Indonesia akan Bangun Pabrik Baterai Listrik Terbesar di Asia, Buka 10 Ribu Lapangan Kerja

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.

SuaraBanyuurip.com – Pemerintah Indonesia akan segera mengembangkan ekosistem baterai listrik terintegrasi untuk mempercepat program hilirisasi. Kapasitas produksi baterai listrik mencapai 20 Giga Watt hour (GWh), ekosistem yang dikembangkan diproyeksikan menjadi salah satu yang terbesar di Asia.

Komitmen tersebut terwujud dalam penandatanganan kerangka kerja sama (Framework Agreement) oleh konsorsium ANTAM-IBI-HYD. Penandatanganan dilakukan Direktur Utama PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) Untung Budiharto, PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBI) Aditya Farhan Arif, bersama Director HYD Investment Limited Liu Jinzheng.

Adapun HYD Investment Limited adalah sebuah konsorsium dari Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd. dan EVE Energy Co., Ltd., serta PT Daaz Bara Lestari Tbk (DBL).

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyampaikan penandatanganan ini bagian dari negosiasi yang cukup panjang sekali sejak dirinya masih Kepala BKPM/Menteri Investasi. Penandatanganan kerangka kerja sama ini untuk mempercepat pengembangan ekosistem baterai terintegrasi di Indonesia sebagai langkah strategis mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen sekaligus mendorong transformasi perekonomian nasional.

Baca Juga :   Mulai 20 Maret, Pelaku UMKM Digelontor Subsidi Motor Listrik Rp7 Juta Per Unit

“Waktu itu adalah bagaimana kita mendorong pembangunan realisasi dan membangun ekosistem baterai mobil yang terintegrasi,” kata Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, belum lama ini.

Bahlil menegaskan bahwa kepemilikan mayoritas akan dipegang ANTAM sebagai BUMN karena harus memprioritaskan kepentingan negara sesuai Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945.

“Saya ulangi, arahan Bapak Presiden Prabowo, bahwa dalam rangka pengurangan sumber daya alam, baik sekarang maupun di depan, kita harus memprioritaskan kepentingan negara,” tegasnya.

Bahlil mengakui pengembangan industri ini masih membutuhkan dukungan mitra luar negeri, terutama dalam bentuk transfer teknologi, akses pasar, dan manajemen profesional. Pertemuan dan penandatanganan hari ini dimaksudkan menegaskan semangat kolaborasi, agar realisasi investasi berjalan saling menguntungkan sembari tetap menjaga prioritas kepentingan negara.

Bahlil menyebut, estimasi nilai investasi proyek tersebut mencapai USD6 miliar, dengan potensi penciptaan sekitar 10 ribu lapangan kerja baru. Rencana itu akan dirinci lebih lanjut melalui studi kelayakan yang masih disusun.

Proyek ini tidak hanya mendukung pengembangan kendaraan listrik, tetapi juga mendukung pembangkit listrik hijau, termasuk kebutuhan baterai untuk program PLTS 100 GW.

Baca Juga :   Perusahaan Itali Temukan Cadangan Gas 5 Tcf di Blok Ganal

“Jadi ini tidak hanya untuk baterai mobil, tapi ini juga di-desain untuk baterai panas surya,” kata Bahlil.

Kolaborasi antara investor global Huayou dan EVE Energy dengan perusahaan nasional seperti ANTAM, IBI, dan DBL diharapkan mendorong transfer teknologi sehingga perusahaan nasional kelak bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Bahlil juga menekankan pentingnya keterlibatan perusahaan daerah dalam membangun ekosistem baterai, yang direncanakan melibatkan pihak-pihak setempat, seperti mitra di Jawa Barat dan pengembangan tambang, smelter, serta pabrik hilirisasi yang akan dibangun di Maluku Utara, tepatnya di Halmahera Timur.

“Jadi kita, Insya Allah ke depan, akan menjadi salah satu pemain terbesar dunia, terkait dengan bahan baku dan baterai mobil untuk menuju kepada energi baru terbarukan,” tutup Bahlil.(red)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait