Anggrek Endemik Jawa Mekar Saat Asesor UNESCO Datang di Hutan Jati Bojonegoro

Laily Agustina Rahmawati
Ketua LPPM Unigoro, Laily Agustina Rahmawati (tengah) bersama Asesor UNESCO, Li Yue (kanan) di hutan jati Gondang Bojonegoro.

Oleh: Dr. Laily Agustina Rahmawati, S.Si., M.Sc.

Momen langka menyambut kedatangan tim asesor UNESCO Global Geopark (UGGp), Andreas J. Schuller dari Jerman dan Li Yue dari Tiongkok, saat mengunjungi Biosite Hutan Jati Gondang, Kabupaten Bojonegoro. Di sela-sela tegakan pohon jati yang menjulang tinggi, anggrek endemik Pulau Jawa, Dendrobium capra atau Larat Hijau, sedang bermekaran.

Peristiwa tersebut menjadi perhatian tersendiri karena Dendrobium capra hanya berbunga sekali dalam setahun. Mekarnya anggrek langka itu tepat pada hari kunjungan asesor UNESCO dinilai sebagai pemandangan yang sangat istimewa.

Bagi masyarakat maupun pegiat konservasi, mekarnya anggrek endemik tersebut bukan sekadar menghadirkan keindahan alam. Fenomena ini menjadi simbol bahwa ekosistem yang terjaga mampu menunjukkan daya hidupnya. Di tengah proses penilaian yang berlandaskan indikator ilmiah UNESCO, alam seolah memperlihatkan sendiri nilai konservasi yang selama ini dijaga oleh Geopark Bojonegoro.

Biosite Hutan Jati Gondang merupakan satu dari dua biosite yang masuk dalam rangkaian kunjungan lapangan tim asesor UNESCO Global Geopark.

Kawasan ini dipilih karena merepresentasikan karakter vegetasi khas Zona Kendeng di bagian selatan Geopark Bojonegoro, sekaligus menjadi contoh nyata keterkaitan antara geologi, keanekaragaman hayati, dan kehidupan manusia sebagai tiga pilar utama konsep UNESCO Global Geopark.

Keistimewaan Hutan Jati Gondang tidak hanya terletak pada hamparan tegakan jatinya yang luas, tetapi juga pada kualitas kayu jati Bojonegoro yang sejak lama dikenal sebagai salah satu yang terbaik di Indonesia. Kualitas tersebut bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari proses geologi yang berlangsung selama jutaan tahun.

Hutan jati ini tumbuh di atas Formasi Klitik, yang tersusun dari material vulkanik hasil aktivitas gunung api purba di bagian selatan Pulau Jawa dan bercampur dengan batuan pasir karbonatan. Kombinasi kedua material tersebut menghasilkan tanah yang kaya mineral, terutama kalsium, sehingga mendukung pembentukan batang pohon yang kuat dan padat.

Baca Juga :   Berikut Hasil Penilaian Tim Asia Geopark Network

Di sisi lain, iklim Bojonegoro yang relatif kering membuat pertumbuhan pohon jati berlangsung lebih lambat. Kondisi tersebut menghasilkan lingkaran tahun yang lebih rapat sehingga kayunya memiliki kepadatan, kekuatan, dan kualitas tinggi. Perpaduan faktor geologi dan iklim inilah yang menjadikan kayu jati Bojonegoro telah diakui kualitasnya sejak lama.

Selain menghasilkan kayu berkualitas, Hutan Jati Gondang juga memiliki fungsi ekologis yang sangat penting. Setiap pohon jati mampu menyerap karbon sekitar 10–40 kilogram per tahun, sehingga berperan sebagai benteng alami dalam mitigasi perubahan iklim.

Di bawah permukaannya, Formasi Klitik yang berpori berfungsi sebagai akuifer alami yang mampu menyimpan sekaligus mengalirkan air tanah.

Anggrek Dendrobium Capra
Anggrek Dendrobium Capra tumbuh di pepohonan jati wilayah Hutan Jati Gondang Bojonegoro.

