Mas Teguh Dorong Pengembangan Usaha Ledre Khas Bojonegoro

Mas Teguh.
Calon legislatif (Caleg) DPR-RI PDI Perjuangan dari Dapil IX (Bojonegoro dan Tuban) Teguh Haryono atau akrab disapa Mas Teguh melihat secara langsung pembuatan ledre khas Bojonegoro.

SuaraBanyuurip.com – Pembuatan Ledre, camilan khas Bojonegoro, Jawa Timur masih terbilang tradisional. Teguh Haryono, Calon legislatif (Caleg) DPR-RI PDI Perjuangan dari Dapil IX (Bojonegoro dan Tuban), akan berupaya membuat terobosan agar usaha ledre khas Bojonegoro dapat lebih berkembang.

Rasa camilan ledre yang manis, renyah dan khas aroma pisang raja yang harum, mengusik rasa ingin tahu Mas Teguh, panggilan akrab Teguh Haryono untuk melihat langsung cara pembuatannya. Cah asli Bojonegoro asal Desa Nglumber, Kecamatan Kepohbaru, ini datang langsung ke perajin untuk praktik membuat sendiri ledre.

Mas Teguh mengaku, selama ini belum pernah sekalipun melihat proses pembuatan ledre secara langsung di perajin. Karena itu, dirinya berkunjung ke salah satu perajin ledre di Desa Kuniran Kecamatan Purwosari. Mas Teguh langsung mencoba membuat sendiri ledre khas Bojonegoro.

Pembuatan ledre ini masih tradisional. Alat yang dipakai berupa wajan (tempat penggorengan) dari tanah liat, adonan yang sudah disiapkan di taruh di atas wajan kemudian di ratakan sampai tipis. Setelah itu dioles pisang raja sampai matang dan keras kemudian digulung.

Baca Juga :   Universitas Bojonegoro Jadi Lokasi SKD CPNS 2024

“Ternyata bikinnya harus satu satu ya, ternyata sulit juga ya, wah agak berantakan gulungnya,” ujar Mas Teguh.

Sebagai seorang Insinyur yang lahir di Bojonegoro, Teguh Haryono atau yang biasa disapa Mas Teguh ingin membuat terobosan atau membuat alat untuk produksi ledre ini secara masal. Artinya sekali produksi bisa langsung dengan jumlah yang banyak, tidak satu satu seperti sekarang ini.

“Saya kepingin bantu perajin buat alat yang bisa sekali produksi langsung banyak, ngak satu satu, ini kan lama,” tambahnya.

Menurut Mas Teguh, dengan peralatan yang memadai dapat membantu dan memudahkan perajin memproduksi ledre dalam jumlah banyak dengan waktu singkat.

“Sehingga perajin bisa menghemat waktu, tapi produksi bisa maksimal dengan tetap tidak mengurangi citra rasa ledre,” tutur pria yang pernah menjadi pimpinan PT Tripatra Engineers & Constructors.

Mas Teguh menegaskan, UMKM ledre yang menjadi camilan khas Bojonegoro ini harus terus didorong agar bisa berkembang. Untuk itu harus ada pembinaan dari pemerintah, terutama permodalan, kemudian pengemasan dan pemasaran.

Baca Juga :   Sinergi Daulat Budaya Nusantara dan Lesbumi, PBNU Sangat Mendukung

“Sehingga peningkatan kesejahteraan masyarakat perajin bisa lebih cepat tercapai. Ini perlu kolaborasi dari semua pihak,” tegasnya.

Anik, satu dari ratusan perajin ledre dari Kecamatan Purwosari yang masih bertahan sampai saat ini, mendukung rencana adanya peralatan yang dapat memproduksi ledre dalam jumlah banyak.

“Ini akan sangat membantu perajin ledre,” ucapnya saat berbincang-bincang dengan Mas Teguh.

Anik mengaku, setiap hari membuat ledre untuk dijual ke pengepul yang ada di Kecamatan Padangan. Dalam sehari Anik bisa memproduksi ledre sebanyak 50 bungkus. Setiap bungkusnya berisi 20 gulung ledre, dengan harga per bungkus Rp. 5.000.

“Selain peralatan, permodalan dan palatihan sangat dibutuhkan perajin ledre untuk mengembangkan usaha ini,” pungkas Anik.(red/adv)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *