Sebut Jumlah Desa Rawan Kekeringan di Bojonegoro Turun

BPBD Kabupaten Bojonegoro dropping air bersih
Personel BPBD Kabupaten Bojonegoro saat mendropping air bersih di desa terdampak kekeringan.(istimewa)

SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari

Bojonegoro – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro menyebutkan jumlah desa yang berpotensi mengalami kekeringan pada musim kemarau 2026 turun 13 desa atau 12,3 persen dibanding tahun lalu. Jika pada 2025 terdapat 106 desa rawan kekeringan, tahun ini jumlahnya menjadi 93 desa yang tersebar di 24 kecamatan.

‎Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Bojonegoro, Heru Wicaksi, mengatakan, data tersebut merupakan hasil pemetaan kerawanan kekeringan yang dilakukan BPBD sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau tahun ini.

‎”Untuk tahun 2026 ini terdapat 93 desa di 24 kecamatan yang berpotensi mengalami kekeringan,” kata Heru Wicaksi kepada Suarabanyuurip.com, Jumat (12/6/2026).

‎Menurut Heru, selisih jumlah desa dibanding sebelumnya yakni turun sebanyak 13 desa atau 12,3 persen dari desa terdampak pada tahun 2025. Berkurangnya jumlah desa rawan kekeringan dibanding tahun lalu tersebut dipengaruhi meningkatnya akses masyarakat terhadap air bersih.

‎”Sejumlah desa telah memiliki sarana penyediaan air bersih, sementara cakupan layanan Perumda Air Minum juga terus bertambah,” ujar Heru, sapaan akrabnya.

Baca Juga :   Pantang Libur, Tim Jemput Gabah Genjot Serapan di Wilayah Bulog Bojonegoro

‎Dengan tren penurunan tersebut, maka upaya pembangunan infrastruktur air bersih dan perluasan layanan distribusi air diharapkan dapat terus menekan jumlah desa yang terdampak kekeringan pada tahun-tahun mendatang.

‎Meski jumlah desa rawan menurun, Heru mengingatkan potensi kekeringan tetap harus diwaspadai. Sebab, kondisi cuaca selama musim kemarau dapat memengaruhi ketersediaan sumber air di masing-masing wilayah.

‎Ditegaskan bahwa, BPBD Bojonegoro telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi, termasuk penyaluran bantuan air bersih bagi warga yang terdampak apabila kekeringan mulai terjadi. Sebab musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih panjang.

‎”Oleh sebab itu masyarakat kami imbau untuk tetap menghemat penggunaan air dan menjaga sumber-sumber air yang tersedia,” tegasnya.

‎Data BPBD menunjukkan kecamatan dengan jumlah desa berpotensi kekeringan terbanyak masih berada di sejumlah wilayah yang selama ini menjadi langganan krisis air saat musim kemarau.

‎”Dari 24 kecamatan yang diprediksi terdampak kekeringan, Kecamatan Sumberrejo, Kepohbaru, dan Ngasem menjadi wilayah dengan jumlah desa rawan kekeringan terbanyak,” tandasnya.(fin)

Pos terkait