SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari
Bojonegoro — Rangkaian geosite dalam Geopark Bojonegoro dinilai memperlihatkan gambaran utuh tentang sistem petroleum di daratan atau “Petroleum System on Land”, mulai dari proses pembentukan hingga migrasi minyak dan gas bumi (migas) ke permukaan.
Penilaian tersebut disampaikan oleh Aris Aries Kusworo, S.T., M.T., ahli geologi dari Pusat Survei Geologi (PSG) Badan Geologi Kementerian ESDM. Aris Kusworo adalah salah satu anggota Tim Pre Assessment Geopark Bojonegoro menghadapi penilaian UNESCO.
Dia menilai tiga lokasi utama yang dikunjungi, yakni Kedung Lantung, Kayangan Api, dan Negeri Atas Angin, membentuk satu rangkaian penjelasan geologi yang saling terhubung dalam sistem migas.
Menurut Aris, Geosite Kedung Lantung menjadi lokasi penting karena memperlihatkan elemen lengkap sistem petroleum, mulai dari batuan induk (source rock), batuan reservoir (reservoir rock), hingga batuan penutup (cap rock).
Kombinasi itu memungkinkan terbentuknya akumulasi hidrokarbon yang kemudian sebagian muncul ke permukaan melalui rekahan batuan akibat aktivitas tektonik masa lampau.
Di Geosite Kayangan Api, fenomena berbeda dapat diamati berupa keluarnya gas alam melalui rekahan batuan yang ditandai dengan api abadi.
”Kondisi ini, menunjukkan adanya migrasi hidrokarbon aktif dari bawah permukaan menuju permukaan bumi,” kata Aris Kusworo kepada Suarabanyuurip.com, Minggu (21/6/2026).
Sementara itu, Geosite Negeri Atas Angin memberikan perspektif regional terhadap sistem cekungan migas. Dari lokasi ini terlihat jelas struktur lipatan batuan yang membentuk Cekungan belakang busur (back-arc basin), yakni zona penting tempat akumulasi minyak dan gas bumi dalam skala besar selama jutaan tahun.

Ketiga geosite ini tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan satu sistem geologi yang utuh. Sehingga sangat baik untuk edukasi karena memperlihatkan bagaimana sistem petroleum bekerja dari bawah permukaan hingga muncul ke permukaan.
”Rangkaian geosite tersebut memperkuat posisi Geopark Bojonegoro sebagai laboratorium alam yang penting untuk memahami proses pembentukan energi fosil di daratan,” tegas Aris.
Kedung Lantung adalah satu lokasi yang mendapatkan perhatian khusus dari tim pre assessment. Seluruh peserta memberikan apresiasi atas perkembangan signifikan yang terjadi di kawasan tersebut dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai fasilitas edukasi, infrastruktur wisata, serta penguatan kapasitas masyarakat dinilai telah meningkatkan kualitas pengelolaan situs secara nyata.
Keberhasilan pengembangan Kedung Lantung dinilai sebagai hasil sinergi yang kuat antara Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Badan Pengelola Geopark Bojonegoro, LPPM Universitas Bojonegoro, kelompok masyarakat melalui Pokdarwis, serta dukungan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).
Terpisah, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), Universitas Bojonegoro (Unigoro), sekaligus Tim Pendamping Teknis Geopark Bojonegoro, Dr. Laily Agustina Rahmawati, S.Si., M.Sc mengaku terkejut dengan penialian Aris Kusworo.
Lantaran, Aris dulunya adalah satu pihak yang sulit diyakinkan bahwa Geopark Bojonegoro sedemikian penting dan menarik. Maka penilaian Aris terkini itu membuat Laily meyakini bahwa Geopark Bojonegoro layak mendapat pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark.
”Pas malam evaluasi di Kayangan Api, beliau (Aris Kiusworo) memberikan statment yang diluar dugaan dan tentu menambah optimisme kami, bahwa Geopark Bojonegoro memang layak,” tandasnya.(fin)





