SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari
Bojonegoro – Tiga desa di wilayah Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, disiapkan menjadi Kampung Ledre sebagai upaya menjaga keberadaan kuliner khas daerah. Program ini sekaligus mendorong pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal.
Tiga desa tersebut yakni Desa Purwosari, Gapluk, dan Desa Kuniran. Rencananya, peluncuran Kampung Ledre akan menjadi bagian dari Festival Ledre yang dipusatkan di Desa Gapluk pada 8 Oktober 2026 mendatang.
Camat Purwosari, Ike Widyaningrum, mengatakan, konsep Kampung Ledre diharapkan dapat memperkuat keberadaan ledre sebagai salah satu kuliner khas Bojonegoro. Selain peluncuran Kampung Ledre, festival juga akan diisi demonstrasi pembuatan ledre secara massal.
“Festival Ledre, insyaalah akan dilakukan pada tanggal 8 Oktober,” kata Camat Ike Widyaningrum kepada SuaraBanyuurip.com, Senin (28/9/2026).
Sebanyak 50 perajin ledre lokal akan dilibatkan dalam demonstrasi pembuatan Ledre. Mereka akan menunjukkan secara langsung proses pembuatan makanan berbahan dasar pisang tersebut.
Festival juga menghadirkan pameran UMKM. Kegiatan tersebut menjadi ruang promosi bagi produk-produk unggulan masyarakat, sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi di tingkat lokal.
Ike, begitu ia disapa, berharap pengembangan Kampung Ledre tidak berhenti pada kegiatan festival. Keberadaan sentra tersebut diharapkan mampu menjadi bagian dari promosi wisata budaya, dan kuliner khas Bojonegoro.
Persiapan festival telah dilakukan, dimulai dari pengambilan video promosi ledre di Rumah Usaha UMKM milik Rumyati di Dusun Glagah, Desa Purwosari, pada 16 September 2026 lalu.
Rumyati mengaku, keberadaan Festival Ledre dan rencana Kampung Ledre diharapkan dapat membantu memperkenalkan produk lokal itu kepada masyarakat lebih luas.
Ledre selama ini dikenal sebagai camilan khas Bojonegoro berbahan dasar pisang. Seiring perkembangan selera masyarakat, produknya kini tidak hanya dibuat dengan rasa original, tetapi telah dikembangkan dalam berbagai varian rasa.
“Pengembangan, menjadi salah satu bentuk adaptasi para perajin untuk mempertahankan Ledre sekaligus memperluas pasar kuliner khas Bojonegoro,” beber Ike.
Bagi dia, ledre tidak hanya menjadi makanan khas Bojonegoro, tetapi juga menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat yang menekuni usaha tersebut. Oleh karena itu keberadaan perajin dan keberlanjutan produksi ledre perlu terus didukung.
Harapannya ledre semakin dikenal, bukan hanya di Bojonegoro, tetapi juga di luar daerah. Kalau semakin banyak yang mengenal dan membeli, tentu bisa membantu usaha para perajin.
Dia berharap, dari festival nantinya generasi muda juga ikut mengenal proses pembuatan ledre sehingga makanan khas Bojonegoro tersebut tetap bertahan dan tidak hilang ditelan perkembangan zaman. (fin)

