Suarabanyuurip.com — Arifin Jauhari
Bojonegoro – PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) memperluas pemanfaatan jaringan gas bumi (jargas) ke sektor usaha, mulai dari hotel, restoran, kafe, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Langkah ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pelaku usaha terhadap LPG, terutama LPG tabung 3 kilogram.
Area Head PGN Pasuruan Mochamad Arif mengatakan, PGN siap melayani pelaku usaha yang ingin beralih menggunakan jaringan gas bumi. Perluasan tersebut menyasar wilayah kerja PGN Area Pasuruan yang meliputi Kabupaten Pasuruan, Kota Pasuruan, Kabupaten Probolinggo, Kota Probolinggo, dan Kabupaten Lumajang.
“Kami siap apabila ada pelaku usaha yang ingin beralih menggunakan jaringan gas bumi,” kata Mochamad Arif dari Lumajang, Senin (10/8/2026).
Menurut pria yang pernah berdinas di Area Bojonegoro ini, PGN telah berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Lumajang untuk memetakan potensi penambahan pelanggan dari sektor hotel, restoran, kafe, dan UMKM.
“Kami sudah melakukan pendataan dan berdiskusi dengan Pemerintah Kabupaten Lumajang terkait potensi penambahan pelanggan dari sektor hotel, restoran, kafe, dan UMKM,” ujarnya.
Pengembangan jargas di wilayah kerja tersebut terakhir dilakukan pada 2023 melalui pendanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Karena itu, PGN kini kembali melihat peluang penambahan pelanggan, khususnya dari sektor usaha.
Tetapi, Arif mengakui perluasan jargas masih menghadapi kendala. Salah satunya, belum seluruh lokasi pelaku usaha berada di kawasan yang telah terjangkau jaringan pipa gas bumi.
Meski begitu, PGN menilai gas bumi dapat menjadi alternatif energi bagi pelaku usaha yang selama ini bergantung pada LPG. Penggunaan jargas dinilai memberikan kepastian pasokan, terutama ketika terjadi kelangkaan LPG.
Peluang pengembangan jargas, lanjut Arif, semakin terbuka seiring meningkatnya kesadaran masyarakat untuk beralih menggunakan gas bumi. Kondisi tersebut juga dipengaruhi kebijakan pembatasan distribusi LPG 3 kilogram.
“Kesadaran masyarakat untuk menggunakan gas bumi yang tidak disubsidi cukup tinggi. Apalagi ketika muncul pembatasan LPG 3 kilogram. Kami berharap pemanfaatan jargas bisa semakin berkembang,” tuturnya.
Pengalaman penggunaan jargas juga dirasakan Ernawati, salah seorang pelanggan di Desa Melawang, Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang. Dia mulai menggunakan jaringan gas bumi sejak 2023 setelah kerap mengalami kesulitan memperoleh LPG bersubsidi.
Ernawati yang sehari-hari menjalankan usaha kuliner mengatakan penggunaan jargas membuat aktivitas memasak lebih mudah. Biaya yang dikeluarkan juga relatif terjangkau dan menyesuaikan tingkat pemakaian.
“Kalau jarang dipakai sekitar Rp36 ribu, kalau sering masak bisa Rp50 ribu sampai Rp100 ribu. Yang jelas lebih enak karena gasnya selalu tersedia,” tandas Ernawati.(fin/adv)





