SuaraBanyuurip.com – Arifin Jauhari
Banyuwangi – Media massa memegang peran penting dalam membentuk opini publik terhadap industri hulu minyak dan gas bumi (migas). Karena itu, hubungan yang baik antara perusahaan dan insan pers menjadi salah satu kunci dalam membangun sekaligus menjaga reputasi industri.
Hal itu disampaikan Koordinator Departemen Komunikasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Arief Hermawan saat menjadi narasumber Media Gathering Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina di Banyuwangi, Jumat (10/7/2026).
Menurut Arief, begitu ia disapa, reputasi sebuah institusi tidak hanya dibangun dari kinerja yang baik, tetapi juga dari cara organisasi tersebut berkomunikasi kepada publik. Reputasi merupakan akumulasi dari kinerja, perilaku, dan komunikasi yang dilakukan secara konsisten.
“Reputasi yang baik akan memberikan banyak keuntungan, mulai dari meningkatkan kepercayaan para pemangku kepentingan, mengurangi hambatan dalam berhubungan dengan regulator, hingga mendukung pertumbuhan perusahaan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Arief menjelaskan, media memiliki pengaruh besar terhadap persepsi masyarakat terhadap industri hulu migas. Karena itu, perusahaan perlu membangun komunikasi yang terbuka, jujur, konsisten, akuntabel, dan kredibel.
Di lain sisi, dia juga mengakui terdapat perbedaan karakter antara media dan korporasi. Jurnalis dituntut bersikap kritis, ingin tahu, bekerja cepat, serta selalu melakukan verifikasi terhadap informasi yang diterima. Perbedaan inilah yang harus dipahami kedua belah pihak agar komunikasi berjalan efektif.
Untuk memperkuat hubungan dengan media, SKK Migas rutin menggelar berbagai kegiatan, mulai dari siaran pers, konferensi pers, media briefing, media education, media gathering, media visit, hingga monitoring pemberitaan.
Berbagai kanal digital seperti website resmi, media sosial, video, dan infografik milik perusahaan hulu migas juga dimanfaatkan untuk memperluas penyebaran informasi kepada masyarakat.
Upaya tersebut membuahkan hasil positif. Berdasarkan laporan media monitoring SKK Migas periode Januari–Juni 2026, sebanyak 12.560 pemberitaan mengenai SKK Migas dan industri hulu migas berhasil dipantau. Dari jumlah itu, 98 persen berita positif dan netral, sedangkan hanya 2 persen yang bernada negatif.
“Komunikasi yang baik dengan media bukan sekadar menjaga citra, melainkan juga menjadi bagian penting dalam mendukung keberlangsungan industri hulu migas yang memiliki karakteristik padat modal, berisiko tinggi, memanfaatkan teknologi tinggi, dan mengelola sumber daya yang tidak terbarukan,” tegasnya.
Usai pemaparan materi, suasana forum semakin hidup. Para peserta yang terdiri dari wartawan media cetak, elektronik, televisi, radio, dan siber dari wilayah Regional Indonesia Timur terlibat diskusi serta tanya jawab yang berlangsung hangat.
Salah satu peserta yang menyampaikan pandangannya adalah Sasmito Anggoro, wartawan asal Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Pria yang juga menjabat Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bojonegoro, itu berpendapat bahwa profesi wartawan merupakan pekerjaan yang penuh tanggung jawab, bahkan ia mengibaratkannya lebih dekat dengan “pintu neraka” apabila keliru dalam menyajikan informasi kepada publik.
Karena itu, menurut Sasmito, seorang wartawan dituntut menjaga akurasi melalui proses verifikasi dan keberimbangan informasi. Sementara pada sisi narasumber juga diharapkan dapat memberikan tanggapan secara cepat, terutama di era digital saat ini ketika komunikasi dapat dilakukan dengan mudah melalui berbagai perangkat.
“Dalam pandangan kami tidak ada berita negatif atau positif, karena media menyajikannya secara berimbang. Namun, tanggapan dari narasumber dapat memberikan kesan apakah sebuah berita dipandang negatif atau positif,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Senior Manager External Communication & Stakeholder Relation Pertamina Hulu Energi, Fitri Erika, mengapresiasi masukan para peserta. Menurutnya, kebutuhan wartawan terhadap kecepatan informasi merupakan sesuatu yang wajar mengingat mereka selalu berpacu dengan tenggat waktu pemberitaan.
“Justru bagi kami, semakin cepat berita terbit semakin baik. Namun, teman-teman juga perlu memahami bahwa wilayah operasi Pertamina tersebar di berbagai daerah sehingga setiap informasi harus melalui proses konfirmasi internal,” bebernya.
Bagi Fitri, ketepatan menyampaikan informasi penting untuk dijaga, terutama jika menyangkut data dan angka yang harus benar-benar akurat agar tidak menimbulkan kebingungan di masyarakat.
Fitri menambahkan, kegiatan media gathering merupakan bentuk apresiasi Pertamina Hulu Energi kepada para jurnalis yang selama ini menjadi mitra dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.
“Hari ini kita berkumpul sebagai bentuk apresiasi kami kepada teman-teman jurnalis yang selama ini telah membersamai Pertamina sektor hulu. Apa pun yang kami lakukan di fasilitas produksi tidak akan tersampaikan dengan baik kepada masyarakat tanpa bantuan teman-teman jurnalis,” imbuhnya dalam wawancara cegat kepada suarabanyuurip.com.
Karena itu, lanjut Fitri, dalam kegiatan tersebut Pertamina Hulu Energi menghadirkan narasumber yang membahas jurnalisme sekaligus regulator dari SKK Migas untuk memberikan pemahaman mengenai perkembangan industri hulu migas.
“Sektor hulu Pertamina saat ini berkontribusi sekitar 65 persen terhadap produksi minyak nasional dan 35 persen terhadap produksi gas nasional, sehingga memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan energi Indonesia,” tandasnya.(fin)





