SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari
Bojonegoro — Kabar baik datang untuk Bojonegoro. Geopark Bojonegoro direkomendasikan diterima atau ACCEPT sebagai UNESCO Global Geopark (UGGp). Rekomendasi tersebut mengemuka setelah Sidang Council UNESCO Global Geoparks yang diikuti secara daring.
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Bojonegoro (Unigoro), Dr. Laily Agustina Rahmawati, yang mengikuti sidang tersebut secara daring, mengungkapkan hasil evaluasi Geopark Bojonegoro mendapat lampu hijau untuk diterima.
“Rekomendasi evaluator adalah ACCEPT. Keputusan penetapan resmi tetap mengikuti mekanisme council UNESCO,” katanya kepada Suarabanyuurip.com, Selasa (3/11/2026).
Peneliti yang juga Tenaga Ahli Badan Pengelola Geopark Bojonegoro ini menjelaskan, Geopark Bojonegoro memiliki luas 2.313 kilometer persegi, mencakup 28 kecamatan dan 430 desa di tiga zona fisiografi Rembang, Randublatung, dan Kendeng.
Bojonegoro dipandang istimewa di mata dunia karena memiliki sistem perminyakan unik di daratan. Di Bojonegoro, orang bisa melihat langsung di lapangan bagaimana batuan sumber, reservoir, hingga perangkap minyak terbentuk. Belum lagi fenomena rembesan minyak yang menyala alami, sumur tradisional Wonocolo, dan fosil vertebrata Pleistosen.
“Dari 20 situs geologi yang diajukan, enam di antaranya punya nilai penting tingkat internasional,” ujar Laily, sapaan akrabnya.
Dia menambahkan, evaluator melihat tiga kekuatan utama Bojonegoro. Pertama, nilai geologinya memang kelas internasional. Kedua, dari sisi visibilitas sudah siap, mulai dari rambu jalan, panel informasi, museum, sampai program edukasi. Ketiga, tata kelolanya kuat karena didukung pemerintah hingga manfaat ekonomi yang sudah dirasakan warga lewat homestay dan produk lokal.
Untuk pengembangan selanjutnya, evaluator memberikan lima rekomendasi, mulai dari pemerataan geosite di wilayah timur, penambahan penanda geopark di pintu masuk kabupaten, perluasan program School to Geopark, penyederhanaan bahasa di panel informasi, hingga penguatan jejaring internasional.
Dengan rekomendasi ACCEPT ini, Bojonegoro, kata Lailya, dinilai telah memiliki tiga fondasi utama geopark dunia: warisan geologi kelas dunia, tata kelola berkelanjutan, dan manfaat nyata bagi masyarakat.
Alumnus SMA Negeri 1 Bojonegoro ini menuturkan, nasib Geopark Bojonegoro ditentukan di Paris. Geopark Bojonegoro masuk dalam daftar evaluasi pada Sidang ke-11 Dewan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization Global Geopark, yang digelar di Markas Besar United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) di Paris, Prancis, pada 2 sampai 4 November 2026.
Evaluasi untuk Geopark Bojonegoro dijadwalkan pada Senin, 2 November 2026, pukul 11.00 waktu Paris. Bojonegoro berada di urutan kedua dari 13 geopark baru yang dievaluasi, setelah Aral dari Kazakhstan dan sebelum Ranah Minang Silokek dari Indonesia.
“Kami mengikuti sidang tersebut secara daring melalui Zoom sebagai observer,” tutur Laily usai mengikuti sidang dari Gedung Pemkab Bojonegoro.
Dewan yang menilai terdiri dari 12 anggota voting dari berbagai negara dan empat anggota non-voting dari perwakilan UNESCO, International Union for Conservation of Nature (IUCN), International Union of Geological Sciences (IUGS), dan Global Geoparks Network (GGN).
Dewan dengan hak suara antara lain Jose Maria Barrera, Ahmed El Barkooky, Suzana Fajmut Strucl, Sarah Gamble, Agness Gidna, Patricia Herrera Pintor, Sophie Justice, Soo Jae Lee, Kirstin Lemon, Setsuya Nakada, Allyson Pinheiro, dan Jianping Zhang.
Sementara untuk perwakilan UNESCO diwakili Kristof Vandenberghe selaku Kepala Seksi Ilmu Kebumian dan Geopark.
Dalam sidang itu, Geopark Bojonegoro yang seluas 2.313 kilometer persegi direkomendasikan diterima atau ACCEPT. Rekomendasi ini menjadi modal utama Bojonegoro untuk ditetapkan sebagai bagian dari jaringan UNESCO Global Geopark (UGGp) atau Jaringan Geopark Dunia.
“Hasil akhir penetapan akan diumumkan setelah seluruh rangkaian sidang dewan selesai,” pungkas Laily.(fin)





