ExxonMobil berhasil meningkatkan lifting di tengah penurunan produksi minyak Blok Cepu. Perusahaan raksasa migas Amerika Serikat ini kembali menjadi produsen minyak terbesar di Indonesia.
Sudah lebih dari dua dekade ExxonMobil mengelola Blok Cepu, sejak kontrak ditandatangangi 2005 silam. Blok migas ini telah berkontribusi besar menghasilkan 30% produksi minyak nasional dan menjadi tulang punggung ketahanan energi Indonesia.
ExxonMobil menjadi produsen minyak terbesar di Indonesia. Produksi minyak lapangan Banyu Urip dan Kedung Keris (KDK), Blok Cepu, di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, sempat menyentuh level tertinggi sebesar 230 ribu barel per hari (bhp) pada medio 2019- 2020.
Lazimnya lapangan migas yang sudah beroperasi lama, Blok Cepu mengalami penurunan produksi secara alamiah. Produksi minyak Blok Cepu turun di angka 140 ribu bph pada 2022. Penurunan produksi ini dianggap sebagai keniscayaan. Namun, ExxonMobil melihatnya secara berbeda: sebagai kesempatan untuk menerapkan teknologi terkini dan menghasilkan kinerja yang lebih optimal.
Perusahaan yang mengeklaim memperkerjakan 99 persen tenaga kerja Indonesia ini terus mengembangkan solusi inovatif yang mampu mengubah tantangan lapangan migas yang kompleks menjadi peluang baru untuk menciptakan nilai –bukan sekadar mempertahankan produksi, tetapi juga menghadirkan performa lebih baik.
Apalagi, lapangan Banyu Urip, Blok Cepu merupakan salah satu aset energi terbesar Indonesia, sehingga berbagai teknologi canggih sedang digunakan ExxonMobil untuk memaksimalkan produksi minyak. Hasilnya, produksi minyak Blok Cepu berhasil ditingkatkan kembali menjadi sebesar 170-180 ribu bph.
WKP Blok Cepu hingga saat ini telah menghasilkan lebih dari 700 juta barel minyak dan berkontribusi lebih dari dari US$37 miliar, atau sekitar Rp 623 triliun, bagi ekonomi Indonesia.
Keberhasilan ExxonMobil meningkatkan produksi minyak dilakukan melalui sejumlah upaya. Diantaranya program Banyu Urip Infill Clastic (BUIC). Proyek ini dilaksanakan sejak 2024 dapat diselesaikan 10 bulan lebih cepat dari target, dan berhasil menambah produksi 30 ribu bph pada 2025.

Sebagai perusahaan multinasional, ExxonMobil juga sukses mendongkrak produksi minyak Blok Cepu dari kegiatan perawatan sumur (Well Services/WS) Sumur Banyu Urip A07. Dari produksi awal 4.800 bph, melejit jadi 12.300 bph, atau meningkat sebesar 7.500 bph. Keberhasilan ini jauh melampaui target awal sebesar 1.000 bph.
Produksi minyak Sumur Banyu Urip A07 melonjak signifikan melalui program Water Shut-Off (WSO). Upaya ini untuk mengurangi aliran air yang tidak diinginkan di dalam sumur sehingga sumur dapat memaksimalkan produksi minyak.
Teknik WSO mampu meningkatkan produksi minyak secara signifikan sekaligus menghadirkan efisiensi waktu dan biaya operasional.
Untuk memaksimalkan potensi produksi operasional Banyu Urip, Blok Cepu, ExxonMobil juga menerapkan teknologi canggih seperti Low Dose Acid (LDA) dan Gas Shut Off (GSO). Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan produksi minyak sekaligus memperkuat ketahanan dan kemandirian energi Indonesia.
LDA merupakan proses yang aman dan terkontrol. Sejumlah kecil zat asam disuntikan ke dalam batuan, sehingga memicu reaksi kimia yang memperbaiki jalur aliran minyak.
Teknologi GSO adalah upaya mengatasi ketika gas dan air mengalir ke sumur minyak lebih awal dari yang diperkirakan, hal ini dapat mengurangi produksi. Teknologi GSO menggunakan bahan kimia khusus untuk mencegah gas dan air mengalir ke dalam sumur, sehingga menghasilkan produksi minyak yang lebih tinggi.
LDA dab GSO merupakan teknologi pionir dari ExxonMobil, yang diterapkan untuk pertama kalinya di Indonesia. Hal ini menjadi bukti perusahaan memanfaatkan keunggulan teknologi global dan manajemen sumur minyak untuk mengidentifikasi solusi yang dapat memberikan nilai nyata.
