami dengan adanya PPM di daerah dapat mendukung kelancaran operasi hulu migas dan menciptakan kesejahteraan sosial yang berkontibusi pada pembangunan yang berkelanjutan,” ucapnya.

Sosialisasi berlanjut dengan pemaparan tiga Program Biru Langit. Yakni Pengolahan Limbah Domestik Terintegrasi, Pengurangan Jejak Emisi Karbon Berbasis Sekolah, dan Agrosilvopastura.
Program Agrosilvopastura dipaparkan oleh Rizal Zubad dari Non Goverment Organization (NGO) mitra, IDFoS Indonesia. Agrosilvopastura mengintegrasikan pengelolaan kehutanan, pertanian, dan peternakan di kawasan hutan. Langkah ini bertujuan untuk mendukung pelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar area operasional.
Agrosilvopastura diterapkan di Desa Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, dengan mengelola lahan seluas 17,71 hektar bersama Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Ngasem Barokah.
Program ini telah menanam lebih dari 11.800 pohon Multi-Purpose Tree Species (MPTS) seperti sengon, mahoni, dan jati serta 12.500 tanaman semak di lahan tersebut. Selain itu, 8,6 hektar lahan marginal telah berhasil dipulihkan menjadi lahan produktif.
Melalui integrasi kegiatan pertanian dan peternakan, PEPC bersama masyarakat berhasil menghasilkan dampak ekonomi yang signifikan. Pada musim tanam 2023, petani setempat memanen 4,3 ton jagung dan 5 ton padi. Selain itu, kegiatan penggemukan domba mencatatkan omzet hingga Rp121 juta dalam tiga siklus penggemukan.
”Keberhasilan ini tidak hanya meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga menjadi bukti bahwa pelestarian hutan dapat berjalan seiring dengan pengembangan ekonomi lokal,” paparnya.
Kemudian, Sekretaris Ademos, Zaenal Arif, membeberkan perihal Pengurangan Jejak Emisi Karbon Berbasis Sekolah. Progam ini merupakan satu rangkaian dengan Program Biru Langit JTB. Sebagai aksi nyata gagasan PEPC Zona 12 bersama Ademos yang telah berjalan sejak tahun 2022.
“Program ini termotivasi untuk sedikit mencoba berkontribusi terhadap isu Indonesia berskala lokal, kala itu yakni Net Zero Emisiion pada 2060. Angan-angan Indonesia ketika itu ialah karbon yang dikeluarkan ke atmosfir dan serapannya itu seimbang,” bebernya.
Beberapa yang dilakukan ialah pembangunan ruang hijau, edukasi lingkungan, pelibatan generasi penerus dalam hal ini adalah para siswa. Salah satu alasan para siswa sebagai sasaran adalah karena para siswa merupakan generasi penerus bangsa.
“Jika para siswa ini pernah mendapat edukasi tentang lingkungan, suatu saat nanti ketika dewasa dia ingat pernah diajari tentang mitigas lingkungan,” terangnya.
Adapun beberapa capaian antara lain telah melaksanakan sosialiasi dan edukasi jejak emisi karbon, Sinau Bareng Pembenihan dengan belajar pembibitan di BPDAS Solo diikuti 30 siswa dan 30 guru. Pembibitan ini punya luas 9,6m x 4m sejumlah 3 unit. Kapasitasnya 6.000 polibag tiap unit.
Lalu penanaman 12.000 vegetasi, ditanam di bantaran sungai Gandong (Dolokgede, Bandungrejo dan Pelem). Kisaran 7.000 vegetasi yang hidup sampai saat ini. Dan pembentukan Komote Imbal Jasa Sekolah. Terdiri 2 orang perwakilan guru dari masing-masing sekolah, yang dapat terlibat langsung dalam program.
Pada 2024 capaian terealisasi yaitu pembuatan Rencana Umum Pengembangan Hutan Sekolah, Draf Legal Formal / SK Hutan Sekolah, Pembuatan 3D masterplan Hutan Sekolah.
“Serta penambahan 3.000 vegetasi penguataan hutan sekolah, dan dalam hal pengelolaan sampah berupa instalasi 80 Biopori untuk serapan air dan sampah organik,” imbuh Arif, sapaan akrabnya.
Paparan ke tiga, yaitu Program Bank Sampah Mandiri Keluarga Harapan (BSMKH) yang digulirkan Pertamina EP Cepu Zona 12 sejak tahun 2018 di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem.
BSMKH telah memberikan perubahan besar terhadap perilaku warga untuk menjaga lingkungannya. Mereka tidak lagi membuang sampah sembarangan, karena sampah-sampah bisa ditampung di bank sampah untuk dipilah, dikelompokan, dan diolah.
Di BSMKH, sampah-sampah dari warga dikelompokan menjadi tiga jenis. Sampah rosok, organik dan sampah plastik. Untuk sampah rosok dijual dan hasilnya dikembalikan ke warga untuk membayar pajak bumi bangunan (PBB). Ada 350 keluarga yang menjadi anggota bank sampah.
Sementara sampah organik untuk budidaya maggot dan pupuk organik. Sedangkan sampah plastik diolah menjadi bahan bakar alternatif (BBA) untuk kendaraan operasional pengangkut sampah.
“Untuk saat ini kita sedang mengembangkan program Si Imut My Darling atau Integrasi Ikan Magot Unggas dan Ternak Bersama Masyarakat Sadar Lingkungan,” tutur Ketua BSMKH, Imam Mukhlas.
”Tidak ada limbah sia sia jika dimanfaatkan dengan teknologi tepat guna. Bank sampah adalah miniatur DLH di desa,” tandasnya.
Selepas paparan tiga program, para peserta mendiskusikan seluruh progam. Di mana terjadi tanya jawab dan saling memberikan tanggapan antar peserta yang mengalir secara apik. Diskusi yang berlangsung terfokus di seputar tiga program yang dipaparkan.(fin)





