Di tengah kemarau yang membakar tanah Bojonegoro, lembar demi lembar gaplek yang mengering di bawah matahari bukan hanya menjadi komoditas. Tetapi menjelma menjadi simbol harapan, bahwa setelah sekian lama harga hasil panen akrab dengan kabar penurunan, kali ini matahari justru menghadirkan senyum di wajah para petani pinggiran hutan Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
TERIK matahari siang itu seakan tak mengenal belas kasihan. Sejak awal Juni 2026, kemarau mulai menunjukkan kuasanya. Pepohonan yang beberapa bulan lalu masih menghijau kini perlahan menguning. Angin berembus pelan membawa hawa panas bak merobek kulit. Awan hanya sesekali melintas, seolah enggan menghalangi kobaran matahari yang membakar bumi Angling Dharma sebutan lain Bojonegoro.
Namun, panas yang menyengat justru menghadirkan harapan bagi para petani di pinggiran hutan Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Di hamparan lahan penuh bebatuan, tampak perempuan lanjut usia dengan cekatan tangannya mengupas singkong, membelah, lalu menyusunnya rapi di atas batu, serta membiarkan matahari bekerja mengubahnya menjadi gaplek.
Perempuan itu adalah Paenah, petani Desa Butoh, Kecamatan Ngasem. Sambil membetulkan capil buyuk atau caping petani, Paenah mengaku, baginya kemarau kali ini bukan sekadar musim kering, tapi menjadi musim yang membawa kabar baik.
Setelah di tahun lalu harus menerima kenyataan harga hasil panen yang mudah terpuruk saat panen raya, tahun ini keadaan sedikit berbeda. Harga gaplek justru merangkak naik. Dari semula Rp3.200 per kilogram, kini mencapai Rp3.500 sampai Rp3.800 per kilogram untuk kualitas gaplek bagus. Kenaikan yang mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang, tetapi berarti besar bagi keluarga-keluarga petani.
”Tahun ini harga gaplek terus mengalami kenaikan dibanding tahun lalu. Sekarang Rp3.800 per kilogram. Tahun lalu hanya sampai di harga Rp3.600, itu pun tidak lama sudah turun lagi,” tutur petani di pinggiran hutan Ngasem itu kepada Suarabanyuurip.com.
Di bawah sengatan matahari, semangat perempuan 68 tahun itu justru semakin menyala. Cuaca yang panas membuat gaplek lebih cepat kering. Jika biasanya membutuhkan waktu lebih lama, kini hanya tiga hingga empat hari sudah siap dikumpulkan untuk dijual.
”Cuacanya mendukung karena panas. Gaplek cepat kering dan bisa langsung dijual. Apalagi harganya sedang bagus, tentu kami senang,” ujar warga RT 06, RW 02, Desa Butoh itu sambil tersenyum.
Senyum serupa juga terpancar dari wajah Sriasih. Petani pinggiran hutan ini juga memilih mengolah seluruh hasil singkongnya menjadi gaplek ketimbang menjualnya dalam kondisi segar (cabut langsung dari lahan).
Menurut dia, harga singkong basah yang hanya sekitar Rp1.200 per kilogram terlalu rendah. Meski harus menunggu beberapa hari hingga gaplek benar-benar kering, hasil yang diperoleh jauh lebih menjanjikan.
”Lebih baik dibuat gaplek. Memang menunggu sekitar empat hari, tetapi harganya lebih bagus. Kalau cuaca seperti ini hasilnya juga putih dan kualitasnya baik,” katanya.
Pembeli gaplek, lanjut Sriasih, sebagian besar masih berasal dari warga sekitar. Meski pasarnya sederhana, hasil penjualan cukup membantu memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.
Perempuan berkulit sawo matang ini menuturkan, tahun ini tidak banyak petani yang menanam singkong. Sebagian besar merupakan penggarap lahan hutan, dengan masa tanam hingga panen sekitar delapan sampai sembilan bulan.
Di sela-sela harapan akan harga yang terus membaik, Sriasih masih menyimpan sebagian gaplek buatannya. Bukan untuk dijual, melainkan menjadi cadangan pangan keluarga.
”Sebagian saya simpan untuk dibuat nasi gaplek. Rasanya juga enak,” ujarnya sambil mengupas singkong.
Bagi petani seperti Sriasih, ukuran rezeki bukan semata besarnya hasil penjualan. Berapa pun yang diperoleh, selalu ada ruang untuk bersyukur.
”Kalau hasil ya tergantung banyak sedikitnya gaplek yang dijual. Berapa pun yang saya dapat tetap saya syukuri. Alhamdulillah, cukup untuk kebutuhan keluarga sehari-hari,” ucapnya lirih.(samian sasongko)
Gaplek Mengangkat Asa, Senyum Petani Mengembang di Tengah Terik Kemarau





