Terinspirasi dari Bojonegoro, Petani Muda Tuban Berhasil Kembangkan Kopi Robusta dan Arabika

Petani kopi.
Buah kopi hasil tanam petani asal Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Subkhan.

SuaraBanyuurip.com – Arifin Jauhari

Bojonegoro — Tanaman kopi selama ini dikenal hanya bisa tumbuh di dataran tinggi beriklim sejuk. Namun anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Petani Tuban, Jawa Timur, telah membuktikannya.

Petani itu adalah Subhan. Warga Desa Margomulyo, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, ini berhasil mengembangkan tanaman kopi jenis robusta dan arabika di pekarangan miliknya. Ia terinspirasi dari riset kebun kopi yang dilakukan Lilik Budi Witoyo sejak 2019 di Desa Tlogohaji, Kecamatan Sumberrejo, Bojonegoro.

Subhan mengaku, pada sekitar Juni 2022, dia datang belajar langsung ke kebun riset kopi di Desa Tlogohaji. Ia menilai kondisi alam Tuban hampir sama dengan Bojonegoro, sehingga menurutnya layak dicoba untuk pengembangan kopi.

Kini, sudah ada tak kurang dari 200 pohon kopi robusta dan arabika yang ditanam Subhan. Sampai kemudian di tahun 2025, kebun tersebut telah dua kali panen. Hasilnya cukup menggembirakan.

“Alhamdulillah, rasanya tidak kalah dengan kopi dari daerah lain,” tuturnya kepada Suarabanyuurip.com, Senin (29/9/2025).

Subhan semakin termotivasi. Ia berencana memperluas lahan kopi di Tuban dengan sistem tumpangsari. Tanaman kopi akan dipadukan dengan pohon peneduh seperti pepaya, sengon, durian, kelor, dan alpukat.

Baca Juga :   Petani Bojonegoro Sukses Budidayakan Melon di Dalam Green House
Petani kopi.
Petani Kopi Tuban, Subkhan dengan latar belakang tanaman kopi.

Untuk pemupukannya mengandalkan bahan organik lokal, seperti kotoran ternak dan kulit padi. Selain menghasilkan panen, langkah ini diharapkan membuat lingkungan sekitar tetap lestari dan produktif.

“Sekarang warga sekitar juga mulai ikut tertarik menanam kopi,” beber Bekan, pangillan akrabnya.

“Betul, saya berminat setelah melihat keberhasilan Mas Bekan, itung-itung untuk investasi saya nanti kalau pensiun,” ujar Juremi, pengemudi truk di perusahaan swasta dihubungi secara terpisah.

Juremi melihat bertanam kopi tidak sulit. Hanya butuh memperhatikan kondisi di mana tanaman kopi akan dibudidayakan. Terutama di Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuhan, tempat tinggalnya saat ini. Ia telah banyak belajar kepada Subhan untuk segera menerapkan teknik yang telah didapat.

“Nanti saat saya sudah pensiun setidaknya masih punya penghasilan, dari buah kopi,” ungkap Juremi.

Sementara Petani Kopi Desa Tlogohaji, Kecamatan Sumberrejo, Lilik Budi Witoyo menilai bagus, jika semakin banyak orang yang menanam kopi. Karena konsumsi kopi saat ini tidak hanya menjadi trend tapi menjadi salah satu komoditi pertanian yang banyak dicari.

Baca Juga :   Peringati HUT Ke-80 RI, Puluhan TK dan RA di Ngasem Bojonegoro Gelar Pawai Budaya

“Harganyapun cendrung naik setiap tahunnya, harga kopi mulai tahun 2024 naik drastis, misalnya saja kopi robusta dari yang sebelumnya Rp30 ribu sampai Rp40 ribu, kini naik mencapai Rp80 ribu sampai Rp90 ribu per Kg,” bebernya.

petani kopi.
BERBUAH : Tananam kopi jenis arabika dan robusta berhasil dikembangkan di Tuban.(ist/subkhan)

Terpisah, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro, Zaenal Fanani mengatakan, komoditas kopi di Desa Tlogohaji yang dapat tumbuh dan berbuah, merupakan sebuah fenomena baru yang perlu disyukuri. Secara geoklimat tanaman kopi tumbuh dengan baik di dataran dengan ketinggian 600 sampai dengan 1.800 mdpl, sedang suhu optimalnya adalah 15 – 25 C.

“Tlogohaji dengan ketinggian sekitar 40 mdpl dengan suhu sampai 37C, tetapi kopi bisa tumbuh dan berbuah. Ini merupakan sebuah fenomena langka,” katanya.

Pria asal Blitar ini menambahkan, DKPP sebetulnya sudah lama mengembangkan kopi di Desa Beji, Kecamatan Kedewan. Hasilnya tanaman kopi pun bisa tumbuh dan berbuah dengan baik.

“Tahun 2025 ini akan diberikan bantuan 2.000 bibit kopi di kecamatan tersebut,” papar Zaenal.(fin)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait