SuaraBanyuurip.com – Silvia Elok Riyanti, mahasiswi semester enam Prodi Administrasi Publik Universitas Bojonegoro (Unigoro), menjadi nominator bidang pangan Duta Pemuda Pelopor Kabupaten Bojonegoro 2026 bidang pangan.
Gadis asal Desa Klepek, Kecamatan Sukosewu ini menggaungkan gerakan kelorisasi sebagai solusi mengatasi stunting.
Silvia menuturkan, sejak tahun 2023 sudah pernah mengajak masyarakat di sekitar tempat tinggalnya untuk menanam kelor. Terutama memanfaatkan lahan pekarangan yang kosong dengan ditanami kelor dan serai.
“Namun saat itu belum banyak warga yang antusias,” kenangnya.
Ia tak putus asa. Silvia kembali menggagas kembali ide gerakan kelorisasi pada 2026. Namun lebih spesifik untuk menjadi solusi mengatasi stunting.
Dengan bekal pernah mengikuti sosialisasi yang diadakan oleh Dinas P3AKB (Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak Dan Keluarga Berencana), gadis enerjik itu menjelaskan tentang manfaat tanaman kelor ke tetangganya.
Kegigihan Silvia mengundang perhatian Pemerintah Desa Klepek, dan menyosialisasikan kelorisasi dan serai ke lingkup lebih luas. Dari tetangga sekitar hingga ke satu desa.
“Kelor memiliki banyak manfaat bagi semua kalangan. Mulai dari mengatasi stunting pada bayi, memperlancar ASI, dan mengurangi kadar kolesterol pada orang dewasa maupun lansia. Nah, serai menjadi penunjang agar penyerapan kelor ke dalam tubuh menjadi semakin maksimal,” tuturnya, Selasa (28/4/2026).
Daun kelor yang mengandung banyak vitamin dan mineral penting bagi tubuh dapat diolah menjadi berbagai minuman dan makanan yang menyehatkan.
Ketika Silvia mengajak warga di desanya menanam kelor, sebagian tampak antusias karena merasakan sendiri manfaat dari gerakan kelorisasi. Namun dia juga tidak menampik jika ada warga yang mengganggap remeh ajakannya.
“Kendala yang saya rasakan seperti bertahannya antusias warga. Dari yang awalnya mereka antusias menanam kelor, ternyata mereka memilih menebang pohon kelor tersebut karena dirasa mengurangi keestetikan pekarangan rumah mereka,” ungkapnya.
Saat proses penilaian dewan juri Duta Pemuda Pelopor Kabupaten Bojonegoro 2026, ada banyak saran yang diterima oleh Silvia. Terutama produk yang dihasilkan berbeda dari yang lain.
“Kita juga sudah memproduksi berbagai produk, salah satunya minuman segar dengan nama Ratu Lor. Ada juga produk bubuk kelor, teh kelor dan lainnya,” imbuh Silvia.
Meskipun belum berhasil menjadi pemenang dalam ajang tersebut, Silvia tidak lantas patah semangat. Dia justru termotivasi agar mematangkan inovasi dan gagasannya untuk ke depannya.
Silvia bukan satu-satunya mahasiswa Unigoro yang mengikutiv ajang Duta Pemuda Pelopor Kabupaten Bojonegoro. Alumni dan Mahasiswa Unigoro lainnya juga konsisten mengikuti kegiatan tahunan tersebut.
Mentor sekaligus dewan juri Duta Pemuda Pelopor Kabupaten Bojonegoro 2026, M. Rizqi Agustino, S.Kom., MBA., mengapresiasi partisipasi civitas akademika Unigoro dari tahun ke tahun. Menurut akademisi muda ini, partisipasi peserta tersebut murni atas kepedulian, dan pergerakan untuk masyarakat.
“Mereka sebagai pelopor di lingkungannya, mereka bergerak, dan mereka berdampak nyata. Pemuda luar biasa yang patut diapresiasi,” pujinya.
Rizqi berharap, nominator dan pemenang Pemuda Pelopor tetap terus berdampak. Sehingga bisa mendapatkan atensi dari dunia akademik.
‘Dosen maupun peneliti bisa berkolaborasi dengan para Pemuda Pelopor. Sehingga dampaknya ke masyarakat bisa lebih luas, khususnya untuk Kabupaten Bojonegoro,” tandas Dosen Prodi Manajemen Ritel Unigoro.(red)





