Membangun Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru Bojonegoro di Geosite Kedung Lantung

Kedung Lantung Geopark Bojonegoro.
Kedung Lantung di Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, menjadi salah satu Geopark Nasional Bojonegoro yang memenuhi kriteria geopark dunia atau UGGp.

SuaraBanyuurip.com – Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, menyimpan banyak potensi. Mulai sektor perkebunan tembakau, UMKM, budaya hingga wisata alam.

Desa Drenges berda di kaki pegunungan Kendeng. Memiliki luas 87,15 kilometer, Desa Drenges dihuni sekitar 4.700 an jiwa yang tersebar di beberapa dusun.

Drenges dulu dikenal sebagai salah satu desa angker bagi pejabat Bojonegoro. Mitos yang berkembang, pejabat yang menginjakkan kaki di tanah Desa Drenges bakal kehilangan jabatan.

Namun, Drenges, sekarang ini telah menjelma menjadi sebuah desa yang menarik perhatian banyak pihak. Kuliner tradisional seperti sate jamur, hingga produk UMKM lahir dari desa di kawasan hutan ini. Di antaranya, keripik jamur, keripik pisang, dan keripuk usus menjadi produk unggulan.

Di Desa Drenges juga ada kolam renang, dilengkapi denga stan aneka kuliner yang memanjakan pengunjung.

Desa Drenges sebelumnya sulit dijangkau karena kondisi geografinya kurang menguntungkan. Berada di paling ujung selatan wilayah Kecamatan Sugihwaras, dengan akses jalan tidak memadai.

Sekarang berbeda. Desa Drenges mudah dijangkau. Bisa ditempuh melalui jalur utama dari perempatan Balen ke selatan. Jalur ini juga terhubung dari barat Temayang dan sebelah timur Kedungadem. Kondisi jalannya sudah rigid beton.

Geopark Bojonegoro.
LPPM Unigoro saat melakukan penelitian Geosite Kedung Lantung Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, Kabupaten Bojonegoro.

Potensi Desa Drenges untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Kabupaten Bojonegoro mulai mendekati kenyataan. Geosite Kedung Lantung di desa ini sedang dipersiapkan menjadi destinasi unggulan untuk mendukung ambisi Bojonegoro menuju UNESCO Global Geopark (UGGp).

Baca Juga :   Respon Keluhan Warga, Jalan JC ke JE JTB Kembali Akan Disiram

“Drenges akan jadi kota,” kata kata Kepala Desa Drenges, Yaspingi.

Yaspingi meyakini impian itu akan terwujud. Leluhur desa selalu bercerita Drenges akan menjadi desa maju, dikenal luas masyarakat, dan banyak dikunjungi.

“Leluhur sering berkata bahwa suatu saat Drenges akan menjadi kota. Dan, sekarang sudah mendekati kenyataan,” tegasnya.

Yaspingi berharap Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Drenges serius mengikuti pendampingan agar mampu mengelola kawasan Geosite Kedung Lantung secara profesional di masa depan.

Senada disampaikan Camat Sugihwaras, Supranata. Ia meminta masyarakat Drenges tidak hanya menjadi penonton, tetapi harus mulai peduli pada kebersihan lingkungan sungai agar wisatawan merasa nyaman.

“Jangan lagi buang sampah di sungai. Kedung Lantung ini milik kita, harus dirawat dengan gemati,” pesannya.

Salah satu keunggulan utama Geosite Kedung Lantung Desa Drenges adalah pengunjung dapat melihat langsung minyak bumi yang merembes keluar dari celah bebatuan di aliran sungai secara alami, yang jarang ditemukan di tempat lain. Meski mengeluarkan minyak bumi, namun ikan di sungai tersebut tetap hidup.

Baca Juga :   Sambut Menteri LH, Bupati Bojonegoro Harap Gerakan ASRI Kembalikan Predikat Adipura ‎
Kedung Lantung.
Perwakilan EMCL, Unigoro dan Pemdes Drenges melihat lokasi Geosite Kedung Lantung yang akan dikembangkan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Bojonegoro.

Pengembangan geosite Kedung Lantung di Desa Drenges mendapat dukungan dari operator lapangan minyak Banyu Urip, Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL). Menggandeng LPPM Universitas Bojonegoro (Unigoro), EMCL mulai mendampingi warga Drenges mengelola potensi tersebut secara mandiri.

“Kami bermitra dengan LPPM Unigoro untuk mewujudkannya,” ujar perwakilan EMCL, Slamet Rijadi, dalam sosialisasi program di Balai Desa Drenges, Jumat (8/5/2026) kemarin.

Slamet mengaku optimis melihat antusiasme warga yang begitu kuat. Masyarakat Drenges bahkan telah membentuk panitia pelaksana pembangunan dan bergotong royong membangun destinasi wisata Geosite Kedung Lantung. Baginya, keterlibatan aktif warga adalah kunci transparansi dan akuntabilitas.

“Bantuan dari EMCL dikelola langsung oleh masyarakat dengan pendampingan tim Unigoro. Hal ini memperkuat rasa kepemilikan warga terhadap Geosite Kedung Lantung,” tambah Slamet.

Ketua LPPM Unigoro, Dr. Laily Agustina Rahmawati menambahkan, sinergi ini bertujuan mengungkap nilai ilmiah Kedung Lantung ke level internasional.

“Kami mendampingi dari sisi infrastruktur hingga kapasitas SDM. Semoga Drenges bukan hanya menjadi kota, tapi destinasi dunia,” ungkap Laily.

Kini, Kedung Lantung mulai tumbuh menjadi simbol harapan baru. Warga percaya, hadirnya geosite ini akan menjadi daya ungkit ekonomi lokal melalui peluang usaha baru dan terciptanya lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.(red)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait