SuaraBanyuurip.com – Pengeboran sumur minyak Kedung Keris Barat (West Kedung Keris), Blok Cepu di Desa Sukoharjo, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, akan menggunakan lahan sawah dilindungi (LSD) seluas 6.000 meter persegi (M2). Namun, pengganti LSD sampai hari ini belum ditentukan, karena masih akan dibahas dengan sejumlah pihak.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKKP) Bojonegoro, Zaenal Fanani mengatakan, pengganti LSD untuk pengeboran minyak lapangan Kedung Keris Barat belum ditentukan.
“Belum. Masih akan dibahas lagi. Kemarin baru addendum andal,” ujar Zaenal kepada suarabanyuurip.com, Senin (21/9/2026).
Pembahasan lanjutan pengganti LSD lapangan minyak Kedung Keris Barat akan dilakukan di Jakarta dengan melibatkan sejumlah pihak. Sehinga, lanjut Zaenal, belum mengetahui berapa luas lahan pengganti LSD untuk proyek strategis nasional itu.
“Belum tahu ya, karena akan ada pembahasan lagi dalam waktu dekat,” ucapnya.
Zaenal menambahkan, LSD di Kabupaten Bojonegoro telah ditetapkan seluas 93 ribu hektar lebih. Jumlah ini termasuk lahan hutan yang ditanami padi.
“Itu yang netapkan pusat,” pungkasnya.
Kepala Kantor Staf Presiden (KSP), Dudung Abdurachman, memastikan penggunaan LSD untuk pengembangan lapangan minyak Kedung Keris Barat tidak akan mengurangi lahan pertanian, karena akan diganti dengan lahan persawahan baru. Luas lahan penggantinya tiga kali lipat dari LSD yang digunakan.
“Setiap satu hektare lahan yang dialihfungsikan wajib diganti dengan tiga hektar lahan sawah baru,” kata Dudung usai rapat lintas kementerian dan lembaga di Kabupaten Bojonegoro pada pekan pertama Juni 2026.
Lapangan Kedung Keris, Blok Cepu, menempati lahan persawahan produktif. Termasuk rencana pengembangan Kedung Keris Barat melalui cara directional drilling atau pengeboran miring.

Lahan sekitar tapak sumur Kedung Keris bisa panen padi tiga kali dalam setahun. Jumlah produksinya mencapai 7-8 ton per hektarnya. Artinya, proyek tersebut akan berdampak terhadap berkurangnya produksi padi di Bojonegoro sebesar 144.000 ton per tahun.
“Persawahan di sini menggunakan sumur bor. Jadi setahun bisa tanam padi tiga kali,” sambung Kepala Desa Sukoharjo, Sulistiyawan.
Sulis, panggilan akrabnya, mengungkapkan, pengganti LSD untuk pengembangan lapangan minyak Kedung Keris Barat belum ditentukan. Namun, berdasarkan kajian yang pernah dilakukan Universitas Gadjah Mada (UGM), lahan pengganti LSD akan memakai lahan perkebunan di sebelah utara jalan raya Bojonegoro-Padangan.
“Dulu sudah pernah dicek lokasinya oleh UGM. Lokasinya di sekitar kandang ayam petelur milik BUMDes. Di situ nanti juga akan dibangun embung untuk pengairannya,” tutur kepala desa dua periode itu.
Sulis mengaku belum mengetahui secara pasti berapa luas lahan pengganti LSD untuk pengembangan lapangan minyak Kedung Keris Barat.
“Belum tahu. Tapi kami berharap pemakaian dan pengganti LSD nanti tidak mengurangi produksi padi di Sukoharjo,” pungkasnya.
Sebagai informasi, pengeboran miring lapangan Kedung Keris Barat diperkirakan sejauh 3 kilo meter (Km) dari sumur minyak Kedung Keris di Desa Sukoharjo, yang saat ini sudah produksi.
Sumur Kedung Keris Barat diperkirakan memiliki potensi cadangan sekitar 9,9 juta barel minyak (MMBO) dan diproyeksikan mampu produksi minyak sekitar 15.000 barel per hari (bph).
“Proyek West Kedung Keris merupakan bagian dari pengembangan Blok Cepu yang dioperasikan ExxonMobil Cepu Limited guna mempertahankan sekaligus meningkatkan produksi minyak nasional,” kata Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto saat mendampingi Kepala KSP, Dudung Abdurachman.(red)





