SuaraBanyuurip.com – Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Geosite Kedung Lantung Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mendapat pelatihan pemandu bertema Manajamen dan Baranding Kawasan Wisata. Pelatihan ini sebagai upaya pengembangan Geosite Kedung Lantung sebagai destinasi unggulan geowisata menuju geopark dunia.
Pelatihan pemandu wisata Geosite Kedung Lantung merupakan bagian dari Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), operator migas Blok Cepu. Pelatihan ini untuk mendukung Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dalam mewujudkan Geopark Nasional Bojonegoro menuju UNESCO Global Geopark (UGGp).
Pelatihan pemandu wisata Geosite Kedung Lantung difasilitasi oleh LPPM Universitas Bojonegoro (UNIGORO). Menghadirkan praktisi pariwisata dari Yogyakarta, Galuh Alif Fahmi Rizki, yang telah berpengalaman lebih dari 13 tahun mendampingi pengembangan desa wisata. Galuh dikenal sebagai salah satu pendamping yang berhasil mengantarkan Desa Wisata Tinalah, Purwoharjo, Samigaluh, Kulon Progo, DIY menjadi salah satu desa wisata terbaik di Indonesia.
Dalam sesi pelatihan, peserta yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) mendapatkan pembekalan mengenai pentingnya membangun kelembagaan yang kuat sebagai fondasi pengelolaan destinasi wisata. Materi yang diberikan meliputi penyusunan visi dan misi organisasi, penyusunan AD/ART, hingga strategi branding kawasan wisata.
Selain itu, peserta juga diajak melakukan pemetaan potensi wilayah secara komprehensif. Potensi yang diidentifikasi mencakup makanan dan minuman khas, UMKM lokal, hasil pertanian unggulan, seni budaya, flora dan fauna khas, hingga berbagai destinasi wisata pendukung yang dapat memperkuat daya tarik Geosite Kedung Lantung.
Galuh menekankan keberhasilan sebuah destinasi wisata tidak hanya ditentukan oleh keunikan objek wisatanya, tetapi juga oleh kesiapan masyarakat dan kelembagaan yang mengelolanya.
“Potensi wisata yang besar harus didukung organisasi yang kuat, memiliki arah yang jelas, serta mampu membangun identitas kawasan yang membedakannya dari destinasi lain,” ujarnya.

Salah satu peserta, Rico Thomas menyampaikan, tantangan terbesar Pokdarwis saat ini adalah membangun kesadaran internal mengenai besarnya potensi wisata yang dimiliki Kedung Lantung.
“Pokdarwis harus memiliki kesadaran terlebih dahulu agar dapat menyadarkan masyarakat tentang arti penting Kedung Lantung. Kami berharap kawasan ini suatu saat menjadi magnet ekonomi baru bagi masyarakat Desa Drenges,” ungkap Rico.
Menurutnya, penguatan kelembagaan juga menjadi pekerjaan rumah yang penting karena Pokdarwis Kedung Lantung masih tergolong baru dan membutuhkan banyak bimbingan, arahan, serta dukungan dari berbagai pihak.
Sementara itu, Ichwan Hadi, Project Manager Program Dukungan Geopark Bojonegoro dari LPPM Unigoro, menegaskan komitmen tim pendamping untuk terus menghadirkan narasumber yang kompeten dan berpengalaman.
“Kami akan berupaya semaksimal mungkin menghadirkan praktisi terbaik agar Pokdarwis mendapatkan wawasan dan pengalaman yang relevan dalam mengembangkan Geosite Kedung Lantung,” jelasnya.
Dukungan terhadap program ini juga disampaikan oleh Slamet Rijadi, perwakilan EMCL. Ia berharap proses pendampingan masyarakat dapat berjalan beriringan dengan pembangunan infrastruktur kawasan.
“Kami berharap penguatan kapasitas Pokdarwis berjalan sejalan dengan pengembangan infrastruktur. Ketika infrastruktur siap, masyarakatnya juga siap untuk mengelola dan memanfaatkan peluang yang ada,” katanya.
Melalui pelatihan ini, Pokdarwis Kedung Lantung diharapkan semakin siap menjadi motor penggerak pengembangan geowisata berbasis masyarakat. Sekaligus memperkuat peran Geosite Kedung Lantung sebagai salah satu aset penting dalam perjalanan Geopark Bojonegoro menuju pengakuan dunia sebagai UNESCO Global Geopark.(red)