Bersama tegakan hutan jati di atasnya, sistem tersebut menjaga keberlangsungan sedikitnya 69 mata air dengan total debit tahunan sekitar 21 juta liter. Hubungan antara batuan, tanah, vegetasi, dan sumber air ini menjadi bukti nyata bahwa warisan geologi memberikan manfaat langsung bagi kehidupan masyarakat.

Nilai konservasi kawasan ini semakin tinggi karena menjadi habitat Dendrobium capra, anggrek endemik Pulau Jawa yang berstatus Endangered (Terancam Punah) dalam Daftar Merah IUCN. Keberadaan spesies langka tersebut menjadi indikator bahwa Hutan Jati Gondang masih memiliki kualitas habitat yang sangat baik sekaligus menegaskan pentingnya menjaga kelestarian ekosistem hutan jati di Bojonegoro.

Berdasarkan nilai geologi, keanekaragaman hayati, dan fungsi ekologinya, Hutan Jati Gondang kemudian ditetapkan sebagai salah satu Biosite Geopark Bojonegoro. Namun, penetapan tersebut bukanlah akhir dari sebuah proses, melainkan awal dari upaya konservasi yang lebih terarah melalui pendekatan ilmiah, pendidikan, dan kolaborasi multipihak.

Melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), Universitas Bojonegoro mengambil peran aktif dalam mengembangkan Biosite Hutan Jati Gondang. Berbagai penelitian, inventarisasi biodiversitas, pemetaan potensi kawasan, penyusunan interpretasi ilmiah, hingga program edukasi konservasi dilakukan secara berkelanjutan sebagai bagian dari penguatan fungsi biosite.

Baca Juga :   Piala Soeratin U-17: Persibo Bojonegoro Targetkan Poin Penuh di Sisa Dua Laga

Hasil berbagai kajian tersebut menjadi landasan ilmiah dalam pengembangan kawasan konservasi sekaligus memperkuat posisi Hutan Jati Gondang sebagai bagian penting dari Geopark Bojonegoro.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui kolaborasi antara Universitas Bojonegoro, Perhutani KPH Bojonegoro, dan Badan Pengelola Geopark Bojonegoro dalam mengembangkan kawasan seluas sekitar 7 hektare sebagai Hutan Pendidikan dan Laboratorium Alam Universitas Bojonegoro.

Kawasan ini tidak hanya menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa dan peneliti, tetapi juga berkembang sebagai pusat penelitian, konservasi biodiversitas, pendidikan lingkungan, serta pengembangan inovasi berbasis potensi lokal.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, BUMN kehutanan, dan Badan Pengelola Geopark tersebut menjadi contoh nyata implementasi konsep UNESCO Global Geopark, yakni mengintegrasikan konservasi, pendidikan, penelitian, dan pembangunan berkelanjutan dalam satu kawasan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Kunjungan tim asesor UNESCO Global Geopark ke Biosite Hutan Jati Gondang menjadi momentum penting untuk memperlihatkan hasil dari proses panjang tersebut. Di hadapan para asesor, yang ditampilkan bukan hanya bentang hutan jati berkualitas tinggi, melainkan juga sebuah ekosistem yang dikelola melalui kolaborasi, riset, dan komitmen jangka panjang.

Seolah menjadi penutup yang sempurna, mekarnya Dendrobium capra pada hari kunjungan tersebut menjadi simbol bahwa konservasi yang dilakukan secara konsisten mampu menjaga kehidupan.

Bunga langka yang hanya mekar setahun sekali itu seakan menyampaikan pesan bahwa Hutan Jati Gondang bukan sekadar kawasan hutan, tetapi juga rumah bagi keanekaragaman hayati yang menjadi bagian penting dari warisan Geopark Bojonegoro.

“Keunggulan geologi saja tidak cukup. Faktor yang paling menentukan keberhasilan sebuah geopark adalah keterlibatan dan dukungan masyarakat yang hidup di dalamnya,” begitu menurut Andreas Schuuler saat gala dinner di Kayangan Api.

Penulis adalah Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Bojonegoro. 

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait