SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari
Bojonegoro – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax Ron 92 menjadi Rp16.250 per liter mulai Rabu (10/6/2026) membuat sebagian masyarakat di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mengubah pilihan bahan bakarnya.
Sejumlah pengguna Pertamax memilih beralih ke Pertalite karena selisih harga yang dinilai cukup memberatkan. Peralihan tersebut diakui sejumlah konsumen. Salah satunya Anang Febrian. Warga di Kecamatan Dander ini mengaku, terpaksa mengganti jenis BBM yang digunakan setelah harga Pertamax mengalami kenaikan.
“Sebelumnya saya pengguna Pertamax Turbo 98, mengalami kenaikan yang sangat drastis, akhirnya berubah ke Pertamax 92. Sekarang juga ikut naik, ya akhirnya beralih ke Pertalite,” ungkapnya.
Senada, warga lainnya di Kecamatan Balen, Muryanto merasakan dampak kenaikan harga Pertamax berpengaruh langsung pada biaya transportasi yang harus dikeluarkan setiap hari.
“Cukup menguras kantong. Dan sangat kaget, kenaikannya hampir Rp4.000 per liter,” ujarnya.
Namun, dampak perubahan pola konsumsi BBM oleh masyarakat ini belum bisa dilihat secara serta merta. Pengelola Stasiun Bahan Bakar Umum (SPBU) Syirkah Amanah Balen, Zainul Fuad, mengaku belum bisa segera melihat perubahan serapan BBM.
“Sebab perubahan harga kan baru tadi malam pengumuman kenaikan harga dan baru kami rekap setelah 24 jam. Biasanya dampaknya baru bisa dilihat beberapa hari ke depan,” beber Fuad kepada Suarabanyuurip.com via telepon Whatsapp.
Terpisah, Pertamina Patra Niaga Regional Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Jatimbalinus) memastikan penyesuaian harga hanya berlaku untuk sejumlah produk BBM nonsubsidi.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menyebut, harga Pertamax (RON 92) di wilayah Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara mengalami penyesuaian dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter.
Selain Pertamax, harga Pertamax Green 95 juga naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Sedangkan harga Pertalite dan Biosolar subsidi tetap masing-masing Rp10.000 per liter dan Rp6.800 per liter.
Menurut Ahad, penyesuaian harga BBM nonsubsidi dilakukan mengikuti perkembangan harga minyak dunia dan mengacu pada formula penetapan harga yang berlaku.
”Masyarakat diimbau untuk memperoleh informasi harga BBM melalui kanal resmi Pertamina,” tandasnya.(fin)




