Wakil Presiden GGN: Wonocolo Bojonegoro Satu-satunya Sumber Minyak di Dunia Erat dengan Manusia ‎

Wakil Presiden GGN, Profesor Emeritus Dato' Dr. Ibrahim Komoo
Wakil Presiden GGN, Profesor Emeritus Dato' Dr. Ibrahim Komoo kala berada di Geosite Wonocolo, Bojonegoro.(ist/disbudpar)

SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari

Bojonegoro — Vice President (Wakil) Presiden Global Geoparks Network (GGN), Prof. Emeritus Dato’ Dr. Ibrahim Komoo, menyatakan kekagumannya terhadap geosite geopark yang ada di Bojonegoro. Dalam penilaiannya, geopark nasional yang ada di Bojonegoro  telah memiliki status tinggi.

‎Ia mencontohkan Geosite Wonocolo sebagai satu-satunya lokasi di dunia yang menunjukkan hubungan sangat erat antara sumber minyak dan manusia. Di mana tak ada lagi tempat semacam itu di masa sekarang.

‎”Sebagai ujung umpamanya, Wonocolo ialah satu-satu (satu-satunya, red.) tempat di dunia yang memiliki hubungan erat antara sumber petroleum (minyak) dengan manusia,” kata Prof. Emeritus Dato’ Dr. Ibrahim Komo kala memberikan sambutan dalam acara Launching Pusat Informasi Geologi Geopark (PIGG), Selasa (20/1/2026).

‎Profesor asal Negeri Jiran, Malaysia, ini mengaku, mendapat kemakluman atau diberitahu ada lebih dari 700 sumur minyak tua. Sebagian besarnya adalah sumur minyak yang masih aktif dan dijalankan oleh komunitas setempat.

‎”Ini sudah tidak ada lagi di tempat lain (seperti di Wonocolo, red),” ujarnya.

Baca Juga :   Peringati HPN 2026, Kominfo dan PWI Bojonegoro Tekankan Pentingnya Kode Etik Jurnalistik
Dr. Ibrahim Komoo
Profesor Emeritus Dato’ Dr. Ibrahim Komoo (berbusana batik) hijau saat meninjau PIGG Bojonegoro.(arifin jauhari)

‎Ia kemudian membandingkan dengan keadaan yang ada di Malaysia, di mana pernah ada geosite seperti yang ada di Wonocolo. Yakni di Miri, Negara Bagian Sarawak.Tetapi tempat itu telah ditutup pada tahun 1957. Kendati pernah sempat diambil alih oleh Petronas, perusahaan migas asal Malaysia kala itu. Sekarang tempat yang ia maksud itu tinggal sejarah pengambilan minyak bumi oleh masyarakat.

‎”Tetapi di sini saya sangat gembira melihat ada kerja sama di antara Pertamina dengan masyarakat untuk memajukan minyak bumi, dan ini bagi saya ialah suatu warisan sejarah hubungan antara manusia dan sumber alam yang ada di Bojonegoro,” ungkap Dato’ Ibrahim Komoo.

‎Meski ia menyatakan Geopark di Bojonegoro adalah warisan yang luar biasa. Namun untuk menuju Unesco Global Geopark, kata Ibrahim Komoo, semua pihak perlu bekerja keras untuk memastikan agar hal tersebut 100 persen dapat tercapai.

‎”Kita juga harus memastikan, agar 100 persen penilai yang akan datang 4 atau 5 bulan lagi gembira, dan menulis laporan bagus, itu sebabnya kami ke mari untuk menambah baik di sana dan di sini,” bebernya.

‎Sementara Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, menyampaikan harapan agar warisan geologi geopark berbasis minyak dan gas bumi (Migas) ini dapat diakui menuju Unesco Global Geopark. Yakni warisan geologi yang bertaraf internasional dikelola secara terpadu dan memiliki fungsi konservasi, edukasi, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat berkelanjutan.

‎”Ini warisan luar biasa, kita harus menjaga dan harapan ke depan kita harus bisa wujudkan agar menjadi rujukan dunia, tak hanya Indonesia,” ucapnya.(fin)

Pos terkait