SuaraBanyuurip.com – Ratusan Petani di empat desa di Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, terancam gagal tanam padi pada musim tanam kedua tahun ini. Aliran air yang menjadi sumber pengairan pertanian mereka berpotensi mampet pada musim kemarau ini.
Ratusan petani tersebut tersebar di Desa Sumodikaran, Ngumpakdalem, Sumbertlaseh, Kecamatan Dander, dan Desa Pacul, Kecamatan Bojonegoro.
Petani di empat desa itu selama ini mengandalkan air dari Bendung Ngunut di Dusun Kare, Desa Sendangrejo, Kecamatan Dander. Namun, karena sedimentasi tinggi menyumbat pintu daerah irigasi (DI) Balong membuat aliran tidak lancar.
Luas lahan persawahan yang digarap mencapai 930 hektar (ha). Rinciannya, DI Balong seluas 316 ha, dan DI Ngunut 614 ha. Dengan hasil produksi rata-rata 7-8 ton per ha.
“Kalau itu tidak segera dinormasiliasi, petani bisa gagal tanam musim kedua ini, karena pasokan air kurang Bendung Ngunut tidak lancar,” kata Ketua Himpunan Petani Pemakai Air (Hippa) Desa Ngumpakdalem, Pandil, Sabtu (4/4/2026).
Petani di empat desa itu selama ini sudah gotong-royong kerja bakti mebersihkan sungai di sepanjang DI Balong agar membantu memperlancar aliran air dari Bendung Ngunut.
“Tapi air yang mengalir dari Bendung Ngunut di DI Balonng sangat kecil akibat tertutup lumpur,” ungkapnya.
Di Bendung Ngunut terdapat empat pintu air. Bendung ini menampung air dari sumber mata air Grogolan Desa Ngunut, dan menjadi suplaisi daerah irigasi (DI) Balong, Ngunut dan DI Dander.
Pandil berharap, Bendung Ngunut segera dinormalisasi agar aliran air ke DI Balong bisa lencar dan dapat memenuhi kebutuhan air bagi pertanian di empat desa. Appalagi informasi yang dia terima dari Dinas Pertanian dan Pengairan, kemarau akan terjadi April ini, dan kondisinya lebih kering dan panjang.
“Kami sudah mengusulkan ke korwil pengairan di sini untuk menormalisasi Bendung Ngunut. Semoga saja tahun ini bisa disetujui,” pungkasnya.
Bupati Bojonegoro Setyo Wahono sebelumnya telah mengeluarkan surat edaran (SE) tentang antisipasi dan mitigasi musim kemarau 2026. SE ini dikeluarkan menyusul informasi dari Badan Meteorologi, Kimatologi dan Geofisika (BMKG) tentang kondisi musim kemarau di Provinsi Jatim termasuk Kabupaten Bojonegoro, diperkirakan bersifat bawah normal atau lebih kering dari biasanya dengan durasi lebih panjang.
Dalam SE tersebut Bupati Bojonegoro menekankan lima hal penting. Pertama, pengelolaan air secara efisien melalui optimalisasi pemanfaatan sumber dan jaringan air yang tersedia dengan menerapkan irigasi hemat air secara bergiliran berdasarkan rekokendasi dan arahan dari petugas teknis Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan penyuluh pertanian di masing-masing wilayah.
Kedua, penyesuaian pola dan waktu tanam melalui penyesuaian kalender jadwal dengan kondisi keteraediaan air. Ketiga, perlindungan tanaman dengan meningkatkan kewaspadaan terhadap serangan organisme pengganggu tumbuhan secara terpadu dan ramah lingkungan.
Keempat, penguatan kelembagaan dan gotong-royong melalui sinergi antar kelompok tani/gapoktan, gabungan Hippa dan petugas.
“Saya juga meminta peran pemerintah desa, kelurahan dan kecamatan ditingkatkan, melalji koordinasi terkait distribusi air secara adil, memfasilitasi kebutuhan sarana prasara pertanian sesuai kewenangannya,” tegas Bupati Wahono dalam SE.(red)





