SuaraBanyuurip.com – Upaya membangun lingkungan sekolah yang aman dan bebas dari perundungan terus dilakukan melalui kolaborasi berbagai pihak. Salah satunya diwujudkan oleh SD Negeri 2 Dharma Camplong, Kecamatan Cemplong, Kabupaten Sampang, bersama Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 14 Universitas Trunojoyo Madura (UTM) melalui “Edukasi Pencegahan Bullying Sejak Dini”.
Kegiatan yang berlangsung, Kamis (16/7/2026), tersebut diikuti oleh 208 siswa sebagai bagian dari rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Sekaligus menjadi salah satu program kerja utama mahasiswa KKN dalam bidang pendidikan.
Kegiatan ini diselenggarakan sebagai respons terhadap meningkatnya perhatian masyarakat terhadap berbagai kasus bullying yang masih terjadi di lingkungan pendidikan. Perundungan tidak hanya berdampak pada kesehatan mental korban, tetapi juga dapat memengaruhi perkembangan karakter, prestasi akademik, hingga hubungan sosial anak. Oleh karena itu, penanaman pemahaman mengenai pentingnya saling menghargai dan menghormati sesama dinilai perlu dilakukan sejak jenjang sekolah dasar.
Mahasiswa KKN Kelompok 14 UTM bersama pihak sekolah menghadirkan edukasi yang dikemas secara interaktif agar mudah dipahami oleh peserta didik. Tidak hanya memberikan materi, mahasiswa juga mengajak siswa mengenali bentuk-bentuk bullying, dampak yang ditimbulkan, serta langkah yang dapat dilakukan apabila menjadi korban maupun saksi tindakan perundungan.
Sebanyak 15 mahasiswa KKN Kelompok 14 UTM terlibat langsung dalam pelaksanaan kegiatan dengan didampingi seluruh guru SD Negeri 2 Dharma Camplong. Seluruh rangkaian acara dirancang dan dipersiapkan oleh mahasiswa sebagai bentuk implementasi pengabdian kepada masyarakat melalui program KKN. Rangkaian kegiatan diawali dengan jalan sehat dari lingkungan sekolah menuju Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Camplong.
Kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan kebugaran siswa, tetapi juga memperkenalkan lingkungan sekitar sebagai media belajar di luar kelas. Selama perjalanan, mahasiswa mengajak siswa berinteraksi dengan lingkungan sekitar sehingga suasana MPLS menjadi lebih menyenangkan dan edukatif.
Kegiatan dilanjutkan dengan sesi ice breaking yang dipandu mahasiswa KKN. Berbagai permainan edukatif diberikan untuk membangun semangat belajar, meningkatkan konsentrasi, sekaligus menciptakan suasana yang lebih akrab antara mahasiswa dan siswa sebelum memasuki materi inti.
Materi edukasi disampaikan oleh Amanda Hafisa, Shofiana Syamsudin, Ira Zulfa Safitri, dan Diva Aisyiyah. Dalam penyampaiannya, mahasiswa menjelaskan pengertian bullying, jenis-jenis perundungan seperti bullying verbal, fisik, sosial, maupun melalui media digital, serta dampak negatif yang dapat ditimbulkan bagi korban maupun pelaku.
Agar materi lebih mudah dipahami, mahasiswa menghadirkan simulasi sederhana mengenai perilaku yang termasuk tindakan bullying. Simulasi tersebut diperagakan oleh Diva Aisyiyah dan Ira Zulfa Syafitri, sementara mahasiswa lainnya mendampingi siswa selama kegiatan berlangsung.
Melalui metode pembelajaran berbasis praktik tersebut, siswa diajak mengenali tindakan yang tidak boleh dilakukan kepada teman serta memahami pentingnya menghargai perbedaan dan membangun sikap saling menghormati.
Selain itu, mahasiswa juga memberikan pemahaman kepada siswa mengenai pentingnya keberanian untuk melapor apabila mengalami ataupun menyaksikan tindakan bullying. Siswa diarahkan agar tidak memendam permasalahan sendiri, melainkan segera menyampaikan kepada guru, orang tua, maupun pihak yang dipercaya sehingga perundungan dapat ditangani sejak dini.
Kepala SD Negeri 2 Dharma Camplong, Samsul Hidayat mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, kolaborasi antara pihak sekolah dan mahasiswa KKN memberikan manfaat yang besar dalam mendukung pelaksanaan MPLS sekaligus memperkuat pendidikan karakter di lingkungan sekolah.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada mahasiswa KKN Universitas Trunojoyo Madura yang telah berkolaborasi dengan sekolah dalam menyelenggarakan kegiatan ini. Edukasi mengenai bullying sangat relevan dengan kondisi saat ini karena kasus perundungan masih sering terjadi di lingkungan pendidikan. Kami berharap kegiatan ini mampu menanamkan keberanian kepada siswa untuk menolak tindakan bullying, menghargai sesama teman, serta berani melaporkan apabila mengalami atau menyaksikan perundungan,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua KKN Kelompok 14 Universitas Trunojoyo Madura, Muhammad Tawwabah, mengatakan bahwa program edukasi anti-bullying dipilih karena dinilai menjadi salah satu persoalan yang memerlukan perhatian bersama, khususnya pada lingkungan sekolah dasar sebagai tempat pembentukan karakter anak.
“Kami ingin menghadirkan edukasi yang tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga mampu membentuk keberanian dan kepedulian siswa terhadap lingkungan sekitarnya. Melalui pendekatan yang interaktif dan menyenangkan, kami berharap anak-anak dapat memahami bahwa bullying bukan sekadar candaan, melainkan perilaku yang dapat memberikan dampak jangka panjang bagi korban maupun pelaku,” jelasnya.
“Harapan kami, setelah kegiatan ini mereka mampu menjadi pelopor lingkungan sekolah yang saling menghargai, saling melindungi, dan berani mengatakan tidak terhadap segala bentuk perundungan,” lanjut Tawwabah.
Ia menambahkan kolaborasi dengan pihak sekolah menjadi faktor penting dalam keberhasilan kegiatan tersebut. Sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah dinilai mampu memperkuat upaya pembentukan karakter peserta didik melalui program-program edukatif yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
“Kami harapkan kolaborasi ini mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal, sehingga setiap siswa dapat belajar, bermain, dan berkembang tanpa rasa takut terhadap tindakan perundungan,” pungkasnya.(red)





