Wakil Presiden Global Geoparks Network Kunjungi Kayangan Api Bojonegoro

Wakil Presiden GGN, Dato' Dr. Ibrahim saat meninjau Kayangan Api.
Wakil Presiden GGN, Dato' Dr. Ibrahim saat meninjau Kayangan Api di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.(arifin jauhari)

SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari

Bojonegoro — Vice President (Wakil Presiden) Global Geoparks Network (GGN), Profesor Emeritus Dato’ Dr. Ibrahim Komoo, melakukan kunjungan ke Geosite Kayangan Api, di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Sabtu (17/1/2026) malam.

‎Sejumlah pemangku kepentingan hadir dalam agenda ramah tamah penerimaan lawatan tersebut, antara lain Anggota Komite Geopark Nasional Indonesia (KGNI) Hanang Samodra yang tiba bersama rombongan, dan perwakilan Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Timur.

‎Sedangkan di pihak pemerintah kabupaten (pemkab) hadir, yaitu Kepala Bappeda Bojonegoro Ahmad Gunawan Firdausi, General Manager Badan Pengelola (BP) Geopark Bojonegoro Kusnandaka Tjatur Prasetyo, Kepala Dinas Pendidikan Anwar Mukhtadlo, serta jajaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro.

‎Dalam sambutannya, Kusnandaka Tjatur menyampaikan, bahwa sejak kunjungan GGN ke Kahyangan Api pada 2017 hingga kini, terdapat sejumlah kemajuan signifikan, meski di sisi lain masih dihadapkan pada berbagai kendala.

Dato' Dr. Ibrahim Komoo
Dato’ Dr. Ibrahim Komoo (dua dari kari berkaus hitam) saat melihat banyu blukutuk di Kayangan Api.(arifin jauhari)

‎Ia menuturkan, menjelang penetapan Kahyangan Api sebagai Geopark Nasional pada 2017, upaya penguatan sempat terhambat karena pergantian kepala daerah pada 2018 yang berdampak pada keberlanjutan program.

‎“Pada 2019–2020, ketika mulai bergeliat kembali, pandemi Covid-19 datang sehingga banyak kegiatan tidak dapat berjalan berkesinambungan. Saya sendiri baru mendapat amanah sebagai GM BP Geopark pada 2023,” jelasnya.

‎Menurut Kusnandaka, Geopark Bojonegoro memiliki kekhasan dibanding geopark nasional lainnya. Jika sejumlah geopark berbasis gunung api atau kawah memiliki karakter yang relatif serupa, Bojonegoro justru mengusung basis minyak dan gas (migas).

‎“Ini menjadi tantangan tersendiri karena migas bersifat tidak terbarukan, sementara Kahyangan Api merupakan bagian dari basis migas di Kabupaten Bojonegoro,” ungkapnya.

‎Ia berharap, kunjungan Dato’ Dr. Ibrahim Komoo dapat memberikan evaluasi dan penguatan sebagai persiapan menuju UNESCO Global Geopark.

‎”Masukan yang membangun sangat kami harapkan,” katanya.

Baca Juga :   Kades Kurlan : Terima Kasih URC SH Terate Bantuan Air Bersih untuk Warga Gamongan
Wakil Presiden GGN Dr. Ibrahim Komoo.
Wakil Presiden GGN Dr. Ibrahim Komoo berfoto bersama para pihak di Pendopo Kayangan Api di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.(arifin jauhari)

‎Sementara itu, Dato’ Dr. Ibrahim Komoo mengaku, kunjungannya ke Kahyangan Api pada 2017 masih segar dalam ingatannya. Meski demikian, ia belum dapat memberikan penilaian detail terkait perkembangan terkini karena baru tiba di lokasi.

‎“Terkait isu minyak yang suatu saat akan habis, hal itu tidak perlu diragukan akan menghambat penilaian menuju UNESCO Global Geopark. Dalam menilai warisan geologi bertaraf internasional, yang diperhatikan adalah kualitas geologinya,” tegasnya.

‎Ia menjelaskan, proses menuju geopark global tidak akan berhenti hanya karena migasnya habis. Penilaian internasional, termasuk oleh International Union of Geological Sciences (IUGS), didasarkan pada kualitas geologi dan publikasi ilmiah.

‎“Saya yakin dengan perkembangan minyak dan gas di sini, publikasi tentang kawasan ini dari penerbit barat cukup banyak dan itu bisa menjadi penyokong (penopang, red.),” ujarnya.

‎Lebih lanjut, Ibrahim menegaskan, bahwa tujuan utama lawatannya adalah mengenali nilai-nilai apa saja yang akan ditonjolkan di setiap geosite, termasuk aspek pengelolaan dan kelestariannya.

‎”Saya menantikan geosite lain yang akan diperkenalkan dalam dua-tiga hari ke depan,” pungkasnya.(fin)

Pos terkait