Jika Kedung Keris Barat Dibor Miring, Petani Khawatir Seperti Lapindo

Migas kedung keris.
Lapangan minyak Kedung Keris, Blok Cepu di Desa Sukoharjo, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro. Lapangan ini rencananya akan dikembangkan ke Kedung Keris Barat (West) melalui pengeboran miring sejauh 3 Km.

SuaraBanyuurip.com – Kabar rencana pengembangan lapangan minyak Kedung Keris West (Barat) telah santer terdengar. Pengeboran lapangan minyak yang menjadi bagian dari wilayah kerja pertambangan (WKP) Blok Cepu, itu akan dilakukan secara directional drilling atau pengeboran miring.

Panjang pengeboran miring lapangan Kedung Keris Barat diperkirakan sejauh 3 kilo meter (Km) dari sumur minyak Kedung Keris (KDK) di Desa Sukoharjo, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Sumur KDK saat ini sudah produksi.

“Petani di sini sudah ramai membicarakan itu,” kata Rusman ditemui SuaraBanyuurip.com di warung kopi perempatan Dusun Kuce, Desa Leran, Kecamatan Kalitidu, Senin (13/4/2026).

Pria kelahiran 1963 itu bukan asli warga Dusun Kuce. Ia penduduk Desa Wadang, Kecamatan Ngasem. Tapi lahan persawahan miliknya berada di Dusun Kuce.

Sawah milik Rusman seluas 2.500 meter persegi. Setiap tahun bisa ditanami padi dua kali. Produksinya bisa mencapai 2 ton.

“Kalau jaraknya 3 kilo meter dari sana, kemungkinan besar sumber minyaknya bisa antara Dusun Kuce, Lestari, Desa Leran atau Dusun Kedungkeris Desa Ngujo,” tuturnya.

Rusman mengaku tidak mempermasalahkan jika nantinya proyek pengembangan lapangan minyak Kedung Keris Barat membebaskan lahan, dan dibangun tapak sumur seperti Kedung Keris yang ada di Desa Sukoharjo.

“Selama harga yang diberikan tinggi dan cocok, saya rasa warga tidak mempermasalahkan kalau nanti dibeli,” ucapnya.

Menurutnya, harga tanah di wilayah Kuce sekarang ini sudah cukup tinggi. Yakni, antara Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per meter persegi.

“Kalau dibebaskan kan kita harus beli sawah pengganti, karena kita bisanya hanya bertani. Nah, jangan sampai uang hasil jual sawah nanti tidak cukup untuk beli sawah lagi,” jelasnya.

“Tapi kalau nggak ada pembebasan lahan ya nggak apa-apa. Kan nggak rugi, sawahnya masih bisa digarap,” lanjut Rusman.

Baca Juga :   EMCL Gandeng LSPM Bangun Infrastruktur Program Patra Daya 2024 di Ngumpakdalem

Senada disampaikan Syahroni, petani Desa Ngujo, Kecamatan Kalitidu. Ia mengaku telah mendengar rencana pengembangan lapangan minyak Kedung Keris Barat.

“Sudah dengar lama. Tapi titik pastinya di mana belum tahu,” timpal Roni, panggilan akrabnya, ditemui di sekitar tapak sumur minyak Kedung Keris, Kamis (9/4/2026).

Roni memiliki sawah seluas setengah hektar. Lokasinya berada di Desa Sukoharjo, tepatnya di sebelah barat tapak sumur minyak Kedung Keris. Lahan tersebut masih atas nama babaknya, Sukri.

“Kalau sawah di sini bisa tanam padi tiga kali. Karena bisa mengandalkan sumur sibel, dan sumber airnya mudah,” tuturnya.

Petani sekitar Migas KDK
Petani sekitar migas Kedung Keris di Desa Sukoharjo, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, sedang memanen padi dengan blower.

Ia memperkirakan, titik sumber minyak Kedung Keris Barat berada di Dusun Kedung Keris, Desa Ngujo, Kecamatan Kalitidu. Sebab, di wilayah tersebut terdapat lahan yang sudah dibebaskan sewaktu zaman Humppus Patra Gas.

“Kalau luas pastinya saya nggak tahu persis. Tapi sudah lama itu dibebaskan, dulu katanya untuk proyek Pertamina,” tuturnya.

Roni berkeyakinan titik sumur minyak tersebut berada di Dusun Kedung Keris, karena nama dusun tersebut dipakai untuk sumur minyak Kedung Keris.

“Orang-orang bilang kalau sumber minyaknya selama ini Dusun Kedung Keris, tapi disedot dari Sukoharjo,” bebernya.

Roni mengaku tidak mempersoalkan jika nanti perusahaan membutuhkan lahan untuk pengembangan lapangan minyak Kedung Keris Barat. Baik untuk pembangunan tapak sumur, daerah penyangga, maupun akses masuk menuju lokasi seperti di sumur minyak Kedung Keris yang saat ini sudah produksi.

Namun, dirinya juga tidak mempermasalahkan bila nantinya pengembangan lapangan minyak Kedung Keris Barat dibor miring. Tidak membutuhkan lahan untuk pembangunan sarana pendukung.

Baca Juga :   SKK Migas Jabanusa: Belum ada Pengajuan Perpanjangan Kontrak Blok Cepu

“Sebagai petani kami tidak bisa apa-apa kalau nanti memang membutuhkan lahan untuk dibebaskan. Terpenting harganya sesuai,” ujarnya.

“Kalau tanah di sini pasarannya di atasnya 200 ribu per meter persegi,” lanjutnya.

Rusman maupun Syahroni mengingkatkan, agar aktivitas pengembangan lapangan Kedung Keris Barat nantinya tidak merugikan petani. Seperti mengurangi sumber air dalam tanah yang selama ini dimanfaatkan petani melalui sumber sibel.

“Juga jangan sampai seperti lapindo,” pungkas Rusman.

Kepala Desa Sukoharjo, Sulistiyawan menjelaskan, pembebasan lahan untuk proyek lapangan minyak Kedung Keris di desanya pada medio 2008-2009 lalu, membutuhkan lahan seluas 14 ha. Rinciannya, 7 ha untuk pembangunan tapak sumur dan daerah penyangga di Desa Sukoharjo, dan 7 ha di Desa Leran untuk akses jalan masuk.

Harganya saat itu Rp125.000 per meter persegi (M2). Harga tersebut berbeda dengan harga lahan untuk fasilitas pipa yang mengalirkan minyak mentah dari lapangan Kedung Keris menuju pusat fasilitas pemrosesan minyak mentah (central processing facility/CPF) Banyu Urip di Kecamatan Gayam, yang mencapai Rp 300 ribu/M2.

“Untuk pembebasan lahan pipa itu sekitar tahun 2017-2018. Tentu harganya sudah beda,” ucap Sulis.

Petugas Waduk Leran II, Eko Purnomo menambahkan, lahan baku persawahan yang mengandalkan air dari waduk tersebut seluas 626 hektar (Ha). Lahan tersebut tersebar sebagian di Desa Sukoharjo; Dusun Kuce dan Lestari, Desa Leran; dan Desa Ngujo. Rata-rata produksi padi mencapai 7-8 ton/ha.

“Pertanian di sini merupakan sawah produktif. Mayoritas petani tanam padi tiga kali dalam setahun. Selain menggunakan air dari waduk, mereka juga memakai sumur sibel,” ungkap Eko dihungi terpisah, Selasa (14/4/2026).(red)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait