SuaraBanyuurip.com — Haris Setiyono, S.Tr.Kom., staf IT Universitas Bojonegoro (Unigoro) berhasil menjadi juara harapan ketiga dalam ajang Bojonegoro Innovative Award (BIA) 2026, Kamis (23/10/26). Prestasi ini berhasil diraih berkat inovasinya menciptakan OWLYTICS platform intelijen untuk menganalisa sentimen dari sosial media dan Google Review.
Haris mengatakan, telah dua kali berkompetisi di ajang BIA. Dia membutuhkan waktu untuk development OWLYTICS kurang lebih selama satu bulan. Namun untuk proses penerapan dan riset-risetnya sendiri berlangsung hingga enam bulan. Cara kerja OWLYTICS adalah menganalisa sentimen publik dari sosial media dan Google Review.
“Untuk yang Google Review itu nanti ngambil datanya dari Google Maps yang berkaitan dengan layanan publik seperti dinas, terus kemudian kayak layanan kesehatan, puskesmas, rumah sakit, seperti itu,” tuturnya.
Dia melanjutkan, OWLYTICS akan mengambil semua data komentar review Google Maps. Kemudian dianalisa dan diklasifikasikan berdasarkan sembilan aspek survei kepuasan masyarakat Peraturan Menteri PAN-RB Nomor 14 Tahun 2017. Di antaranya prosedur, waktu layanan, biaya, tarif, kompetensi petugas, perilaku, dan lain-lain.
“Jadi patokan (Google Review) bukan hanya rating, tapi penyelenggara pelayanan publik juga bisa mengetahui apakah layanan dari instansinya direspon positif? Atau kira-kira layanan apa yang masih negatif dari suara masyarakat,” terang Haris.
Pria asal Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Bojonegoro, itu mengungkapkan, bagian tersulit dalam mengembangkan OWLYTICS adalah menentukan akurasi. Haris harus menentukan model atau melatih sistem agar dapat mengklasifikasikan data dengan kategori yang sesuai dengan sembilan aspek survei kepuasan masyarakat.
“Nah, untuk melatih itu kita perlu melabeli manual, melatih komputer itu gimana caranya biar akurasinya tinggi,” ungkapnya.
Saat proses peninjauan lapangan, dewan juri mencoba aplikasinya secara langsung. Tanggapannya, aplikasi OWLYTICS selaras dengan upaya Pemkab Bojonegoro untuk meningkatkan kepuasan masyarakat terhadap lembaga pelayanan publik.
Namun, dewan juri juga menekankan agar aplikasi tersebut dapat menjangkau platform-platform lainnya.
“Contohnya TikTok, terus Facebook juga, karena OWLITICS sekarang hanya support di Instagram,” imbuh Haris.
Ke depannya, Haris ingin melakukan riset mendalam tentang algoritma untuk meningkatkan peforma aplikasi OWLYTICS. Mengingat seiring berjalannya waktu algoritma akan terus berkembang pemanfaatannya. Di satu sisi, dia juga ingin mendapatkan perspektif lain.
“Jadi harapannya bisa mendapatkan insight lain dari sebuah data. Entah itu nanti apakah model prediksi atau sebuah insight yang bisa dimanfaatkan untuk mengambil keputusan kebijakan di tingkat daerah,” tukasnya.(red)





