SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari
Lamongan – PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Area Bojonegoro turut ambil bagian dalam gelaran “Lamongan Tempo Doeloe 2026” yang berlangsung di Lapangan Gajah Mada Lamongan pada 24–27 Juni 2026. Melalui stand interaktif yang menghadirkan berbagai permainan, kuis, layanan informasi, hingga souvenir menarik, PGN berupaya mendekatkan layanan energi gas bumi kepada masyarakat.
Menyesuaikan tema “Perjuangan” yang diusung Lamongan Tempo Doeloe 2026, jajaran PGN Area Bojonegoro tampil mengenakan busana bernuansa tradisional. Para pegawai pria mengenakan kemeja putih yang dipadukan dengan ikat kepala serta kain samping bercorak batik menghadirkan kesan sederhana namun berwibawa layaknya tokoh masyarakat pada masa perjuangan.
Sedangkan pegawai perempuan tampil anggun dengan balutan kebaya putih yang dipadukan kain batik bermotif klasik serta selendang bernuansa merah marun. Busana tersebut memperkuat atmosfer tempo doeloe yang menjadi ciri khas perhelatan tahunan Kabupaten Lamongan.
Penampilan seluruh tim PGN ini selaras dengan konsep stand bertajuk “Dapur Gaskita Perjuangan” yang mengangkat semangat perjuangan dan gotong royong masyarakat Indonesia pada masa lampau.
Area Head PGN Area Bojonegoro, Faishal Arief mengatakan, keikutsertaan PGN dalam agenda tahunan tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan memperkenalkan layanan dan manfaat gas bumi kepada masyarakat secara lebih dekat.
Pria yang membawahi Area PGN Bojonegoro dan Lamongan ini ingin masyarakat mengenal PGN tidak hanya sebagai penyedia energi, tetapi juga sebagai mitra yang hadir memberikan solusi energi yang praktis, aman, dan efisien.
”Melalui kegiatan yang santai dan menyenangkan seperti ini, masyarakat dapat berinteraksi langsung dengan tim kami sekaligus mendapatkan informasi terkait layanan PGN,” katanya kepada Suarabanyuurip.com, Kamis (25/6/2026).

Di stand PGN, pengunjung dapat mengikuti berbagai kegiatan seperti permainan dart berhadiah, mini quiz, photobooth bertema perjuangan, hingga konsultasi layanan pendaftaran gas rumah tangga dan Catat Meter Mandiri (CMM).
Tak hanya itu, PGN juga memamerkan teknologi baru meter gas prabayar dikenal dengan nama Smart Meter Gas. Dengan inovasi ini pelanggan dapat membeli kredit gas terlebih dahulu layaknya membeli token listrik.
”Stand kami juga menyediakan aneka makanan ringan gratis serta berbagai souvenir menarik bagi pengunjung,” beber Faishal, sapaan akrabnya.
”Yang jaga stand ramah,” beber Tatik Karyati, warga Kecamatan Kembangbahu yang berkunjung bersama dua anaknya karena ingin tahu lebih banyak perihal jargas PGN. Terutama tentang catat meter mandiri.
Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Lamongan, Muhammad Nalikan, selaku Ketua Panitia Lamongan Tempo Doeloe 2026 menjelaskan, bahwa kegiatan tersebut diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Lamongan ke-457.
Lamongan Tempo Doeloe bertujuan mengingatkan kembali masyarakat terhadap sejarah Kabupaten Lamongan di masa lampau, sekaligus memperkenalkan produk-produk unggulan daerah serta membangun kemitraan yang lebih baik antara pemerintah, para pemangku kepentingan, dan masyarakat.

Produk yang dipamerkan meliputi produk jadul dan kekinian, jajanan pasar, minuman tradisional maupun modern, serta produk binaan Pemkab Lamongan, BUMD, dan swasta.
”Acara ini diikuti 138 stand, terdiri atas 88 stand jadul dari OPD, kecamatan, BUMD, BUMN, dan swasta, serta 50 stand UMKM bazar,” jelasnya.
Di tempat yang sama, Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, mengaku bersyukur melihat tingginya antusiasme masyarakat yang memadati Lapangan Gajah Mada untuk memeriahkan kegiatan tersebut. Dia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berpartisipas menghadirkan stand dalam agenda tahunan tersebut.
Kala membuka acara secara resmi pada Rabu (24/6/2026) malam, Yuhronur menegaskan, jika tema perjuangan yang diangkat dalam Lamongan Tempo Doeloe tahun ini menjadi pengingat akan semangat para pendahulu dalam mempertahankan tanah air dan membangun daerah.
”Sesuai tema Lamongan Tempo Doeloe 2026 yakni perjuangan, masyarakat Lamongan tidak rela tanah airnya dijajah. Semangat perjuangan para pendahulu inilah yang harus kita ambil maknanya untuk membawa Lamongan semakin maju ke depan,” tegasnya.(fin/adv)





