SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari
Bojonegoro — Wakil Ketua IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Timur (Jatim), Sri Wahyuni, menyebutkan bahwa Festival Salak Wedi bukan hanya sekadar pesta, melainkan juga penggerak ekonomi rakyat. Sri Wahyuni mengemukakan hal itu ketika menghadiri Festival Salak Wedi di Desa Wedi, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Sabtu (13/12/2025).
”Lembaga legislatif provinsi memiliki komitmen dalam mendorong pengembangan potensi pertanian dan ekonomi desa,” kata Sri Wahyuni kepada Suarabanyuurip.com.
Legislator perempuan dari Fraksi Demokrat itu menilai, festival ini bukan sekadar perayaan hasil bumi, melainkan momentum penting untuk mengangkat kesejahteraan petani dan pelaku UMKM berbasis kearifan lokal. Untuk itu ia mengaku, bersyukur dapat berkumpul dalam Festival Salak Wedi.
”Ini bukan hanya merayakan kekayaan hasil bumi Desa Wedi, tetapi juga meneguhkan komitmen kita bersama untuk terus mengembangkan potensi pertanian dan ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Ia menekankan, bahwa Salak Wedi merupakan kebanggaan daerah yang harus terus dijaga dan dikembangkan. Melalui festival ini, Sri Wahyuni berharap, lahir lebih banyak inovasi, promosi, serta peluang usaha yang mampu memberikan manfaat nyata bagi para petani dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah atau UMKM.
“Semoga dari kegiatan ini semakin banyak terobosan yang muncul, sehingga Salak Wedi semakin dikenal luas dan memberi dampak langsung pada kesejahteraan masyarakat,” harapnya.
Sementara Kepala Desa (Kades) Wedi, Heru Purnomo, menyampaikan, bahwa Salak Wedi memiliki sejarah panjang sebagai penopang ekonomi warga. Saat ini, luas kebun salak di Desa Wedi mencapai sekira 60 hektare yang tersebar di 21 Rukun Tetangga (RT), dengan rata-rata tiga hektare per RT.
Kendati, Heru mengakui terdapat sejumlah tantangan dalam melestarikan Salak Wedi, mulai dari menurunnya semangat warga merawat kebun hingga alih fungsi lahan pekarangan menjadi permukiman. Selain itu, keterbatasan air saat musim kemarau juga menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan tanaman salak.
“Festival Salak Wedi kami jadikan momentum untuk membangkitkan kembali semangat warga. Pemerintah desa bersama masyarakat berkomitmen melestarikan Salak Wedi, tentu dengan dukungan semua pihak, khususnya Pemkab Bojonegoro,” ujarnya.

Festival Salak Wedi tahun ini dimeriahkan dengan kirab 25 gunungan salak yang diarak dari Balai Desa Wedi menuju lokasi Grebek Salak di Jalan Reso Wijaya RT 15. Arak-arakan tersebut disambut antusias oleh warga dan tamu undangan, menjadi simbol rasa syukur sekaligus harapan akan keberlanjutan Salak Wedi sebagai ikon ekonomi desa.
”Dengan semangat kebersamaan, Festival Salak Wedi tak hanya menjadi pesta rakyat, tetapi juga penegasan tekad untuk menjaga warisan pertanian dan mengangkat nama Desa Wedi ke tingkat yang lebih luas,” tandas Heru Purnomo.(fin)





