SuaraBanyuurip.com – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026-2031, KH. Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin meminta semua pihak untuk musahabah dan tidak mudah terprovokasi.
Permintaan itu disampaikan Gus Kikin menanggapi isu tak sedap hasil Muktamar ke 35 NU di Ponpes Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, tentang adanya money politic (politik uang), aliran dana, hingga intervensi pihak luar.
Menurut Gus Kikin, ada dua cara untuk menanggulangi gangguan NU dari dalam dan luar. Ia kemudian mengutip surah Al Falaq untuk mengusir gangguan dari luar dan surah An Nas untuk mengatasi gangguan dari internal.
“Di situ ada satu nama Allah. Kalau gangguan dari dalam, karena bisikan-bisikan, itu ada tiga, qul a‘ûdzu birabbin-nâs, malikin-nâs, dan ilâhin-nâs. Ada tiga nama Allah yang dipakai di situ,” tuturnya kepada suarabanyuurip.com saat menghadiri reuni keluarga di Desa Brabowan, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Minggu (4/10/2026).
Gus Kikin kemudian menjelaskan filosofi dari dua surah tersebut terkait tudingan-tudingan miring dalam pelaksanaan muktamar ke 35 NU.
“Makanya, kalau seseorang menunjuk itu jarinya satu ke sana dan tiga jarinya ke dirinya sendiri. Artinya apa, kita diminta musahabah, introspeksi. Itu nomor satu,” ujar pengasuh Ponpes Tebuireng itu.
Gus Kikin juga menyinggung sejumlah pihak menyalahkan hasil muktamar kemarin. Tanpa melakukan introspeksi diri.
“Biasa kita itu selalu menunjuk orang lain, padahal sebenarnya dirinya sendiri. Yang terpenting itu kita musahabah, introspeksi. Itu yang bisa membentingi diri kita. Tidak mudah nyalahin orang, dan tidak mudah terprovokasi,” beber pendiri PT Energi Mineral Langgeng (EML) yang bergerak dibidang minyak dan gas bumi (migas).
Pihaknya mengajak semua warga NU untuk bersatu. Melebur dalam rumah besar PBNU. Tidak terpecah belah agar tidak mudah dihasut dari luar maupun dalam.
“Islam itu tidak boleh terpecah-pecah. Harus bersatu. Kalau terpecah gampang dibisikin,” pungkasnya.(red)





