SuaraBanyuurip.com – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memperkirakan ada potensi tambahan produksi minyak sebesar 100 ribu barel oil pe4r day (BOPD) dari lapangan Banyu Urip, Blok Cepu. Tambahan produksi tersebut berasal dari reaktivasi 14 sumur idle di lapangan Banyu Urip.
“Untuk satu sumur idle di Banyu Urip kemarin itu bisa sampai 9.000 barel oil per day. Itu satu sumur lho. Dan itu di sana ada 14 sumur idle. Kalau itu kita kalikan ada tambahan sekitar 100 ribu kan,” kata Kepala SKK Migas Djoko Siswanto di podcast Kementrian ESDM.
Namun di sisi lain, lanjut Djoko terdapat penurunan produksi minyak secara alami di lapangan Banyu Urip. Penurunan alami ini terjadi karena cadangan yang ada sudah diproduksi, sehingga cadangan yang ada terus berkurang.
“Tapi masih ada yang bisa kita produksikan lagi dengan intervensi teknologi yang kita punya. Dengan teknologi yang ada, itu 50 sampai 60 persen sudah bagus. Nah, lainnya itu masih melekat di batuan reservoir. Inilah yang kita intervensi dengan teknologi seperti EOR dan kita injeksikan chemical. Di Banyu Urip itu kan terproduksinya minyak sama air dan sama gas. Nah, karena ini semakin lama, semakin lama, air dan gasnya semakin banyak, itu kita sirkulasi untuk injeksi agar menekan minyaknya keluar,” tuturnya.
Satu sumur idle lapangan Banyu Urip yang dimaksud Djoko adalah sumur B-05. Dari produksi sebelumnya 4.500 bph meningkat menjadi 9.000 bph. Di susul sumur idle B-04 menghasilkan 3.100-4.500 barel per hari (bph).
Menurut Djoko, reaktivasi sumur idle merupakan salah satu strategi yang kini gencar dilakukan pemerintah dan operator untuk menambah produksi minyak secara cepat tanpa harus menunggu pengeboran sumur baru yang membutuhkan waktu lebih lama.
“Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga produksi dari Blok Cepu, salah satu tulang punggung produksi minyak nasional,” tegasnya.
Selain tambahan produksi minyak dari sumur idle, sumur Banyu Urip A07 sukses berproduksi sebesar 12.300 bph dari produksi sebelumnyq 4.800 bph. Jumlah ini meningkat sebesar 7.500 bph atau jauh melampaui target awal sebesar 1.000 BOPD.
Produksi minyak Sumur Banyu Urip A07 melonjak signifikan setelah dilakukan kegiatan perawatan sumur (Well Services/WS) melalui program Water Shut-Off (WSO). Upaya ini untuk mengurangi aliran air yang tidak diinginkan di dalam sumur sehingga sumur dapat memaksimalkan produksi minyak.
Teknik WSO mampu meningkatkan produksi minyak secara signifikan sekaligus menghadirkan efisiensi waktu dan biaya operasional. Produksi minyak Sumur Banyu Urip A07 melonjak dari 4.800 BOPD menjadi 12.300 BOPD. Tambahan produksi ini memberikan kontribusi langsung terhadap peningkatan lifting minyak nasional.
Program WSO di Sumur Banyu Urip A07 dilaksanakan untuk menghentikan aliran air yang tidak diinginkan dari zona bawah sumur sehingga sumur dapat menghasilkan proporsi minyak yang lebih tinggi dan mengoptimalkan potensi produksinya. Metode yang diterapkan meliputi pemasangan bridge plug, re-perforation, serta stimulasi acidizing.
Pendekatan teknologi tersebut terbukti efektif dalam mengoptimalkan potensi sumur eksisting tanpa perlu pengeboran baru, sehingga tambahan produksi dapat diperoleh lebih cepat dan lebih hemat biaya.
“Keberhasilan ini menunjukkan bahwa intervensi teknologi yang tepat dapat memberikan peningkatan produksi yang signifikan dalam waktu relatif singkat. Ini adalah bukti bahwa optimalisasi sumur eksisting dapat secara langsung mendorong peningkatan lifting minyak nasional,” pungkas Djoko.(red)





