SuaraBanyuurip.com – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bojonegoro, Jawa Timur membekali mahasiswa Universitas Bojonegoro (Unigoro) yang akan melakukan kuliah kerja nyata (KKN) tematik kolaboratif (TK). Pembekalan membahas secara spesifik konsep keberlanjutan dan strategi pembangunan wilayah.
Kabid Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Bappeda Bojonegoro, Wiwik Retnoningsih memaparkan struktur ekonomi masyarakat yang tinggal di kawasan hutan selatan Bojonegoro. 11,49% penduduk di Kabupaten Bojonegoro masuk kategori miskin, dan sebagian besar tinggal di kawasan hutan bagian selatan. Dengan tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap sistem budidaya pertanian monokultur jagung.
“Kita telah memetakan lahan-lahan kritis menjadi tiga klaster. Klaster selatan dan barat daya meliputi Margomulyo, Ngraho, Sekar, dan Gondang. Klaster tengah meliputi Tambakrejo, Ngambon, Bubulan, dan Temayang. Klaster utara dan DAS Bengawan Solo meliputi Bojonegoro, Kapas, Balen, Kanor, dan Baureno,” paparnya.
Wiwik menjelaksan situasi kawasan hutan selatan Bojonegoro memiliki potensi dan tantangan tersendiri. Dari sisi potensinya terdapat sumber daya alam (SDA) hutan yang masif serta keanekaragaman hayati. Sekaligus ada potensi wisata desa dan sektor UMKM yang masih bisa dikembangkan. Tantangannya kawasan hutan selatan rentan terhadap berbagai risiko bencana serta kendala pembangunan.
“Maka program pembangunan wilayah hutan yang acapkali ditawarkan selalu dalam bentuk agroforestry, silvopastura, dan perhutanan sosial. Agar program tersebut berjalan lancar, maka perlu kolaborasi pentahelix antara pemerintah, lembaga masyarakat, akademisi, dunia usaha, serta media massa maupun media sosial,” terangnya.
Dia menambahkan, keberlanjutan kawasan hutan selatan Kota Ledre memerlukan pendekatan terpadu yang menyeimbangkan fungsi ekologis dan ekonomi. Di antaranya pengelolaan hutan secara lestari, penguatan pengawasan illegal logging dan tambang, pencegahan kebakaran hutan, revitalisasi agroforesti dan perhutanan sosial, hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat berbasis hutan.
“Kawasan Hutan Bojonegoro bukan hanya penyangga ekologi, tetapi juga fondasi ketahanan wilayah dan ekonomi masyarakat. Keberlanjutan hutan adalah kunci keberlanjutan daerah,” pungkasnya.(red)





