Mahasiswa KKN UTM Ajak Siswa SDN 2 Dharma Camplong Sulap Limbah Plastik Jadi Taman Mini Berbasis Ecobrick

KKN UTM.
Mahasiswa KKN Kelompok 14 UTM foto bersama siswa SD Negeri 2 Dharma Camplong, Desa Dharma Camplong usai mengenalkan program Taman Mini Berbasis Ecobrick.

SuaraBanyuurip.com – Permasalahan limbah plastik masih menjadi salah satu persoalan lingkungan yang memerlukan perhatian bersama. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 14 Universitas Trunojoyo Madura (UTM) menghadirkan program Taman Mini Berbasis Ecobrick untuk mengatasi persoalan tersebut.

Program tersebut dilaksanakan Mahasiswa KKN Kelompok 14 UTM di SD Negeri 2 Dharma Camplong, Desa Dharma Camplong, Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang. Program ini bertujuan mengajak masyarakat, khususnya siswa sekolah dasar, untuk memahami bahwa limbah plastik masih memiliki nilai guna apabila diolah dengan cara yang tepat.

Selain memperkenalkan konsep pengelolaan sampah, mahasiswa juga ingin menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini melalui kegiatan yang bersifat praktik dan menyenangkan.

Sebanyak 15 mahasiswa KKN Kelompok 14 UTM terlibat langsung dalam seluruh rangkaian kegiatan yang berlangsung pada Kamis (23/7/2026). Mulai dari penyusunan program, pengumpulan sampah plastik, pembuatan ecobrick, hingga penataan taman mini di lingkungan sekolah.

Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat dengan menghadirkan solusi sederhana yang dapat diterapkan untuk mengurangi limbah plastik sekaligus memperindah lingkungan sekolah.

Sebelum kegiatan dilaksanakan, mahasiswa terlebih dahulu menyusun konsep taman mini dan melakukan survei ke SDN 2 Dharma Camplong untuk menentukan lokasi penempatan meja dan kursi ecobrick. Konsep kegiatan disusun oleh Rina Julianing Ati dan Nor Aziah, kemudian diwujudkan melalui pembuatan meja dan kursi ecobrick.

Untuk proses pengerjaan dipimpin oleh Frizky Ardian Setyobudi bersama mahasiswa lainnya. Sedangkan Mahbubetun Nuroniyeh memastikan setiap tahapan berjalan dengan baik sehingga hasil yang dibuat kokoh, aman, dan nyaman digunakan.

Sampah plastik yang digunakan berasal dari partisipasi siswa SDN 2 Dharma Camplong. Mereka diberi tugas membawa botol plastik bekas berukuran 1,5 liter, botol plastik bekas berukuran 600 mililiter, serta sampah plastik kemasan dari rumah masing-masing.

Untuk memenuhi kebutuhan sampah plastik, mahasiswa juga melakukan pengumpulan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampang. Kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa sampah yang selama ini dianggap tidak bernilai masih dapat dimanfaatkan menjadi barang yang memiliki fungsi.

Baca Juga :   KKN Mahasiswa UTM, Kembangkan Tanaman Indigofera untuk Pakan Ternak

Proses pembuatan ecobrick diawali dengan membersihkan dan memilah sampah plastik yang telah terkumpul. Sampah plastik kemasan kemudian dipotong menjadi bagian-bagian kecil sebelum dimasukkan ke dalam botol bekas menggunakan batang kayu hingga seluruh isi botol benar-benar padat.

Kepadatan isi botol menjadi salah satu faktor penting agar ecobrick memiliki kekuatan yang cukup untuk digunakan sebagai penyangga meja dan kursi.
Melalui proses tersebut, mahasiswa berhasil membuat empat kursi yang masing-masing menggunakan lima penyangga dari botol plastik bekas berukuran 1,5 liter. Sebagai alas dudukan digunakan papan triplek yang dicat dengan warna-warna menarik sehingga memberikan kesan lebih rapi dan estetik.

Sementara itu, meja dibuat menggunakan 18 botol plastik bekas berukuran 600 mililiter sebagai penyangga. Bagian atas meja juga menggunakan triplek yang dicat agar serasi dengan kursi dan menambah daya tarik taman mini.

Seluruh pengerjaan dilakukan secara bertahap oleh mahasiswa. Pembagian tugas dilakukan mulai dari membersihkan sampah plastik, memotong plastik kemasan, memadatkan isi botol, menyusun botol menjadi penyangga, hingga memasang dan mengecat triplek. Setelah seluruh meja dan kursi selesai dibuat, hasil karya tersebut ditempatkan di area taman sekolah sebagai fasilitas yang dapat dimanfaatkan oleh warga sekolah.

Tidak hanya berfokus pada hasil akhir, kegiatan ini juga mengedepankan aspek edukasi. Mahasiswa melibatkan siswa kelas III dan IV SDN 2 Dharma Camplong dalam proses pembuatan ecobrick. Para siswa diajak mempraktikkan cara memanfaatkan limbah plastik menjadi barang yang bermanfaat.

Karena keterbatasan waktu kegiatan di sekolah, siswa hanya mengikuti pembuatan beberapa penyangga ecobrick, sedangkan penyelesaian meja dan kursi dilanjutkan oleh mahasiswa di Posko KKN.

Baca Juga :   Community Of Bojonegoro Student UTM Adakan Pengabdian Masyarakat di Desa Sambongrejo

“Melalui keterlibatan ini, kami ingin para siswa tidak hanya memahami dampak negatif limbah plastik terhadap lingkungan, tetapi juga menyadari bahwa sampah dapat diolah menjadi barang yang memiliki nilai guna apabila dikelola dengan kreativitas dan kepedulian,” ujar Ketua KKN Kelompok 14 Universitas Trunojoyo Madura, Frizky Ardian Setyobudi.

Frizky menjelaskan program ini merupakan salah satu upaya untuk mengurangi limbah plastik sekaligus membangun kesadaran lingkungan sejak usia dini. Kata dia, ecobrick menjadi media edukasi yang sederhana, tetapi memiliki manfaat yang nyata. Kami ingin menunjukkan kepada siswa bahwa sampah plastik tidak selalu berakhir sebagai limbah, melainkan dapat diolah menjadi barang yang bermanfaat.

“Harapannya, kebiasaan memilah dan mengelola sampah dapat terus diterapkan, baik di sekolah maupun di lingkungan rumah,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala SDN 2 Dharma Camplong, Samsul Hidayat menyampaikan apresiasinya atas program yang dilaksanakan mahasiswa KKN UTM.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada mahasiswa KKN Universitas Trunojoyo Madura yang telah menghadirkan program ecobrick di sekolah kami. Kegiatan ini tidak hanya mempercantik lingkungan sekolah melalui taman mini, tetapi juga memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi siswa. Mereka belajar secara langsung bahwa sampah plastik masih dapat dimanfaatkan menjadi barang yang berguna. Kami berharap kebiasaan menjaga kebersihan dan mengelola sampah dapat terus diterapkan oleh seluruh warga sekolah,” tuturnya.

Program Taman Mini Berbasis Ecobrick diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan selama masa KKN, tetapi dapat menjadi awal terbentuknya budaya peduli lingkungan di SDN 2 Dharma Camplong. Melalui kolaborasi antara mahasiswa, guru, dan siswa, pemanfaatan limbah plastik menjadi barang yang bernilai, serta mampu menginspirasi masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola sampah serta menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.(red)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait