SuaraBanyuurip.com – Edy Purnomo
Tuban – Nasib petani sepertinya selalu pada posisi tidak mujur. Kali ini petani cabe terpaksa gigit jari lantaran harga yang terjun bebas menjelang masa panen.
Tidak seperti sebelumnya, harga cabe di pasaran tembus senilai Rp50 hingga Rp60 ribu per kilogramnya. Saat ini petani hanya dapat menjual hasil panennya dengan harga tak lebih dari Rp7 ribu per kilogram.
Bahkan untuk harga cabe rawit sekarang hanya sampai pada harga Rp3 ribu per kilogram. Harga sebelumnya cabe pedas ini mencapai Rp23 ribu per kilogram pada bulan lalu.
Hal ini diduga merupakan permainan dari tengkulak. Di mana mereka kerap membeli hasil panen secara langsung kepada petani. Tentunya dengan harga yang sangat jauh dari pasaran.
“Harga jauh sekali turunnya, tidak seperti bulan kemarin. Ketika kita belum panen,†jelas Jali (49), petani asal Desa Jarorejo, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, Senin (2/5/2014).
Sebenarnya petani sudah menduga anjloknya harga akan terjadi. Menurut mereka hal ini sudah biasa, karena memang harga panen melimpah. Mereka pun sulit mendapatkan harga yang layak. Sehingga lebih memilih untuk menjual hasil panen mereka kepada para tengkulak yang mendatanginya.
“Mau menjual ke pasar juga tidak mungkin, petani terlalu repot,†kata Atok (30), salah satu petani cabe di Kecamatan Semanding, Tuban.
Petani mengatakan, kalau harga jual cabai masih belum menutup ongkos perawatan, dan juga tenaga yang dikeluarkan. Hal inilah yang menjadikan mereka enggan untuk mengambil tenaga pemetikan. Mereka memetik dengan tenaga sendiri karena tidak mau terlalu banyak merugi.
Sementara itu, harga cabe yang ada di pasaran saat ini juga mengalami penurunan drastis. Para pedagang yang ada di pasar tradisional mengatakan kalau harga cabe sekarang adalah Rp5 ribu per kilogramnya. Penurunan terjadi sejak dua bulan terakhir.
“kalau sekarng lima ribu per kilogram,†jelas Indah Warni, salah satu pedagang asal Desa Sekardadi, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban.(edp)





