SuaraBanyuurip.com – Keberadaan anggrek langka di dunia, Dendrobium Capra yang tumbuh di kawasan hutan Gondang, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mengundang perhatian kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) hulu migas, Pertamina EP Sukowati.
Pertamina EP Sukowati yang merupakan bagian dari Zona 11 Subholding Upstream Pertamina, itu tertarik untuk menyelamatkan Anggrek D. Capra, spesies endemik yang kini berada di ambang kepunahan dan tercatat sebagai endangered species dalam Red List IUCN.
Di tengah rindangnya tegakan jati, tim PEP Sukowati meninjau langsung titik-titik habitat alami D. Capra yang diyakini menjadi salah satu populasi terakhir spesies tersebut di dunia pada Selasa (12/5/2026) kemarin.
Kunjungan tersebut menjadi sinyal kuat lahirnya kolaborasi besar antara dunia industri, akademisi, dan pengelola kawasan hutan untuk menyelamatkan salah satu kekayaan hayati paling langka yang dimiliki Indonesia. Sehingga upaya konservasi di Bojonegoro menjadi perhatian penting. Tidak hanya bagi daerah, tetapi juga bagi konservasi global.
Terlebih, kawasan Hutan Jati Gondang dalam waktu dekat akan ditetapkan sebagai Hutan Pendidikan dan Laboratorium Alam Universitas Bojonegoro (Unigoro) yang bekerja sama dengan Perhutani KPH Bojonegoro.
Ketertarikan Pertamina EP Sukowati terhadap konservasi D. capra dinilai sejalan dengan komitmen perusahaan dalam menjaga keanekaragaman hayati dan mendukung implementasi PROPER (Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan).

PEP Sukowati Field Manager, Arif Rahman Hakim menyampaikan, perusahaan memiliki ketertarikan kuat untuk terlibat dalam penyelamatan spesies langka tersebut, salah satunya melalui dukungan riset dan penguatan program konservasi.
“Keberadaan D. capra ini sangat bernilai karena statusnya langka secara internasional. Apa yang tersisa di lokasi ini adalah aset penting bagi masa depan. Ini adalah warisan bagi anak cucu kita di masa depan,” ungkap Arif.
Menurutnya, kolaborasi konservasi tidak hanya menjadi bentuk kepedulian lingkungan perusahaan, tetapi juga bagian dari tanggung jawab bersama untuk menjaga biodiversitas keanekaragaman hayati Indonesia yang kini semakin terancam.
Sementara itu, Ketua LPPM Universitas Bojonegoro, Dr. Laily Agustina Rahmawati, menyambut antusias rencana kolaborasi tersebut. Ia menegaskan bahwa upaya konservasi D. capra merupakan pekerjaan besar yang membutuhkan dukungan lintas sektor.
Menurutnya, konservasi D. capra di Hutan Jati Bojonegoro ini menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi Bojonegoro karena yang dijaga adalah spesies dengan tingkat kelangkaan dunia.
“Meskipun kawasan ini nantinya menjadi Hutan Pendidikan Unigoro, kami memiliki banyak keterbatasan untuk memastikan konservasi berjalan optimal. Karena itu, dukungan berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk memastikan keberlangsungan anggrek ini di masa depan,” ungkapnya.
Laily menambahkan, penjajakan kerja sama ini diharapkan menjadi awal lahirnya gerakan konservasi yang lebih besar di Bojonegoro. Tidak sekadar menjaga hutan, tetapi juga menyelamatkan spesies yang keberadaannya terancam hilang dari muka bumi.
“Dari Hutan Jati Gondang, pesan itu kini menggema: Bojonegoro bukan hanya tentang energi dan migas, tetapi juga tentang menjaga kehidupan dan warisan biodiversitas dunia.(red)