Teknologi canggih yang diterapkan ExxonMobil sukses menambah produksi dari sumur-sumur idle (sumur yang sudah tidak produksi) di lapangan Banyu Urip, Blok Cepu.
Ada dua sumur idle dari 14 sumur idle di Banyu Urip yang berhasil direaktivasi ExxonMobil dan menambah produksi minyak. Yakni sumur B-05 dari produksi sebelumnya 4.500 bph meningkat menjadi 9.000 bph dan sumur idle B-04 menghasilkan 3.100-4.500 bph.
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto memperkirakan ada potensi tambahan produksi minyak sebesar 100 ribu bph dari lapangan Banyu Urip, Blok Cepu. Tambahan produksi tersebut berasal dari reaktivasi 14 sumur idle di lapangan Banyu Urip.
“Untuk satu sumur idle di Banyu Urip kemarin itu bisa samapai 9.000 barel oil per day. Itu satu sumur lho. Dan itu di sana ada 14 sumur. Kalau itu kita kalikan ada tambahan sekitar 100 ribu kan,” kata Kepala SKK Migas Djoko Siswanto dikutip saat menjadi narasumber di podcast Kementerian ESDM baru-baru ini.
Menurut Djoko, penerapan teknologi sangat diperlukan untuk meningkatkan lifting minyak nasional. Utamanya pada sumur idle sebagai salah satu strategi yang kini gencar dilakukan pemerintah dan operator untuk menambah produksi minyak secara cepat tanpa harus menunggu pengeboran sumur baru yang membutuhkan waktu lebih lama.
“Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga produksi dari Blok Cepu, salah satu tulang punggung produksi minyak nasional,” tegasnya.
Senada disampaikan Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Sugeng Suprawoto. Ia menegaskan, untuk meningkatkan lifting minyak harus dilakukan eksplorasi secara masif dan penggunaan teknologi yang andal.
“Untuk meningkatkan lifting kuncinya hanya dua, eksplorasi, eksplorasi, eksplorasi dan teknologi. Tanpa itu muskil,” kata Sugeng dikutip dari kanal Youtube Detalk bertema: Mewujudkan Ketahanan Energi Nasional, Asa Produksi Minyak 1 Juta Barel, Senin (9/2/2026).
Politisi NasDem ini menyampaikan, lifting minyak nasional sekarang ini bergantung dari produksi lapangan-lapangan tua. Ada dua lapangan yang menjadi tulang punggung lifting minyak nasional saat ini yakani lapangan Banyu Urip, Blok Cepu dan Rokan.
“Sebagaimana kita ketahui backbone kita sekarang ini ada dua, Banyu Urip dan Rokan. Banyu Urip kamarin tambah ada BUIC. Kalau Rokan ini agak banyak gangguan, karena tergantung pada listriknya untuk menghasilkan steam. Bayangkan untuk mengangkat 150 ribu barel saja diperlukan listrik 10 juta tiap keluar, jadi memang costnya agak tinggi,” jelas Sugeng.
Keberhasilan ExxonMobil mengelola lapangan Banyu Urip, Blok Cepu, menjadi salah satu pertimbangan pemerintah untuk memperpanjang kontraknya selama 20 tahun kedepan hingga 2055.
Kepastian itu dikatakan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat menyampaikan sejumlah hasil diplomasi perjanjian perdagangan antara Presiden Indonesia Prabowo Subianto dengan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Hasil kesepakatan itu akan diselesaikan dalam waktu 90 hari.
“Kami juga melaporkan bahwa di sini kita juga melakukan komunikasi terhadap ExxonMobil. ExxonMobil ini salah satu perusahaan minyak Amerika Serikat yang sudah 100 tahun lebih yang beroperasi di Indonesia. Dan mereka adalah salah satu penyumbang lifting terbesar selain Pertamina. Hari ini lifting mereka kurang lebih sekitar 170.000 sampai 185.000 barel. Kita akan memperpanjang sampai dengan 2055 dengan total investasi kurang lebih menambah US$10 miliar,” kata Bahlil.
Bahlil melanjutkan, ada beberapa hal yang perlu diselesaikan sebelum perpanjangan kontrak dilakukan. Khusunya kontrak bagi hasil cost recovery.
“Namun ada beberapa hal yang harus kita clear-kan, termasuk di dalamnya adalah sharing cost recovery antara pendapatan negara dan pendapatan KKKS, sebentar lagi akan selesai,” tegas Bahlil.
Melalui inovasi yang andal, kolaborasi, serta penerapan teknologi canggih secara strategis, ExxonMobil berkomitmen untuk memaksimalkan produksi minyak dari Blok Cepu dan memperkuat ketahanan energi Indonesia.(red)





