SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari
Bojonegoro — Wilayah Provinsi Jawa Timur saat ini memasuki kekeringan ekstrem. Kondisi tersebut akibat tanpa turun hujan selama lebih dari 60 hari berturut-turut.
Wilayah yang terkena kekeringan ekstrem tersebut hampir merata di daerah yang dipimpin Gubernur Khofifah Indar Parawansa. Tak kecuali Kabupaten Bojonegoro, dan kabupaten sekitarnya.
“Sementara curah hujan di wilayah Jawa Timur pada Dasarian I Oktober 2026, secara umum nanti diprediksi berada dalam kriteria rendah,” kata Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro, Heru Wicaksi kepada Suarabanyuurip.com, Rabu (30/9/2026).
BMKG memprediksi curah hujan pada periode 1–10 Oktober 2026 berada dalam kriteria rendah. Peluang probabilistiknya lebih dari 90 persen.
Dalam upaya penanganan kekeringan, terutama untuk mengantisipasi kebutuhan air bersih masyarakat, BPBD masih terus melakukan droping ke desa-desa di kecamatan terdampak.
Ia juga mengimbau masyarakat masih tetap waspada dan tidak melakukan pembakaran sampah. Api dari pembakaran sampah dapat dengan mudah merembet, ketika kondisi lingkungan kering dan terdapat tiupan angin. Kebakaran yang awalnya berasal dari pembakaran sampah juga berpotensi meluas ke lahan maupun permukiman di sekitarnya.
Oleh karena itu masyarakat diminta lebih berhati-hati, dan memastikan tidak ada bara api yang masih menyala setelah melakukan aktivitas.
“Kondisi kekeringan juga dapat menyulitkan penanganan apabila terjadi kebakaran karena ketersediaan sumber air di sejumlah wilayah berpotensi terbatas,” pungkasnya.(fin)





